Showing posts with label Lugina W. G.. Show all posts

Jukebox Party!



    • Syukur tiada terkira kita akhirnya telah melewati satu putaran arisan dan masih bersemangat meneruskan ke putaran berikutnya. Semoga kita bisa terus menjaga semangat ini, semangat untuk terus mempertajam pena. Aamiin.

      Kali ini, tema arisan kita adalah Jukebox Party! Kenapa Jukebox? Karena kita akan memutarkan lagu-lagu pilihan kita setiap minggunya. Lagu pilihan kita sendiri, yang kita sukai, atau malah yang kita benci karena mengingatkan pada kenangan buruk (matinya kucing kesayangan, misalnya #eh), intinya lagu-lagu yang memiliki arti khusus untuk kita, a song you can personally relate to.

      Ibarat jukebox juga, sebelum diputar kita harus masukin koin dulu. Bedanya, di sini kita harus ngocok arisan dulu, nama siapakah yang keluar untuk memutarkan lagu berikutnya? :p Nah, kita juga tak akan tahu siapa yang akan membawakan lagu kita. Kita yang memilih lagunya, namun kocokan arisanlah yang memilih orang yang akan membawakannya.

      Biar nggak bingung, langsung aja disimak aturan mainnya, yah. :D

      1. Arisan ini adalah arisan cerita pendek, dengan panjang cerita bebas (asal jangan kurang dari 400 karakter dan lebih dari 2000 karakter, eh...itu nggak bebas dink ya? >.<)

      2. Cerita pendek akan dirilis sebanyak dua buah setiap minggunya, yakni setiap hari Minggu di blog kita tercinta ini.

      3. Dua cerita pendek tersebut ditulis oleh dua orang peserta arisan yang namanya keluar pada hari minggu sebelum cerita dirilis. Jadi, setiap cerita punya waktu seminggu untuk ditulis.

      4. Rilis dua cerpen pertama akan dilakukan pada hari Minggu, tanggal 17 Mei 2015.

      5. Dua orang penulis cerpen pertama telah dipilih satu minggu sebelumnya (10 Mei 2015)--dan sekarang mereka mungkin sedang tenggelam di dunia imajinasi. ;p

      6. Khusus untuk dua cerpen pertama, penulis memilih sendiri lagu yang akan mereka jadikan inspirasi untuk menulis cerpen.

      7. Untuk minggu-minggu berikutnya, kedua orang penulis yang karyanya dirilis hari Minggu itu harus memilih masing-masing satu lagu untuk dibawakan oleh penulis berikutnya.

      - Jadi, misalnya pada tanggal 10 Mei nama yang keluar adalah Amat dan Cimot, maka mereka akan memilih satu lagu yang mereka suka untuk dijadikan cerpen yang rilis tanggal 17 Mei.
      - Lalu, pada tanggal 17 Mei mereka akan memilih masing-masing satu lagu (jadi total ada dua, satu dari Amat lagu Balonku dan satu dari Cimot lagu Bengawan Solo, Misalnya) untuk dibawakan oleh penulis berikutnya.
      - Penulis berikutnya akan dipilih lewat metode kocok arisan undian pada tanggal 17 Mei pula.
      - Misalkan, yang terpilih berikutnya adalah Belo dan Dodo, maka Belo dan Dodo menuliskan cerpen untuk tanggal 24 Mei dengan sumber inspirasi dari lagu yang dipilihkan Amat dan Cimot.
      - Belo dan Dodo bebas menyepakati siapa yang akan menulis berdasarkan lagu Balonku dan siapa yang berdasarkan lagu Bengawan Solo.
      - Pada tanggal 24 Mei, Belo dan Dodo akan rilis cerpen, sekaligus memilih satu lagu kesukaan mereka untuk dibawakan oleh penulis berikutnya yang diundi pada hari itu juga. Begitulah seterusnya.

      8. Setelah satu putaran selesai, seperti biasa kita akan adakan polling dan penjurian. Akan dipilih dua orang pemenang, satu untuk kategori pilihan juri, dan satu untuk kategori polling pembaca.

      Ada hadiahnya, nggak? Tentu saja! Untuk kali ini, pemenang kategori pilihan juri akan mendapatkan paket buku sebanyak tiga buku, dan pemenang polling akan mendapatkan satu  buah buku. :D

      Oke, segini dulu aja tentang aturan main arisan kita kali ini. Sampai jumpa! :)


    • Posted by siska
    • 2 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Polling Cerpen Episode II

    • Alhamdulillah, satu putaran arisan cerpen telah terlewati. Di akhir putaran ini kami kembali mengadakan polling, salah satunya sebagai sarana evaluasi bagi tulisan kami yang tentu masih banyak kekurangannya. Harapan kami, pembaca yang berkunjung ke blog ini berkenan memberikan tanggapan, baik dengan memberikan komentar/kritik/saran pada cerpen yang bersangkutan, maupun berpartisipasi dalam polling yang kami sediakan.

      Cara mengikuti polling cukup dengan meluncur ke widget di bagian kanan blog ini, dan memilih salah satu cerpen di bawah ini yang disukai:

      1. Panggil Saja Aku Laki-laki

      2. Wasiat Lazarus

      3. Deja Vu dalam Hujan

      4. Kaca yang Berdebu

      5. Mekarnya Bunga Youtan Poluo

      6. Amorette

      Demikian pengantar dari kami, selamat membaca dan terima kasih untuk partisipasinya!  :)


      Salam hangat,

      #KF11
    • Posted by siska
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Burung Hantu Berwajah Biru

    • The Owl - William James Webbe (1853-1878)

      Ita dan Ochi bertengkar di ruang belakang. Pasalnya, gambar kapal selam Ochi lebih mirip lumba-lumba daripada kapal.
      “Iiih, jelek banget! Masa warnanya kuning gonjreng gitu?? Hiiiii…. Itu lumba-lumba atau…pisang?! Ahahahaah…!” Ita terpingkal-pingkal, tak peduli pada Ochi yang manyun pura-pura sibuk mengecat badan kapal.
      “Biarin! Punya Kak Ita apa lagi! Itu sih mobil, bukan kapal selam! Kalo kelelep orangnya bisa basah semua!”
      “Eh, tapi, kapal selam aku tuh ada rodanya! Nanti kalau sampai dasar laut dia bisa disetir kayak mobil! Kapal selam kamu apa? Kayak pisang! Ahahahaha!”
      “Kak Ita nyebelin!” Ochi menyambar palet, melihat cat coklat yang masih banyak, lalu mencelupkan kuas. “Nih! Kalo mobil jangan di laut, di tanah aja!”

      Sret…sret…!

      Dicoretnya gambar Ita dengan cat coklat.
      “Ochiiiii…!” pekik Ita kesal.

      Krieet…. 

      Pintu ruang belakang terbuka. Ada Ibu melongok dari celah pintu.
      “Masya Allah, kenapa berantakan begini…,” ujarnya setengah mengernyit, ia melangkah masuk sambil berdecak. Entah kagum, entah heran.
      “Ibuuu… Ochi nyebelin, gambar Ita dirusak,” Ita langsung mengadu, suaranya dibuat amat memelas.
      Ibu tak peduli, malah melongok rak kuas dan cat. Lalu beralih pada lantai yang dipenuhi tabung-tabung berserakan. Dua palet dipenuhi cat bermacam warna. Kuas-kuas malang melintang di atasnya.
      “Kalian pakai cat akrilik Bapak?”
      “Ini kan buat lomba, Bu. Memang harus di kanvas, masa pakai cat air?” Ochi mengelak.
      “Lho, lomba melukis kan dikumpul minggu depan? Yang buat besok kan PR matematika?” selidik Ibu.
      Ochi cuma nyengir. Ita pura-pura sibuk memandangi lukisan-lukisan Bapak yang tergantung memenuhi dinding.
      “Ochi udah ngerjain PR kok, tinggal nomor satu, tiga, sama lima!”
      “Itu sih kamu baru ngerjain dua!” Ita menyambar.
      “Ya sudah, cepat beresin catnya, kuasnya cuci… lantai juga, tuh, belepotan. Habis itu belajar matematika, ya.”
      “Iyaaa…,” jawab Ochi malas-malasan. Ia menggeser duduknya, bersandar di dinding dekat lukisan.
      “Cepat, ya, beres-beresnya. Nanti jam empat ada tamu mau datang,” pungkas Ibu sambil keluar menutup pintu.

