Showing posts with label Refa Ans. Show all posts

First Snow

    • First Snow
      Oleh : Refa Ans
      Sora menatap origami berbentuk cranes di tangannya. Kertas itu tidak lagi terlihat baru. Ah, rasanya sudah lama sekali ia menerima origami itu darinya. Ini pula satu-satunya benda kenangan dari pemuda yang dulu amat ia cintai itu, meski tanpa pernah mengungkapkannya. Ia selalu merasa bahwa semua akan berubah ketika menyatakan itu seperti sebelumnya, ia takut hal seperti itu kembali lagi terjadi.
      Origami itu selalu terasa istimewa. Sebanyak apapun yang ia buat, bahkan dengan kertas yang jauh lebih bagus, origami itu selalu terasa lebih istimewa. Dirinya bahkan tidak pernah terpikir untuk membongkarnya meski telah sekian lama menyimpan itu dan tidak pernah bertemu dengannya lagi. Ia selalu menyimpan itu baik-baik, itulah kenang-kenangan terakhir darinya sebelum menghilang tanpa kabar.
      Sora menerawang ke langit gelap di balik jendela kamarnya. Dingin di luar sana seakan dapat ia rasakan. Kenangan saat menunggu pemuda itu di taman kembali terputar di benak. Kali itu, pertemuan terakhirnya dengan pemuda itu. Saat pemuda itu mengatakan ia menitipkan hatinya.
      Tangan Sora pelan-pelan bergerak membuka origami itu ketika teringat perkataan pemuda itu. Tentang hati. Menitipkannya. Seharusnya ia sadar dari dulu. Lipatan demi lipatan dilepaskannya. Hingga akhirnya tinggal bentuk dasar diamond. Bersamaan dengan itu segala kenangan dengannya kembali berputar. Di mana ia selalu memberi kenangan saat salju pertama. Bukan hanya itu, bahkan hampir di sepanjang masa SMA.
      Saat terbuka sepenuhnya, airmata Sora mengalir deras karena matanya menumbuk beberapa baris tulisan itu. Dan lagi-lagi, kali itu adalah salju pertama yang turun. Dari jendela Sora bisa menangkap butiran salju yang turun.
      ***
      “Salju pertama!” jerit Sora dengan wajah berhias senyuman ketika mendapati butiran salju hinggap di telapak tangannya. Banyak orang mengatakan jika kita mengucapkan harapan pada saat salju pertama turun ke bumi maka harapan itu akan terkabul. Sora percaya itu. Ia selalu menganggap ketika salju pertama turun dewa juga ikut turun menyambut salju di bawah dan mendengarkan semua harapan manusia saat itu. Entahlah hanya pikirannya saja atau memang sesuatu yang nyata, atau bahkan dipercaya banyak orang. Sora tidak peduli.
      Gadis berambut cokelat itu kemudian menautkan kedua tangannya dan mengucapkan harapan. Dirinya tidak berharap macam-macam, hanya permintaan seorang gadis yang membutuhkan teman karena hampir selalu kesepian. Yah, tampaknya tidak perlu disebutkan apa keinginannya.
      “Berharap pada salju pertama, eh?”
      Seketika Sora langsung membuka matanya dan menoleh saat mendengar sebuah suara bass di dekat telinganya. Seorang pemuda yang  menurut perkiraan seumur dengannya itu kini tengah memandang ke langit yang sudah gelap. Gadis itu menatap wajahnya sejenak. Bukan wajah asing, batinnya.
      “Ah, hai[1],” jawabnya sopan sambil memberikan seulas senyum. “Banyak orang, kan, yang percaya kalau salju pertama bisa mengabulkan harapan. Omong-omong, kamu siapa? Aku seperti tidak asing.” Siapa tahu memang benar, kan, Sora pernah melihat pemuda itu. Entah di sekolah atau tetangganya. Lagipula orang asing tidak mungkin tiba-tiba menyapanya seperti tadi.
      “Wah, rupanya kau belum tahu diriku, ya. Padahal aku mengenalmu, Aoki Sora dari kelas 1-A.”
      Sora hanya tersenyum ketika mendengar pengakuan pemuda itu. Yah, dirinya terbilang cukup sulit dalam mengingat nama seseorang. Apalagi ia memang tidak begitu banyak mengenal teman sekolahnya kecuali teman-teman sekelas dan teman klub melukis. Ah, itu pun tidak seluruhnya berhasil ia ingat dengan tepat nama dan wajahnya.
      Atashi wa Akita Ken desu. Aku dari kelas 1-B, tetanggamu.” Pemuda itu kemudian ber-ojigi[2] setelah menyebutkan namanya. “Yoroshiku.”
      Yoroshiku.” Sora kembali tersenyum setelah ikut ber-ojigi juga.
      “Jadi, kamu percaya kekuatan salju pertama?” Ken mulai mengajak Sora melanjutkan berjalan. Kalimat demi kalimat kemudian saling bertukar dari mulut keduanya. Di bawah salju yang melenggang turun dari langit keduanya berjalan bersama menuju rumah masing-masing.
      Ia tidak pernah tahu bahwa sejak saat itu Ken akan menjadi temannya. Ah, inikah kekuatan salju pertama?
      ***
      Tak bisa dibantah, rasa nyaman lama-kelamaan pasti akan melahirkan perasaan lain di dada. Di dalam dadamu akan ada perasaan yang begitu asing. Jantungmu akan berdegup lebih cepat, aliran darahmu bertambah deras, dan perasaanmu akan senang tak terkira ketika tahu dia ada di dekatmu.
      Itu pula yang Sora rasakan. Pelan-pelan tapi pasti, ia jatuh pada pesona Ken. Ken bukan sosok yang selalu dipuja para gadis. Dia hanya pemuda biasa-biasa saja, tapi hanya ia yang mampu membuat Sora jatuh cinta setengah mati—dengan cara selalu bisa membuat gadis itu merasa nyaman berada di dekatnya.
      Sayang, Sora terlalu takut untuk mengakui perasaannya itu, kembali jatuh cinta. Ia takut ketika pada akhirnya sudah jatuh terlalu dalam sepeti dulu, tetapi ternyata orang yang ia suka jauh memilih gadis lain. Karena itu ia kehilangan seorang teman, satu-satunya orang yang paling ia percaya.
      Itulah mengapa Sora selalu membohongi tentang perasaannya ada Ken. Segala alasan ia buat atas perasaan aneh—baca: jatuh cinta—itu. Ketika malam hari tiba-tiba wajah Ken berkelindan di kepala, ia hanya menganggap ingin bercerita kepada Ken. Bahkan ketika detak jantungnya tak wajar saat Ken menggandeng tangannya untuk menyeberang jalan, Sora hanya menganggap itu kaget karena Ken yang tak jarang menarik tangannya tiba-tiba.
      Begitu pula dengan saat ini, jantungnya terasa berdetak begitu cepat karena Ken menggandeng tangannya.
      "Kamu kedinginan?" Sejenak Ken menghentikan langkahnya. "Kalau memang kedinginan, bilang saja. Ah, udara memang begitu dingin. Seharusnya kita tadi tidak usah mengerjakan tugas di sekolah dulu. Bagaimana bisa, sih, aku lupa kalau ini sudah di awal musim dingin?"
      Sora hanya tersenyum. Seperti biasa, Ken memang begitu. Ia terlalu sering menyalahkan diri sendiri walaupun terkadang itu bukan salahnya.
      "Sudah, tak apa. Lebih baik kita secepatnya pulang," kata Sora bermaksud mengajak pemuda itu kembali berjalan.Ia tidak ingin terus-terusan merasakan perasaannya yang tak karuan itu.
      "Baiklah, ayo." Tanpa diduga, Ken langsung memasukkan tangan mereka yang bertautan tadi ke dalam saku mantelnya.
      Sora langsung tersentak kaget, tapi di tengah kekagetannya itu, ia merasakan kini hangat bukan hanya menyelimuti tangannya yang digenggam Ken dalam saku mantel. Badannya juga. Hatinya. Bahkan lidahnya terasa kelu untuk menolak itu. Ia merasa begitu nyaman.
      Bukankah Ken memang selalu begitu?
      Lagi-lagi Sora mulai membela diri menampik kenyataan. Ia masih bersi-keras tidak mau mengakui perasaannya.
      "Ken, doushite?"
      "Eh?"
      Tanpa Sora sadar akhirnya pertanyaan di ujung lidah yang tadi tak bisa terlepas kini meloncat keluar. Kenyang tadi fokus pada jalanan langsung menoleh ke arah Sora. Kedua alisnya terangkat, sorot matanya menyiratkan keheranan. Degup jantung Sora pun semakin tidak keruan.
      Kami-sama, aku tidak ingin jatuh cinta kepadanya, aku tidak ingin terluka lagi, dalam hati Sora memohon.
      "Mengapa kamu begitu perduli padaku?" Sora meluncurkan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Dalam hatinya ia merasa begitu cemas menanti jawaban dari mulut Ken. Sadar atau tidak, kini sebenarnya dalam hati Sora berharap bahwa Ken akan mengatakan itu karena ia mencintainya. Baiklah, anggap saja Sora hanya berangan-angan. Karena ia ‘tidak-jatuh-cinta-kepadanya’.
      Ken kemudian menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Sora. Matanya mengunci mata Sora. "Karena aku ingin terus melindungimu, menjaga agar senyumanmu tidak hilang dari sana."
      Terasa sebuah hantaman di ulu hati Sora ketika mendengar itu. Ia tidak lagi bisa mengelak. Perkataan itu membuatnya merasa semakin hangat dan rasa senang seakan Ken memang mengucapkan apa yang diharapkannya.Sora dapat merasakan kini mukanya begitu hangat.
      Saat itu juga, Sora luluh dengan kenyataan. Ia kalah, tamengnya telah hancur berkeping-keping. Sebongkah kepercayaan membuat gadis itu yakin, bahwa Ken adalah sosok lain yang berhak ia cintai.
      Sekarang, Sora mengakuinya. Sora mencintai Ken. Bersamaan itu, salju pertama tahun ini turun.Salju pertama, selalu saja tentang Ken.
      ***
      Apakah salju pertama selalu tentang keinginan?
      Sora termenung di beranda rumahnya sore ini. Tanpa pernah terasa, tiba-tiba saja ini sudah awal musim dingin lagi. Sudah selama itu dirinya diam-diam jatuh cinta  pada Ken. Tak seorang pun ia biarkan tahu. Ah, mengapa sampai saat ini ia belum juga mempunyai keberanian,
      Gadis berambut cokelat sepunggung itu menghela napas berat. Hawa dingin yang bersentuhan dengan kulit tak dihiraukannya. Ia kembali terdiam, membiarkan sosok Ken memenuhi benaknya. Pikirannya melayang-layang ke kenangan mereka dua tahun terakhir ini.
      Drrrt..., drrrt....
      Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Tanpa berpikir panjang,ia langsung menghidupkan ponsel. Nama Ken tertera di sana. Dengan gerakan kilat, Sora membuka pesan itu.
      Sora-chan, bisa kita bertemu? Tunggu aku di taman, ya. Pukul 7 malam ini.
      Sora langsung mengamati teks itu berkali-kali. Heran. Ken tidak biasanya mengirim pesan kecuali terlalu penting. Ken mengaku ponsel memusingkannya. Hah, Sora tidak tahu mengapa. Padahal kebanyakan anak muda seusia mereka begitu tergila-gila dengan benda itu.
      Ada apa ini?
      Ya, kutunggu di sana.
      Tak banyak tanya, Sora hanya menyetujui itu. Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi saat itu. Sebuah pertemuan yang rahasianya akan terbuka di masa depan.
      ***
      Tak terasa sudah hampir dua jam Sora menunggudi kursi taman bawah pohon sakura yang kini kering tak berdaun dan Ken belum juga datang. Padahal udara begitu dingin. Sampai setiap kali ia menghembuskan napas keluar asap putih. Kegelisahan kini menyelimutinya.
      Bagaimana bisa Ken belum juga datang? Sekali lagi Sora melihat ke pergelangan tangan kirinya. Jam sembilan lebih semenit. Air mata kemudian menggenang di pelupuk matanya. Keyakinannya bahwa Ken akan datang mulai ludar. Belum lagi dengan rasa dingin yang terus berusaha dilawan oleh mantelnya, meski tak jarang menelisik masuk dari lubang-lubang kecil.
      Berkali-kali Sora menahan diri untuk tidak menangis. Harus ia akui, ia kecewa dengan Ken. Pelupuknya tidak lagi kuat membendung airmata. Cairan bening itu lalu meluncur turun. Tangis Sora pecah saat itu juga. Berkali-kali tangannya berusaha mengusap air mata. Namun sebanyak apapun ia mencoba, air mata itu tak juga habis. Terus saja jatuh bagaikan hujan saat tsuyu datang.
      "Nakanai de, Sora-chan[3]."
      Sebuah pelukan hangat dari belakangkemudian melingkari leher Sora. Air matanya justru turun semakin deras ketika mendapati kini dirinya dipeluk oleh sosok yang ia tunggu.
      "Aku di sini, maafkan aku sudah membuatmu menunggu, Sora-chan." Ken mengeratkan pelukannya pada Sora. Perlahan di dalam dadanya seperti ada sesuatu yang remuk. Hatinya patah. Bukan karena melihatnya menangis, tapi jika menyadari waktu.
      Sora masih saja belum bisa menghentikan linangan airmatanya. Firasatnya kali itu merasa tidak enak saat mendengar nada bicara Ken barusan. Ia pun tidak berani menatap mata hitam Ken. Hanya dibiarkan Ken memeluknya begitu erat.
      "Arigatou. Maafkan aku membuatmu menungguku." Ken berbisik pelan ke telinga Sora. "Walaupun sebenarnya tidak ada yang harus kukatakan, aku hanya ingin bertemu denganmu."
      Dapat Sora rasakan kini ada air mata yang menetes di lehernya. "Kamu..., menangis, Ken?"tanya Sora dengan suara bergetar. Bagaimana bisa Ken yang ia tahu begitu tegar kini menangis?
      "Aku hanya bahagia bisa mengenalmu."
      Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Sora. Hanya air matanya yang terus mengalir. Dirinya tidak bisa berusaha kuat jika seseorang yang selama ini selalu menguatkannya justru menangis sepeti itu
      "Ada apa sebenarnya, Ken?"Sora berbalik. Matanya dan Ken kini bertatapan. Sora bisa melihat mata itu begitu sendu sarat dengan kesedihan.
      "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja. Jangan menangis, tersenyumlah, Sora-chan. Aku selalu merasa hangat ketika melihatnya, senyummu bagai langit musim semi yang cerah." Ken mengusap aliran airmata di pipi Sora. Seulas senyum kini terulas di wajahnya, meski linangan airmata dari sana belum terusap bersih.
      Sora tersenyum kemudian diikuti dengan Ken. Mereka memaksakan diri walaupun sebenarnya hati mereka remuk seremuk-remuknya malam itu.
      "Satu lagi, aku ingin memberikan origami ini untukmu." Ken lalu mengeluarkan origami cranes yang belum sempurna itu dari saku mantelnya. Disempurnakannya origami itu sebelum diberikan kepada Sora."Tolong simpan ini. Ini adalah hatiku."
      Lagi dan lagi, mata Sora menangkap salju pertama turun. Pertanda apa pada salju kali ini?
      ***
      Sora tidak menyangka apa yang kini tertulis di sana. Beberapa kalimat yang tidak pernah ia duga. Beberapa keanehan yang tidak terlalu ia perdulikan kini seperti terjelaskan sejelas-jelasnya. Bagai seekor rusa yang dikuliti, Sora baru mengetahui siapa Ken. Dan ia tidak bisa menerima itu.
      Keanehan seperti Ken yang gagap teknologi, bisa menceritakan kejadian belasan tahun lalu seakan melihatnya sendiri, dan dari gaya berpakaiannya.
      Mengapa harus begini?
      Daisuki dayo[4], Sora-chan. Maafkan aku terlambat mengungkapkannya. Tetapi percayalah begini lebih baik daripada aku meninggalkanmu dan perasaanku tanpa sepatah kata pun perpisahan. Andai saja aku bisa menghabiskan waktu lebih lama di masa ini tanpa harus kembali ke masa lalu.
      Kami-sama, tolong jelaskan apa maksud semua drama ini….”
      Sora menenggelamkan kepala ke lipatan tangannya di meja. Tangisnya keluar, seluruh rasa sakit yang hatinya simpan ia keluarkan. Tanpa terkecuali.



      [1] Ya
      [2] Membungkuk
      [3] Jangan menangis, Sora.
      [4] Aku menyukaimu.
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Deja vu dalam Hujan

    • Déjà vu dalam Hujan
      Oleh : Refa Ans
      Semakin jelas seseorang mengetahui apa yang akan terjadi padanya, maka semakin tidak jelaslah kecepatannya untuk berubah pikiran.
      ***
      Semua sudah berhasil diingatnya. Ya, semua, tentang ingatan janggal yang menghantui, tentang pemuda itu, dan kisah yang kembali berputar. Kisah yang sebetulnya sempat terjadi, tetapi tertidur sekian lama. Yang masih dipenuhi ketidakpastian perasaannya.
      Kini, kisah itu kembali ke dalam ingatan masing-masing dari mereka.
      ***
      Tetaplah hidup, Jade. Tinggalkan aku sendiri jika memang kaupilih begitu. Aku mencintaimu.
      Lagi-lagi ada suara di dalam kepalanya. Suara yang sama, yang selalu menghantuinya. Kilasan-kilasan tali bersimpul lasso yang menggantung dan bergoyang turut menghantuinya. Apa itu?
      Hal itu, hal yang sudah menghantuinya sampai saat ini.
      ***
      “Jadi, selama ini aku tidak cantik untukmu, Nate, sehingga kaubiarkan tentang pernikahan itu?” tanya seorang gadis dengan kesal. Di pelupuknya kini sudah menggenang airmata. Iris cokelatnya kini menatap penuh selidik, menuntut tentang jawaban atas pertanyaan barusan. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai.
      “Kamu selalu salah mengerti, Jade.” Pemuda itu berjalan mendekat, tangannya terangkat untuk membelai surai pirang si gadis. Berharap dengan begitu ia bisa menenangkannya dari berita pahit tadi. Ia menelan ludah yang seketika menjadi sangat sulit untuk masuk ke batang kerongkongan. Mendadak rasa cairan saliva di mulutnya menjadi sepahit berita itu. “Aku selalu mencintaimu, Jade, hanya saja begitulah yang harus kau—juga aku—terima.”
      Buliran bening yang tadi menggenang langsung meluber. Luluh. Menganak sungai di kedua pipi gadis itu. Ia lalu memeluk pemuda itu dengan erat, dan menumpahkan segala kesah di pelukan itu.
      “Aku tidak ingin dinikahkan dengannya, Nate. Aku hanya ingin bersamamu.”
      ***
      Siapa itu Jade?
      Berkali-kali gadis berambut pirang itu mencari tahu nama yang terus berkelindan di kepalanya. Sampai saat ini, ia tidak pernah mengerti alasan nama itu terselip dalam bayang-bayang hidupnya. Memang ada teman sekolahnya yang bernama Jade ketika masih berada di sekolah dasar dulu, tapi sama sekali tidak ada hubungan dengan kelindan nama di benaknya itu.
      “Jody, berhenti, jangan biarkan hal itu semakin lama semakin menguasaimu.” Ia mempercepat langkah di koridor sekolah yang semakin lama semakin ramai di jam pulang sekolah ini.
      ***
      “Kita harus mengakhiri semuanya, Nate.” Dengan tatapan kosong gadis berambut pirang itu berujar lantang. Pikirannya sudah tidak jelas ke mana arahnya. Kantung matanya kini tercetak jelas. Yang ia tahu saat ini, ia tidak ingin dipisahkan dari Nate. Selamanya, ia ingin hidup bersama dengan pemuda itu, karena pemuda itulah yang dicintainya.
      Hanya gumaman yang keluar dari bibir Nate. Pikirannya makin berantakan. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Dirinya memang mencintai Jade, sebanyak gadis itu mencintainya. Namun, percayalah, bagaimanapun dirinya berjuang, ia tidak bisa membuat perjodohan Jade dibatalkan hanya karena ia ingin menikahi Jade.
      “Ayo kita mati bersama, Nate. Dengan begitu, kita akan selalu bersama.”
      Nate hanya terdiam ketika mendengar retasan kata dari bibir Jade itu, meski sebenarnya ia begitu terkejut ketika mendapati Jade mengeluarkan perkataan yang sama sekali tak diduganya. Maksudnya…, bunuh diri?
      ***
      Bayangan gadis itu berkali-kali terlintas di benaknya. Sudah ratusan kali, bahkan. Ia tidak pernah tahu alasan bayangan seorang gadis pirang yang berlari seakan meninggalkannya di tengah hutan saat hujan terus muncul di ingatannya. Siapa dia? Apa alasannya?
      Ingatan itu ada entah sejak kapan, dirinya tidak pernah tahu secara jelas ketika ingatan itu mulai tertanam dalam memorinya. Yang ia tahu, tiba-tiba saja ada sosok gadis pirang dengan pakaian abad ke-20 itu di otaknya, yang sedang berlari menjauh.
      Guh. Pemuda itu menghembus napas kasar sambil menyibak poni pirangnya ke belakang.
      “Mungkin ini semua hanya karena aku lelah.” Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Ya, saat ini aku hanya lelah.” Terdapat penekanan di kata terakhir, ia meyakinkan diri lagi sebelum kembali fokus ke buku di pangkuannya. Angin berembus menggoyangkan rambut pirangnya.
      ***
      Ini jalan yang mereka ambil, sebuah jalan pintas menuju akhir.
      “Nate, jangan khawatir, kita pasti akan bersatu kelak jika ada benang merah yang menghubungkan jari kelingking kita. Kita pasti akan terlahir kembali dan bersatu,” ujar Jade pelan dengan senyum pasrah dan tatapan yang kosong. Ia menunjukkan kelingking kanannya ke depan muka Nate persis. Sejenak ia mengerling, melirik ke langit yang makin lama makin menggelap dan tanah sepuluh kaki di bawahnya.
      Nate tersenyum kecil mendengar perkataan Jade barusan. “Maksudmu, reinkarnasi?” Ia tertawa miris dalam hati ketika berujar. Apa yang bisa diharapkan dari kelahiran kembali seperti itu? Bagaimana jika keadaannya tidak jauh berbeda dengan saat ini, apa artinya itu? Matanya memperhatikan tali yang ada di tangannya, tali bersimpul lasso yang tadi ia ikatkan ke pohon ini.
      “Terkadang ada hal yang hanya bisa kita mengerti dengan cara berkorban, Nate.” Seulas senyum ceria terpoles di wajah Jade membuat siapapun yang melihat gadis itu dan Nate di atas pohon tidak akan mengira niatan mereka untuk bunuh diri.
      Pemuda itu lagi-lagi mengamati tali bersimpul lasso secara bergantian miliknya dan milik Jade. Pikirannya berkecamuk banyak hal. Sungguhkah dirinya akan benar-benar mati nantinya? Bagaimana reaksi dari orang tua juga teman-temannya? Lalu bagaimana berita tentangnya yang seharusnya nanti mewarisi tahta kerajaan, apa kata rakyatnya? Senyum yang tipis tadi menjelma menjadi senyum kecut.
      “Tenang, Nate. Semuanya akan baik-baik saja.” Jade langsung menepuk bahu pemuda yang kini duduk di dahan lain pohon tempatnya duduk. Seulas senyum menenangkan terulas di bibir gadis bermata hijau itu. “Hanya ini yang bisa kita lakukan jika ingin bersatu, karena kita adalah saudara sedarah. Mati dan menunggu untuk lahir kembali.” Air mata gadis berambut pirang tersebut langsung mengalir turun.
      Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Nate. Ia hanya tersenyum simpul.
      “Jadi, apa kau sudah siap, Jade?”
      ***
      Langkah Jody langsung terhenti ketika matanya tertumbuk pada pemuda berambut pirang itu. Bayangannya semakin jelas. Kini ia bisa mengingat jelas satu nama lain.
      Nate.
      Seketika ia merasa bahwa di sini hanya ada dirinya dan pemuda yang ia tahu namanya adalah Nathan, bukan Nate.
      ***
      “Jadi, apa kau sudah siap, Jade?”
      Jade tidak langsung menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Nate. Ia terdiam sambil menatap kakak laki-lakinya tersebut. Ia lalu hanya mengangguk lemah.
      “Kalau begitu, ayo kita kalungkan ke leher kita.” Nate memimpin aksi bunuh dirinya bersama sang adik yang ia cintai—bukan mencintainya sebagai seorang adik, tapi seorang wanita. Tidak butuh waktu lebih dari sepuluh detik untuk mendapati tali bersimpul lasso itu terkalung di lehernya dan Jade.
      Jade menatap ke lehernya yang sudah dikalungi tali tersebut. Sebentar lagi aku akan mati, pikirnya sambil terlongo. Tiba-tiba terlintas di benaknya tentang ketakutan itu, ketakutan yang dirasakan hampir semua orang; takut akan kematian.
      “Jade, mungkin ada kata-kata terakhir yang ingin kauucapkan untuk dirimu sendiri atau untukku yang akan mendengarkannya?” Nate menoleh ke arah Jade. Gadis itu tampak kaget ketika ia berkata seperti itu.
      “Eh? Kata terakhir?” Jade tampak berpikir. Ia tidak tahu yang akan dikatakannya sebagai kata-kata terakhir. Di kepalanya kini justru terbayang ketidakpercayaan bahwa sebentar lagi dirinya akan bertemu malaikat pencabut nyawa. “Tak ada, Nate.”
      “Baiklah. Aku juga tidak akan mengatakan apapun.” Seulas senyum terulas di bibir Nate. Senyum yang menenangkan, seakan mengatakan bahwa setelah ini semua pasti baik-baik saja.
      Jade justru semakin ragu untuk melakukan ini, walaupun tadi ia amat yakin. Rasa takut semakin menenggelamkannya. Pikirannya berandai-andai makin liar apa yang terjadi setelah ini.
      “Semuanya akan baik-baik saja, kan, Nate?”
      ***
      Pemuda berambut pirang itu hanya menatap gadis yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia tidak mengenal Jody—gadis itu—dengan baik. Hanya sekadar tahu sebagai teman satu angkatan.
      Nathan lalu berdiri. Matanya dan Jody bertemu. Mata hijau itu membuatnya ingat akan seorang gadis yang tersenyum begitu menenangkan. Juga gadis yang berlari itu.
      Perlahan, rintik-rintik hujan mulai turun. Keduanya hanya terdiam di antara siswa-siswi yang berlarian untuk berteduh.
      ***
      Pemuda itu mengangguk meyakinkan, walaupun di dalam hatinya sama sekali tidak yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Ia hanya ingin menuruti kemauan gadis itu, satu-satunya orang yang ia cintai. Keinginan yang juga ia miliki, bersatu dengannya meski harus mati dulu dan menunggu waktu bereinkarnasi.
      “Kamu sudah siap?”
      Jade hanya mengangguk ketika mendengar pertanyaan Nate itu. Semakin bersiap untuk terjun ke bawah kini ia justru semakin takut akan kematian. Keyakinannya yang tadi bulat sudah menguap entah ke mana hanya tersisa perasaan takut akan kematian, perasaan yang tak pernah berkelindan sedikit pun di kepalanya.
      Nate lalu menyodorkan tangannya, mengajak Jade untuk terjun bersama. “Aku tahu, kaulah yang merencanakan semua ini, tapi biarkan aku yang memimpinnya.” Seulas senyum yang manis sekali terulas di bibir Nate.
      Gadis pirang itu hanya menggeleng lemah. “Tidak usah, Nate.”
      “Baiklah. Kau siap? Biar kuhitung, ya.” Pemuda itu lalu menarik napas dalam-dalam. Detik-detik terakhir ini terasa begitu lambat baginya. “Hitungan ketiga, ya. Satu…, dua…, tiga.”
      Hanya Nate seorang yang terjun. Jade justru menatap kakak laki-lakinya dengan airmata mengalir. Dengan gesit ia kemudian turun. Berdiri tepat di dekat kaki kakaknya yang menggantung, yang sedang meregang nyawa.
      “Nate, maafkan aku.”
      Hujan langsung mengguyur keduanya.
      ***
      “Jade.”
      “Nate.”
      Keduanya memanggil sebuah nama yang sama sekali bukan nama mereka. Ya, sebuah nama yang tiba-tiba terlintas dalam benak mereka. Nama yang sebenarnya milik mereka beberapa ratus tahun yang lalu itu.
      Mata mereka yang berwarna senada itu bertemu. Hujan yang kini mengguyur sama sekali tak mengusik mereka. Mereka sama-sama berkutat dalam ingatan yang pernah mereka miliki.
      ***
      Nate menatap Jade nanar. Dengan napas sesak, ia mengatakan sesuatu. Entah ini bisa disebut kata terakhir atau apa.
      “Tetaplah hidup, Jade. Tinggalkan aku sendiri jika memang kaupilih begitu.” Nate menangis, tetapi Jade sama sekali tidak tahu. Tangisnya bersembunyi di balik hujan “Aku mencintaimu.”
      Jade hanya termenung sambil menangis menatap Nate ketika mendengar perkataan itu. Rasa bersalah kini bergumpal di dadanya. Mengapa kini dirinya yang berubah pikiran, padahal tadi ia yang merasa paling yakin bahwa ini adalah cara terbaik?
      “Maafkan aku, Nate,” ujar Jade sangat lirih, tenggelam dalam rinai hujan yang turun dengan derasnya.
      “Pergilah….”
      Itu kata terakhir yang Jade dengar sebelum berlari pergi. Melaporkan bahwa kakaknya bunuh diri, tanpa ia menjelaskan penyebab sang kakak bunuh diri.
      Itu tetaplah rahasianya dan Nate.
      ***
      “Kau…, mengingatnya?”
      “Ya,” Jody menjawab dengan mantap. Ia bisa akhirnya mendapat jawaban dari kalimat yang selama ini terkesan mengganggunya. Kalimat yang sebenarnya berisi penuh harapan. “Kurasa kau juga.”
      “Tetaplah hidup, Jade. Tinggalkan aku sendiri jika memang kaupilih begitu. Aku mencintaimu,” ucap keduanya bersamaan dalam keheranan.
    • Posted by Refa Annisa
    • 5 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -