Showing posts with label Puisi. Show all posts
AKU INI APA
Aku ini apaMakhluk kecil dunguLebih dungu dari kerbauAku ini apaBersama kumpulan wewangian mekarNamun aku di dasar, anyirAku ini apaTak mampu berjalanpun terbangSengatan, lengkingan, ejekanKerap menyergapAku ini apaSepi dan sunyi-pun enggan berkawanBiarlahDiri melepuh lebur lenyapTerbawa angin kalapAgar aku tahuAku ini apa---Panjang Wetan, 18 Maret 2015- Posted by Zilian Zahra
- 0 Comments
- Tag : Puisi Zilian Zahra
- Readmore . . .
- Add Comment
RINDU

Source from Internet
Aku tulis sebuah surat padamuAku bawa dalam badai semalamAku sambangi rumah-rumah pengasuhanPintu jati hiaju, rapat beku.Aku ketuk daun jendela seberang jalanAku tanyakan lentera pembaringanDan.... saat kusinggahi pelataran dedaunan willow,Ku temukan kau, telanjangi tumpukkan kertas bergambar kerinduan.Jogja, 23 Maret 2011/2013Dhanica Rhaina- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Dhanica Rhaina Puisi
- Readmore . . .
- Add Comment
SITI NURBAYA
- “Dan pada sujud-sujud yang terkulai…Oleh aroma basah sajadahDari butiran embun mata.”Duh… Nurbaya,Tangismu tengah mengintai malamSedang di pembaringanmu,Hasrat tradisi melumat bayangan.Tirai sutra yang kau kemul di klambu dada,Mengisyaratkan lelehan bara di sana.Ooh… Nurbaya,Gadis yang dipasung darma dan kasta!Kala bapa titahkan pingitanPadaragamu yang meronta,Tak gentar jiwamu merangga soleh cinta.“Kutukkan di mahkotakan pada tulan gpunggungmu...,Hingga sesenggukkan udara, menyumbat tulang rusukmu.”Wahai… Nurbaya,Gadis yang dipasung kegelisahan….Bibirmu mencerca wajah di balik kaca,Sedang hatimu menikah dengan parabala.Duhai… Nurbaya,Gadis yang dikutuk pasung zaman!Kini kautanggalkan sutra dadaPada bibir lacut yang mencumbu karma.Kaubiarkan ia menjilati mahkota di tulang sumsummu,Hingga jeritan kalbu menderit,Memekakkan telinga para punggawa pembawa bala.Ooohhh…. Nurbaya,Gadis yang dipasung karma bapa!Kelacutanmu meracuni ulu hati kaum hawa.Dengan gincu merekah basah di atas sajadah,Kaukafani jiwamuDengan seroja yang bangkit oleh kenangan.Duh…Nurbaya,Gadis yang dipasung kepurbaan!Jiwamu kini manunggal,Sedang tubuhmu diam dalam kesenang jiwa-jiwa yang lepasMenyatu pada dinding waktuHingga musim tak kuasa merenggut keteguhanmu.“ Sebab, sepanjang tilas kaki yang kausisakan telah merenggukmu pada kepedihan, dan mengajarkan kehidupan!”
September 2013/Maret 2014Dhanica Rhaina - Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Dhanica Rhaina Puisi
- Readmore . . .
- Add Comment
PADA GERIMIS
- Seperti peluh bapak yang membajak sawahAtaukah, air mata ibu kala ia siarkan dalam doa-doa?Gerimis jatuh pada tanah basah,Membiarkan anak-anak yang berkecimpung menawarkan dahagaSeperti kumbang yang menghisap sari bunga.Dan, gerimis jatuh pada tanah basahDi sana….Di antara ibu dan bapak yang tengah berkeluh mencari upah.
#BuatibubapaktercintaSleman, 22 juli 2013Dhanica Rhaina - Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Dhanica Rhaina Puisi
- Readmore . . .
- Add Comment
Fatamorgana
- Perihal senyum;
kata lelawa, "Air mata terlampau ranum."Risalah tawa;
konon kata-kata bual semata.Tentang fajar dan secarik senja;serupa padang-gersang beranak sabana.Apalagi cinta;almanak lama. Fatamorgana.Kau berkata tentang beberapa menjadi satu,kendati milikmu tetap milikmu.
Kau berjanji satu demi bersama.Niscaya embun menjelma cakrawalaKarya: AwalKutoarjo, 1 Maret 2015 - Posted by Jj
- 2 Comments
- Tag : Muhammad Awaluddin Puisi
- Readmore . . .
- Add Comment