      ***

      “Pokoknya aku nggak mau beres-beres, lukisan aku rusak gara-gara kamu! Kamu aja beres-beres sendiri!” Ita merengut sambil melapisi goresan coklat di lautnya dengan warna biru dari tabung paling besar yang masih penuh.
      “Kan Kak Ita yang mulai,” ujar Ochi kesal. “Ayo, dong, Kak, beresin dulu. Nanti Bapak malu ruang lukisnya berantakan.”
      “Gak mau. Kamu aja sana, kan kamu ada PR.”
      “Nanti dimarahi Ibu!”
      “Kan salah kamu.”
      “Kak Ita nyebelin!” Ochi menarik kanvas Ita kuat-kuat.
      “Ochiii! Kamu ngeselin banget, sih! Nih, aku juga bisa…” Giliran Ita menyambar palet, kuasnya menggores sesuka hati di kapal pisang Ochi…
      “Kak Itaaa!”
      …di lengan dan pipi Ochi…
      “Aduuuuh! Nyebelin!” Ochi menghindar kalang kabut.
       …dan di lukisan burung hantu Bapak.
      Lalu, mereka diam.
      “Ini kan…”
      “…lukisan yang mau dijual hari ini.”

      ***

      Ita dan Ochi saling tatap, lantas melirik takut-takut pada lukisan. Berharap tak bertemu pandang dengan mata bulat burung hantu. Tapi, mata si burung ternyata terpejam, kelihatan bagai sungguhan. Pandai sekali Bapak melukisnya.
      “Gimana dong, Kak?”
      “Burung hantunya putih, Chi,” keluh Ita sambil meringis. “Sekarang jadi biru.”
      Ochi terdiam, mengamat-amati burung hantu yang belepotan. “Kakak coret burungnya sampai ke muka, hampir aja kena mata, hidungnya juga ketutup semua….” Ia mendelik pada Ita. “Mana sekarang hampir jam tiga, satu jam lagi tamunya datang lho, Kak.”
      “Kamu bisanya nyalahin orang aja! Lagian itu tuh bukan hidung, tapi paruh!” ujar Ita jengkel. “Udah deh, sekarang kita bagi tugas. Aku yang beres-beres, biar Ibu nggak marah. Kamu yang cari Bapak, minta maaf, siapa tahu lukisannya masih bisa dibenerin,” katanya sambil beranjak, memunguti tabung cat yang bertebaran.
      “Kok jadi aku yang minta maaf?” Ochi bengong.
      “Ih, bawel! Terus kamu maunya gimana?”
      “Kakak dong yang minta maaf!”
      Ita berpikir sejenak. “Hmm, atau…kita benerin aja lukisannya!”
      “Dicat ulang?” tanya Ochi ragu-ragu.
      “Iya! Kita cat ulang pakai warna putih! Beres kan?”
      Ochi sedikit berdebar-debar. Usul Ita terdengar menyenangkan. Tapi, memangnya mereka bisa? Kalau tambah rusak bagaimana?
      “Ayo, cepat!” desak Ita sambil mengambil kuas bersih.
      Ochi buru-buru mengambil cat akrilik dari tabung kecil, menuang ke palet, lalu menyodorkan pada Ita.
      “Tapi, Kak, wajah si burung ada garis-garis coklat sama abu-abunya, lho….” Ochi masih ragu-ragu melihat tangan Ita bersiap mengoleskan cat putih.
      “Itu ditambah nanti aja! Yang penting warna birunya ditutup dulu!” bantah Ita.
      Ochi manyun sendiri. Ia memegangi palet sambil merengut, matanya diam-diam memperhatikan kuas yang gemetar di tangan Ita.
      “Bentar, bentar!” seru Ochi tiba-tiba.
      “Apaan lagi?”
      “Kayaknya Ochi pernah lihat lukisan ini, tapi di mana, ya….”
      “Maksudnya, ada dua?”
      “Nggak sih, kayaknya bukan….” Dahi Ochi berkerut-kerut, berpikir keras. “Oooh…iya!”
      Ochi menaruh palet lalu berlari ke meja di sudut ruangan, ada printer bertengger di atasnya, dan ada tumpukan kertas-kertas di sebelahnya. Cepat-cepat ia teliti helai demi helai kertas itu, sampai matanya menemukan sesuatu.
      “Nah! Ini dia!” Dibawanya kertas itu pada Ita. Gambar burung hantu yang persis sama! Rupanya Bapak melukis burung dari foto itu.
      Ita jadi semangat. Ada gambar untuk diconteknya. Dengan yakin digoreskannya cat putih di atas cat biru. Lalu, mereka berdua terpaku. Saling pandang.
      “Kok…gini, Chi?” Ita mendadak pucat.
      Mereka terkejut melihat wajah burung yang meleleh berwarna biru. Kuasnya malah meratakan cat itu ke bagian lain.
      “Kok masih basah, Kak?” Ochi mengernyit, menyentuh cat biru dengan telunjuk. Warnanya menempel di ujung jari.
      “Cat biru yang Kak Ita ambil tadi…cat minyak?” Ia tengadah, menatap Ita.
      Ita menggeleng bingung, melirik tabung besar berisi cat biru, lalu meraihnya ragu-ragu. Tertulis di sana: cerulean blue, oil paint.
      Hati mereka berdua mencelos sampai ke lutut. Kalau saja cat biru ini akrilik, yang cepat kering dan bisa ditimpa ulang dengan cat lain, tak akan runyam urusannya. Ita dan Ochi tahu, cat minyak yang dipakai Bapak biasanya tak akan kering sampai berhari-hari. Dan sekarang cat biru basah itu tambah belepotan dengan akrilik putih yang tak tercampur sempurna. Wajah si burung lebam-lebam mirip hantu pocong di sinetron.
      Mereka terdiam, beradu pandang dengan alis tertekuk dan dahi berkerut. Cuma ada detak jam kecil di atas meja yang berbunyi. Tik...tik...tik.... Satu detik, dua detik, sepuluh detik…

      Krieeett….

      Mereka berdua terlonjak, menatap pintu yang perlahan terbuka. Hanya sedikit. Lalu daun pintu kembali menutup lagi. Mungkin angin?

      Krieeettt.…

      Mereka menahan napas. Celah pintu terbuka lagi, tak ada wajah Ibu yang biasa tersembul di sana. Siapa yang membuka pintu? Ruang tengah tampak gelap terlihat dari sini. Di luar mungkin sedang mendung.
      Ita duduk tegang memegang kuas. Ochi di sebelahnya mengelus lengan yang terasa meremang. Ada sesuatu yang bergeser halus di kulit lengannya, seperti ujung-ujung bulu seekor kucing yang menyentuhnya samar-samar.
      Ochi menepisnya sambil menoleh takut-takut, di sebelahnya, tampak sebentuk wajah kecil mirip topeng batman yang hitam separuh.
      “Si Oben!” seru Ochi sambil menghela nafas lega. Phiuh. Kucing Bapak yang berbulu hitam putih itu menggesek-gesekkan kepala ke lengan Ochi. Perutnya yang putih tampak menggembung, berarti dia sudah makan. Paling-paling ke sini mau tidur. Ochi membiarkannya meringkuk di atas keset.
      Lain halnya dengan Ita. Matanya membelalak, tangannya terulur, lalu menjinjing Oben dari tengkuknya
      Meooong…” protes Oben.
      “Pegangin, Chi!” Ita menjejalkan Oben ke pangkuan Ochi, sementara ia mengambil palet, lalu menidurkan lukisan burung hantu di lantai.
      “Angkat tangannya, Chi!”
      Ochi mengangkat tangan kirinya yang tak mendekap Oben.
      “Tangan Oben, bukan tangan kamuuu!”
      “Oh. Mau diapain, Kak?” Dijulurkannya tangan Oben yang mulai meronta.
      Lalu, Ita mulai memoleskan cat biru pada telapak tangan Oben.
      “Kak Itaaa!” teriak Ochi sambil mengelak, membawa Oben menjauh. “Oben mau diapain?!”

      ***

      Bapak berdiri di pintu, tangan di pinggang, mata menatap pada ruangan yang sudah rapi dan wangi, senyumnya terkembang. Di ruang tengah sana, jam dinding berdentang lima kali.
      “Kok, masih pada di sini?” tanyanya sambil mendekati Ochi dan Ita yang duduk bersandar di dinding. Si Oben mendengkur pelan di pangkuan Ochi.
      Ochi tengadah pelan, mencari bibit kemarahan di wajah Bapak. Sepertinya aman.
      “Pak, kalau lukisannya nggak jadi dijual, gimana?” tanya Ochi takut-takut.
      “Lho, kenapa harus nggak jadi? Kan pembelinya sudah bayar,” Bapak berjongkok di sebelah Ochi, ikut mengelus Oben yang tertidur.
      Tangan Ochi terasa berkeringat, ia tambah cemas. Diliriknya Ita yang pura-pura menggambar di lantai dengan ujung jari. Ochi menyikutnya. Ita menghela napas, lalu pasang muka merengut sambil bergumam. Matanya tetap menunduk ke lantai.
      “Lukisannya…rusak…”
      Bapak menoleh pada Ita.
      “Itu…mm…Oben tadi—”
      “—bukan Oben!” tukas Ochi cepat. “Lukisannya kecoret waktu Ochi sama Kak Ita bertengkar! Ochi minta maaf!” Sekejap kemudian ia menunduk, membelai Oben. Ita mematung di sebelahnya.
      Bapak masih terdiam, ia bangkit dan berjalan ke arah lukisan yang kini bersandar dekat meja printer. Tak diduga, Bapak tertawa kecil.
       “Betul, bukan Oben?” tanyanya menyelidik.
      Ochi menggeleng kuat-kuat, ia menatap Oben yang tangannya biru sebelah. Lalu merasa malu sekali. Pipinya terasa panas.
      “Ita, bukan Oben yang merusak lukisan?” tanya Bapak lagi, dijawab dengan
      gelengan pelan dari Ita.
      “Syukurlah kalau begitu.” Bapak terdengar lega. “Kalau Oben yang merusak, susah mengajarinya untuk memperbaiki lukisan,” lanjutnya sedikit menahan tawa.
      Ochi agak lega melihat Bapak tak marah. “Tapi…tamunya gimana, Pak?” tanyanya masih cemas.
      “Ya, nggak gimana-gimana. Tamunya sudah pulang,” jawab bapak sambil menilik-nilik wajah si burung.
      “Nggak jadi beli?”
      “Jadi, lukisannya sudah dikirim dari kemarin, kok.”
      “Lho, bukan yang ini?”
      Bapak tertawa lagi, diambilnya sehelai kertas foto dari samping printer, “Bukan, yang dijual hari ini lukisan burung hantu yang lain,” katanya sambil menunjukkan si burung dalam foto yang berbeda, mata bulatnya melotot menatap mereka.
      Oh, ternyata.... Pfiuhh.... Ita dan Ochi menghembuskan nafas lega.
      “Yah… tapi, coba tadi kalian nggak buru-buru ngecat ulang pakai akrilik. Menghapus cat minyak masih basah itu kan mudah, tinggal dilap saja pakai kain lembab,” ujar Bapak santai sambil berlalu menuju pintu.
      Ita dan Ochi berpandangan, lalu meringis.
      Yaah, kenapa nggak kepikir dari tadi!
    • Posted by siska
    • 8 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Tentang Sepuluh Buku

    • Akhir-akhir ini, kadang saya terngiang petikan dari Oscar Wilde. Katanya, I am too fond of reading books to care to write them. Bahkan sekelas Oscar Wilde yang tulisan-tulisannya terkenal, mengaku malas nulis karena terlalu suka membaca? Padahal Pak Oscar ini tulisannya banyak lho, kayak gitu kok dia bilang malas nulis, ya?

      Tapi, yang pasti sih, Pak Oscar ini gemar membaca (err...sok kenal banget), dan mudah-mudahan kita semua juga ketularan kerennya. Nah, nah, sehubungan dengan itu, kayaknya asik juga kalau kita share buku-buku favorit kita di blog ini. Buat rekomendasi bahan bacaan atau sekadar bahan pertimbangan pas mau beli buku, misalnya. Berhubung para kuncen blog juga udah mengijinkan, maka akan saya mulai dengan buku-buku favorit saya yah, :D #narsis

      Nanti yang lain share juga yaaah... :D

      Baiklah, ini dia sepuluh buku favorit saya selama dua puluh ******* tahun terakhir. (umurnya kena sensor) :p

      1. Antoine The Saint Exupery - The Little Prince (1940)
      Ini adalah buku yang saya baca sewaktu kelas 1 SD dan sampai sekarang masih meninggalkan kesan yang kuat. Ceritanya memang penuh metafora, tapi sederhana dan mudah dimengerti bahkan oleh anak-anak. Analoginya menarik dan timeless, dibaca dulu maupun sekarang tetap relevan. Intinya, dia menghibur, ringan, tapi tetap menyisakan perenungan. #tsah


      2. Harper Lee - To Kill a Mockingbird
      Ini adalah buku yang timeless juga, pertama kali dipublikasikan tahun 1964 kalo nggak salah, dan sampai sekarang masih sangat enak untuk dilahap. Penulisnya, Harper Lee, cuma nulis satu novel ini sepanjang hidupnya, tapi langsung melegenda. Ceritanya bertema kemanusiaan, tentang seorang pengacara yang memperjuangkan nasib seorang terpidana berkulit hitam, sayangnya saat itu orang-orang kulit hitam biasanya dihukum tanpa mendapat pembelaan yang layak, jadi pengacara itu dikucilkan termasuk keluarganya. Nah, yang unik, cerita ini ditulis dari sudut pandang anak si pengacara. Worth reading banget pokoknyah.


      3. George Orwell - 1984 (1948)
      Susah mau ngasih tinjauan tentang buku ini, terlalu sering dibahas dan didiskusikan sama orang2 yang lebih berpengalaman, jadi agak minder mau ngasih komentar. Intinya, buku ini fiksi yang ditulis tahun 1948 yang berisi prediksi penulisnya tentang apa yang terjadi di tahun 1984. Dia membayangkan suatu rezime totalitarianisme yang sangat ketat dan memutar balik logika. Rezim itu menggunakan berbagai media untuk mengendalikan pikiran rakyatnya, dan tiap kali saya nonton tivi sekarang ini--beneran deh--saya selalu keinget buku ini. Makanya, biar nggak terpengaruh isu politik yang direkayasa, mending baca buku ini, dijamin seru deh. :p


      4. Aldous Huxley - Brave New World
      Buku ini bisa dibilang kebalikannya novel 1984, dia membayangkan rezim totalitarianisme, di mana semua orang diperbudak kesenangan. Ini juga keren banget. Words fail me to describe it... mending baca sendiri yah.... XD


      5. Carl Sagan - Contact (1999)
      Ini adalah novel yang memadukan sains dan pertanyaan yang sangat esensial tentang kepercayaan pada Pencipta. Tema besarnya sih itu, tapi penggarapannya ringan, enak dibaca, nggak bosen dibaca berkali-kali. :D


      6. Ursula K. Leguin - Wizard of Earthsea (1968)
      Penggemar Harry Potter mungkin akan suka juga dengan buku ini. Lebih jadul memang, tapi sama serunya, sama muatan moralnya, pengarangnya juga sama piawainya menciptakan dunia sihir with conviction kayak J.K. Rowling. Ini recommended buat Refa dan Ocha. #eh XD


      7. Robert M. Pirsig - Zen and The Art of Motorcycle Maintenance (1974)
      Ini buku fiksi yang bacanya harus sabar. Teorinya banyak >.<. Tapi begitu selesai baca, akhirnya kita menemukan suatu cara pandang baru terhadap pemisahan antara rasional dan irrasional. Plotnya sederhana, seorang Ayah mengajak serta anaknya menempuh perjalanan dalam sepeda motor untuk menemukan dirinya yang pernah hilang dan menaklukkan hantu dari masa lalu. #haish


      8. Oscar Wilde - The Picture of Dorian Gray (1890)
      Ini juga buku legendaris yang menurut saya keren. Plotnya mungkin terkesan kayak cerita misteri, tapi menurut saya ini lebih ke arah sindiran moral. Dialog-dialognya cerdas, menguliti kemunafikan manusia. Keren banget deh pokoknya.


      9. Oscar Wilde - The Importance of Being Earnest
      Ini sebetulnya naskah drama, tapi cuma baca naskahnya aja saya bisa ngakak-ngakak. Lucu, witty, ringan, tapi sindiran-sindirannya kena banget. Buku ini bisa didownload gratis di gutenberg ebook project. Dan nggak usah khawatir, karena copyright-nya udah expired dan udah jadi public domain, jadi insya Allah halal. :p


      10. The Kite Runner - Khaleed Khoseini
      Kalau ini sih.... pasti udah pada nonton filmnya yah. Atau mungkin juga baca bukunya. Ini termasuk buku baru, terbitnya tahun 2000 ke atas kayaknya. Ini tentang seseorang yang menghabiskan kecil di Afghanistan, dan ketika pecah perang ia sudah aman di Amerika, kenangan-kenangan dan rasa bersalahnya ketika menghabiskan masa kecil sebagai salah satu orang kaya di Afghan membawa dia untuk pulang ke Afghan untuk menebus satu kesalahan itu.

    • Posted by siska
    • 8 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Lugina W. G.

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -