Apr 27, 2015

Wasiat Lazarus

WASIAT LAZARUS
 oleh: karasuhibari
.
.
.
                Ini bukan ingatanku, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas, seakan aku sendiri yang berada di sana. Ini adalah ingatan "kami". Hamparan warna biru bagai lapis lazuli, kilat keperakan dari tubuh-tubuh bersisik yang bergerak cepat dan seirama, para ganggang yang melambai perlahan sambil menyapa. Semua terbentang di sana, ketika waktu masih menjadi sesuatu yang statis bagi “kami”… 

Ah, bukan di sana. Tapi di sini, terjadi di masa lampau, jadi mungkin boleh saja kalau kusebut di sana. Entahlah. Ingatan “kami” bercampur-baur menjadi kesatuan—kesadaran yang padu. “Aku” bahkan tak tahu di mana kedudukanku pada saat itu. Apakah aku berenang sebagai pemimpin di barisan paling depan? Atau hanya mengikuti komando di bagian tengah? Bisa jadi itu aku yang sedang terbirit-birit mengimbangi gerakan di belakang sana!

“Hati-hati, kawan. Ada bayangan kapal di permukaan.”

Peringatan itu bergetar dari dalam kawanan di ujung sana. Kawanan itu bagaikan gumpalan besar berwarna kuning dan biru metalik. Gerakan mereka lincah dan tangkas, tanpa jeda. Kawanan itu melesat dalam koreografi teratur, masuk jauh ke perairan yang lebih dalam.

Aku mendengar peringatan mereka, tapi tak bisa melihat apa yang mereka lihat. Tentunya karena aku bukan bagian dari kawanan. Bukan bagian dari kesadaran mereka. Aku memperhatikan saja pergerakan mereka. Toh, aku masih dalam jarak aman dari permukaan. Tubuhku sudah lama dijangkiti “Dewi Perak”—entitas asing yang tiba-tiba saja muncul di perairan sekitar sini. Gara-gara dia, siripku sudah sangat sulit untuk digerakkan sesuka hati, jadi aku hanya bisa mengambang mengikuti arus. Aku hanya memaksakan diri kalau ada hal yang benar-benar mendesak. Pemangsa, misalnya. Atau jaring dari kapal-kapal manusia.

“Hati-hati, di sana daerah Dewi Perak.”

Dewi Perak bekerja dengan cara yang aneh. Tak ada yang tahu kapan sulur-sulur keperakan miliknya menyusup dalam tubuh. Tapi ketika sulur itu sudah menyusup, tiba-tiba tubuh bagai dikendalikan oleh si Dewi. Lalu, tiba-tiba juga aku jadi bisa merasakan di mana sulur-sulur lain milik Dewi Perak berada.

Aku mengirimkan resonansi peringatan yang dibalas dengan bunyi kibasan ekor dan riak-riak gelombang. Tahu-tahu kawanan itu sudah melesat kembali, berenang-renang di sekelilingku yang mengambang tanpa daya.

“Wah, bahaya. Bahaya.”
“Dewi Perak itu cantik, tapi menakutkan.”
“Bagaimana caramu bertahan digerogoti olehnya?”
“Ah, gara-gara dia, kau tinggal sendirian, ya? Tak bisa dibayangkan!”
“Ngeri, ngeri!”

Hantaman resonansi itu datang bertubi-tubi. Berisik. Sedikit membuatku terngiang oleh suara-suara dari masa lalu, ketika jenisku masih banyak. Dulu, tak pernah ada istilah “aku”. Semua menyebut dirinya “kami”. Ingatan kami satu, kehendak kami satu, pikiran kami satu. Tak ada masa lalu, masa sekarang, atau masa depan. Semua lebur menjadi satu.

Lalu, Dewi Perak pun datang dan membuka tabir “masa depan” kami. Ia datang dan meninggalkan bagian dirinya dalam tubuh kami, melemahkan kami dari dalam…

“Kau yakin tak ada jenismu yang meninggalkan telur di suatu tempat?” sebuah pertanyaan dari kawanan yang sedang berputar-putar itu menggelitik tubuhku, “Kalau ada, kau kan bisa membangun kawananmu lagi.”

Telur, ya… Aku juga sudah lama mendambakannya. Kata ganti “aku” terasa lebih sepi dibanding “kami”. Kalau “aku” sendirian, mana bisa menghasilkan telur yang bisa menetas. Beda dengan “kami”…

“Kalaupun ada, ingatanku pasti akan menunjukkannya.”
“Benar juga.”

Lalu, tiba-tiba tubuhku mengejang dan menggelepar beberapa saat. Dapat kurasakan jari-jemari Dewi Perak mencengkeram bagian dalam tubuhku, mengikat seluruh selku, kemudian menggerakkannya sesuka hati. Aku hampir pasrah. Aku capek melawan. Perlawanan akan membuat Dewi Perak makin kuat dan aku akan kalah semakin cepat. Persis seperti kawananku. Satu-persatu kalah dan mati hingga “kami” berubah menjadi “aku”. 

Aku, seorang diri.

“Bertahanlah!”
“Itu Dewi Perak! Ayo pergi!”

Kawanan itu berdesing ke sana kemari dalam panik. Tubuh-tubuh mereka melesat cepat melewati sinar matahari yang menembus air, membuat sinar itu terlihat bagai cahaya lampu kapal yang berkedip-kedip. Tubuhku masih kejang-kejang hebat dalam keributan itu. 

Tak lama kemudian, semua menjadi hening. Kawanan sudah pergi dan kejangku sudah berhenti. Hanya bunyi sunyi yang bergema nyaring. Perlahan, warna lapis lazuli di sekelilingku mulai dirambati oleh sulur-sulur berwarna perak. Ia mengambang dan melingkar, nyaris transparan. Tak larut oleh arus air, justru menunggangi arus itu seakan dialah penguasa segalanya. Itulah Dewi Perak.

Aku mengambang dalam diam, tak lagi punya rasa takut. Toh, sulur Dewi Perak sudah ada dalam tubuhku entah sejak kapan. Aku sudah jadi budaknya. Tak ada bedanya kalau ketambahan beberapa sulur lagi.

“Kau masih di sini.”
“Kau juga.”
“Aku tak bisa mati. Air bukan lawanku, bumi tak mau menerimaku.”

Cengkeraman dalam tubuhku mulai terasa lagi. Ekor dan siripku bergerak-gerak liar di luar kendaliku. Gerakan-gerakan itu membuat tubuhku terbawa makin dekat ke permukaan. 

Sementara itu, bayangan hitam lambung kapal melenyapkan tiap berkas sinar matahari yang tersisa. Tanpa sinar, sulur-sulur keperakan itu terlihat makin pekat. 

“Daripada kau sendiri tanpa kawanan, coba saja minta bantuan mereka?”

Aku mendelik pada si Dewi Perak. Dapat kurasakan sulur-sulurnya yang lain mulai merambatiku, mengacaukan tiap sel dalam tubuhku. Ingatan bahwa lambung kapal itu berbahaya mulai menguasaiku. Alarm tanda bahaya dalam pikiranku berdering nyaring. Segala daya yang sebelumnya sudah kupasrahkan, mulai menggeliat lagi karena dipacu rasa takut. Aku memaksa sekujur tubuhku untuk menuruti kehendakku lagi, tapi sulur Dewi Perak sudah terlanjur berakar di dalamnya.

“Kau mau membunuhku?!”
“Ya tidak. Kau, kan tinggal sendiri. Sayang, dong.”

Suara riak yang asing terdengar dari permukaan. Aku hanya menyaksikan dengan ngeri saat melihat jaring sudah terbentang di atas sana. Tubuhku menggelepar makin hebat. Semakin kuat aku melawan, semakin kuat juga cengkeram sulur dalam tubuhku. Kilas balik dari tiap keping ingatan “kami” tentang jaring, semua berkelebatan dalam kepalaku. 

“Tidak, tidak, tidak!”

Dewi Perak hanya berenang santai. Sulur-sulurnya bermain-main di antara jaring yang mulai mengukung kebebasanku. Dia berputar dan menari mengikuti gelombang air saat jaring diangkat kembali.

“Percayalah. Saat mereka sadar kau hanya tinggal sendiri, mereka akan mencari cara untuk mengembalikan kawananmu.”

“Bagaimana kau bisa yakin?! Apa jaminannya?!”

Jaring terangkat makin tinggi. Aku bisa merasakan kepekatan di sekelilingku mulai berkurang. Udara terasa tipis. Indra pernapasanku mulai terasa panas. 

Sela-sela jaring yang jaraknya sempit itu ditembus dengan mudah oleh sulur-sulur Dewi Perak yang terbuat dari ribuan partikel kecil. Semua kembali ke air, berputar dan mengamati sementara aku terperangkap dan diseret menjauhi habitatku.

“Tentu saja aku yakin…” kata-kata si Dewi Perak terputus selama beberapa saat, “… karena merekalah yang menciptakan aku.”

---------------------------------------------

Lazarus Taxon!”

Seorang pria setengah baya berteriak hampir girang. Matanya bersinar saat dia menatap rekannya yang jauh lebih tua. Tatapan rekannya itu masih lekat pada ikan yang menggelepar lemah dalam jaring.

“Luar biasa! Spesies ini harusnya sudah punah karena kontaminasi DDT dari penyemprot hama. Tapi dia ada di sini! Spesies yang kembali, Lazarus Taxon!”
“Ambil air! Masukkan dalam box!”

Si ikan pun dimasukkan kembali ke dalam air. Butuh beberapa saat hingga insangnya terlihat bergerak normal lagi. Meskipun begitu, ikan itu masih menggelepar tak tentu. Beberapa kali tubuhnya menabrak dinding box dari plastik itu.

“Tak salah lagi. Ini tanda-tanda keracunan DDT…”
“Tidak apa. Selama ada dia, kita bisa melakukan sesuatu. Mungkin membuat obat, atau membuat kloning dari DNA-nya…”

Sementara dua ilmuwan itu sibuk berdiskusi, mesin kapal kembali dinyalakan. Gelepar si ikan perlahan berhenti, lalu ia mengapung pasrah dengan insang yang membuka dan menutup perlahan. Mata si ikan yang selalu tampak kosong itu mengawang pada lautan warna biru muda di atasnya, serta warna putih yang kini ada di sekelilingnya. 

Tak ada lagi warna lapis lazuli. Tak ada lagi celoteh ramai kawanan ikan. Tak ada lagi gaung sunyi arus air. Tapi si ikan berusaha menyimpan ingatan tentang pemandangan baru ini baik-baik.

Kalau si Dewi Perak benar… maka tak lama lagi, “aku” akan kembali menjadi “kami”… Ingatan penting ini tak boleh hilang, "kami" akan membaginya. Ingatan yang akan terus ada, berjalan seiring arus waktu selama “kami” masih ada…

**END**



7 comments:

  1. Wah.... *speechless*

    Wah... *masih speechless*

    Wah... #plak

    Keren banget... aku ga kebayang tema Refa yang super ngajak ribut itu bisa jadi cerita sekeren ini. Ini keren banget. Aku suka yang ini...

    Bah... arisan kloter ini bikin galau siapa yang paling bagus jadi dilema. Semuanya bagus... >,<

    ReplyDelete
  2. Arisan kloter ini semuanya Juara aja!! XD

    ReplyDelete
  3. aku nangis, kasian ama Lazarus. *kapan sih aku nggak baper XD

    tapi, ini cerita bikin aku sebel banget sama pencemaran lingkungan. Keren banget, Mega! Keep writing!

    ReplyDelete
  4. Sepanjang cerita menebak-nebak gak yakin ke mana Lazarus akan menuju. Keren, kerasa banget emosinya :")

    ReplyDelete
  5. Sepanjang cerita menebak-nebak gak yakin ke mana Lazarus akan menuju. Keren, kerasa banget emosinya :")

    ReplyDelete
  6. Sepanjang cerita menebak-nebak gak yakin ke mana Lazarus akan menuju. Keren, kerasa banget emosinya :")

    ReplyDelete