Showing posts with label REVIEW BUKU. Show all posts

Tentang Sepuluh Buku

    • Akhir-akhir ini, kadang saya terngiang petikan dari Oscar Wilde. Katanya, I am too fond of reading books to care to write them. Bahkan sekelas Oscar Wilde yang tulisan-tulisannya terkenal, mengaku malas nulis karena terlalu suka membaca? Padahal Pak Oscar ini tulisannya banyak lho, kayak gitu kok dia bilang malas nulis, ya?

      Tapi, yang pasti sih, Pak Oscar ini gemar membaca (err...sok kenal banget), dan mudah-mudahan kita semua juga ketularan kerennya. Nah, nah, sehubungan dengan itu, kayaknya asik juga kalau kita share buku-buku favorit kita di blog ini. Buat rekomendasi bahan bacaan atau sekadar bahan pertimbangan pas mau beli buku, misalnya. Berhubung para kuncen blog juga udah mengijinkan, maka akan saya mulai dengan buku-buku favorit saya yah, :D #narsis

      Nanti yang lain share juga yaaah... :D

      Baiklah, ini dia sepuluh buku favorit saya selama dua puluh ******* tahun terakhir. (umurnya kena sensor) :p

      1. Antoine The Saint Exupery - The Little Prince (1940)
      Ini adalah buku yang saya baca sewaktu kelas 1 SD dan sampai sekarang masih meninggalkan kesan yang kuat. Ceritanya memang penuh metafora, tapi sederhana dan mudah dimengerti bahkan oleh anak-anak. Analoginya menarik dan timeless, dibaca dulu maupun sekarang tetap relevan. Intinya, dia menghibur, ringan, tapi tetap menyisakan perenungan. #tsah


      2. Harper Lee - To Kill a Mockingbird
      Ini adalah buku yang timeless juga, pertama kali dipublikasikan tahun 1964 kalo nggak salah, dan sampai sekarang masih sangat enak untuk dilahap. Penulisnya, Harper Lee, cuma nulis satu novel ini sepanjang hidupnya, tapi langsung melegenda. Ceritanya bertema kemanusiaan, tentang seorang pengacara yang memperjuangkan nasib seorang terpidana berkulit hitam, sayangnya saat itu orang-orang kulit hitam biasanya dihukum tanpa mendapat pembelaan yang layak, jadi pengacara itu dikucilkan termasuk keluarganya. Nah, yang unik, cerita ini ditulis dari sudut pandang anak si pengacara. Worth reading banget pokoknyah.


      3. George Orwell - 1984 (1948)
      Susah mau ngasih tinjauan tentang buku ini, terlalu sering dibahas dan didiskusikan sama orang2 yang lebih berpengalaman, jadi agak minder mau ngasih komentar. Intinya, buku ini fiksi yang ditulis tahun 1948 yang berisi prediksi penulisnya tentang apa yang terjadi di tahun 1984. Dia membayangkan suatu rezime totalitarianisme yang sangat ketat dan memutar balik logika. Rezim itu menggunakan berbagai media untuk mengendalikan pikiran rakyatnya, dan tiap kali saya nonton tivi sekarang ini--beneran deh--saya selalu keinget buku ini. Makanya, biar nggak terpengaruh isu politik yang direkayasa, mending baca buku ini, dijamin seru deh. :p


      4. Aldous Huxley - Brave New World
      Buku ini bisa dibilang kebalikannya novel 1984, dia membayangkan rezim totalitarianisme, di mana semua orang diperbudak kesenangan. Ini juga keren banget. Words fail me to describe it... mending baca sendiri yah.... XD


      5. Carl Sagan - Contact (1999)
      Ini adalah novel yang memadukan sains dan pertanyaan yang sangat esensial tentang kepercayaan pada Pencipta. Tema besarnya sih itu, tapi penggarapannya ringan, enak dibaca, nggak bosen dibaca berkali-kali. :D


      6. Ursula K. Leguin - Wizard of Earthsea (1968)
      Penggemar Harry Potter mungkin akan suka juga dengan buku ini. Lebih jadul memang, tapi sama serunya, sama muatan moralnya, pengarangnya juga sama piawainya menciptakan dunia sihir with conviction kayak J.K. Rowling. Ini recommended buat Refa dan Ocha. #eh XD


      7. Robert M. Pirsig - Zen and The Art of Motorcycle Maintenance (1974)
      Ini buku fiksi yang bacanya harus sabar. Teorinya banyak >.<. Tapi begitu selesai baca, akhirnya kita menemukan suatu cara pandang baru terhadap pemisahan antara rasional dan irrasional. Plotnya sederhana, seorang Ayah mengajak serta anaknya menempuh perjalanan dalam sepeda motor untuk menemukan dirinya yang pernah hilang dan menaklukkan hantu dari masa lalu. #haish


      8. Oscar Wilde - The Picture of Dorian Gray (1890)
      Ini juga buku legendaris yang menurut saya keren. Plotnya mungkin terkesan kayak cerita misteri, tapi menurut saya ini lebih ke arah sindiran moral. Dialog-dialognya cerdas, menguliti kemunafikan manusia. Keren banget deh pokoknya.


      9. Oscar Wilde - The Importance of Being Earnest
      Ini sebetulnya naskah drama, tapi cuma baca naskahnya aja saya bisa ngakak-ngakak. Lucu, witty, ringan, tapi sindiran-sindirannya kena banget. Buku ini bisa didownload gratis di gutenberg ebook project. Dan nggak usah khawatir, karena copyright-nya udah expired dan udah jadi public domain, jadi insya Allah halal. :p


      10. The Kite Runner - Khaleed Khoseini
      Kalau ini sih.... pasti udah pada nonton filmnya yah. Atau mungkin juga baca bukunya. Ini termasuk buku baru, terbitnya tahun 2000 ke atas kayaknya. Ini tentang seseorang yang menghabiskan kecil di Afghanistan, dan ketika pecah perang ia sudah aman di Amerika, kenangan-kenangan dan rasa bersalahnya ketika menghabiskan masa kecil sebagai salah satu orang kaya di Afghan membawa dia untuk pulang ke Afghan untuk menebus satu kesalahan itu.

    • Posted by siska
    • 8 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Satu BH dan Lelaki Keseribu di Ranjangku

    • Yang paling berat bagi Niken ialah masa depannya yang tak akan bisa diisinya dengan persuami-istrian. Sebab siapa mau jadi suami atau istrinya secara total. Kemudian masyarakat umum yang tak punya kesediaan untuk mengakui eksistensinya. Tetapi, serba sedikit, perlahan-lahan Niken berhasil mengatasi hal itu. (BH, hal. 190)

      Niken, dalam cerpennya Emha Ainun Nadjib (selanjutnya disebut Emha), tidak jelas posisinya: pelacur atau sekadar perempuan yang haus lelaki. Namun, pembaca akan segera mengerti bahwa posisi Niken mirip dengan wanita perindu lelaki, bukan pelacur. Sebab, melihat latar belakangnya, Niken merupakan mantan hakim. Ia sarjana yang cukup cerdas. Tetapi, ia berhenti dari pekerjaannya karena “agak” bertentangan dengan nurani. Kemudian, ia di rumah saja, meneruskan usaha dagang orangtuanya.
      Agak aneh jika Niken itu pelacur, sebab pekerjaan itu umumnya, maaf, biasa dilatarbelakangi masalah ekonomi. Tetapi, Niken adalah perempuan berada, sehingga kenakalannya tak lain karena kesepian.
      Ya, kesepian di tengah hiruk pikuk material yang menggerogotinya. Gaya hidupnya tak ubah model manusia metropolis: haus pada hiburan. Cap perempuan nakal menyebabkan Niken terus bergelut dalam lubang yang dalam, gelap.
      Sedangkan, masyarakat hanya bisa mencibir dan asyik melihatnya: “Memang sepantasnya begitu akibat yang harus ditanggung perempuan nakal!”
      Namun, Emha tidak ikut-ikutan mindstream yang tengah berlangsung. Dengan cekatan, Emha menghadirkan tokoh “aku” sebagai teman diskusi Niken. “Aku” adalah selayaknya teman yang memandang dari semua dimensi kekurangan dan kelebihannya manusia. meski tokoh ia juga menanggung kesimpulan dari teman dan masyarakat bahwa ia pacar Niken. Selanjutnya, mereka tentu saja merendahkannya.
      Tokoh “aku” dicap layaknya gigolo yang menerima upah. Tetapi, yang dicari Niken tidak hanya berkutat masalah “ranjang”. Niken tidak bergaul sekadar demi seks. Tokoh “aku” bukan pacar Niken, meski Niken pernah mengungkapkan perasaannya. Tokoh “aku” berterus terang tentang perihal keadaaannya. Ia mengajak Niken bercinta sesuai tempatnya: “Kau mencinta itu dan bersedia menerima apa yang mampu kuberikan, sementara aku pun mencintai penderitaanmu.”
      Hal yang sulit dilakukan, tetapi selayaknya dilakukan jika cinta itu memang tulus diberikan kepada orang yang dicintai. Tokoh “aku” sendiri menerima Niken juga dalam batas yang ia mampu. Tokoh “aku” bisa mengawininya dengan pikiran-pikiran yang menguatkannya. Tetapi, untuk berjalan, nonton, atau kemana-mana bersamanya, terus terang memang masih ada cukup keberatan dalam perasan di benak “aku”. Hal yang lumrah, dan terjadi pada siapa pun.
      Inilah kejujuran seorang Emha; kejujuran memandang realitas pada diri manusia. Siapa yang siap lahir-batin menerima orang-orang yang dicap nakal oleh masyarakat? Saya kira jarang sekali.
      Tetapi, titik tekan yang hendak disampaikan Emha bukan masalah kawin itu sendiri, melainkan teman yang saling mengisi, teman yang mau diajak bertukar pikiran, menumpahkan unek-unek sebagai manusia yang hidup di tengah alam yang bergejolak. Sebab, orang akan menjauhi manusia nakal secara total, baik lahir dan batinnya, tanpa melihat sisi jiwanya yang kerap menangis.
       Ternyata benar, pelacur tak selamanya menikmati kepelacurannya. Bahkan, sang pelacur itu menjerit sedih dalam keremangan dunianya. Terlihat terhibur dengan berbagai macam laki-laki, namun apa arti hiburan bagi sang pelacur?
      “Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-dia dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin....” (BH, hal. 4)
      Kehidupan pelacur tak pernah untung, yang untung hanyalah germonya. “Germo bosku, lelaki yang paling beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya-raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahya yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau. Sungguh tragis! Bagaikan sapi perah yang tak pernah menikmati kelezatan susunya, “susu berbalas rumput teki!”.
      Lantas jika ditanya, kenapa memilih jalan kelam? Apakah melacur itu pilihan atau pelampiasan, balas dendam keadaan? Soal yang pelik. Di tulisannya ini, Emha menuliskan “Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiri dan lelaki yang mencampakkanku ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini, maka lelaki kedua hanya saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus....” Bahkan, yang mengenaskan: “…. Di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.”
      Membaca kumpulan cerpen “BH”-nya Emha bagaikan diajak menelusuri dunia yang tak asing bagi kita, tetapi seakan tersisih dan cepat-cepat kita menutup mata dengan jari yang terbuka: mau tapi malu. Emha mengajak pembaca memahami dimensi lain dengan sudut lain. dunia yang selalu dicap neraka, tetapi kita jarang mendengar teriakan manusianya.
      Bagi saya, buku ini, unik seunik penulisnya. Inilah “jalan sunyi” Emha dalam membaca realitas kehidupan yang dikemas dalam cerita pendek.
      ***

      Judul : BH
      Penulis : Emha Ainun Nadjib

      Penerbit : Buku Kompas Tahun terbit : cet. I 2005
      Tebal : x + 246 halaman; 14 cm x 21 cm
      ISBN : 979-709-168-6

    • Posted by Unknown
    • 6 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -