Showing posts with label Kaha Anwar. Show all posts
Panggil Saja Aku Laki-laki
- Di jalanan, di pasar, di tengah-tengah keramaian, di apotik yang menjual alat kontrasepsi, di setiap diskusi para ibu-ibu arisan, tidak hanya ibu-ibu tetapi juga para mahasiswi juga pernah, paling tidak pernah membicarakannya. Semuanya begitu, membahas keperkasaan laki-laki dan kelaki-lakiannya. Tidakkah aku tersinggung, atau sedang tidak pura-pura tersinggung, atau hanya pura-pura tersinggung? Tetapi, kadang mulut perempuan ini perlu disumbat dengan kekuatan laki-laki, atau kita sumbat dengan kelaki-lakian kita. Mereka sudah banyak omong kawan!Suatu hari di Cassanova.Gelak tawa para perempuan setengah tua yang kehabisan cara untuk membelanjakan uang. Berjuta-juta mereka habiskan untuk bisa krimbat, menikur, pedikur, rawat wajah, naikkan bember dan sedot lemak. Semuanya hanya untuk satu tujuan: agar suami mereka bakal betah di rumah, tidak serong kanan juga ke kiri, semuanya agar suaminya tetap lurus ke depan. Tapi terkadang hidup tidak melulu harus ke depan. Tahulah sendiri.Suatu hari di rumah.“Mau kemana, Pa?” setiap pagi mungkin inilah yang paling membosankan. Laki-laki mana atau pria yang mana yang suka dengan pertanyaan model robot? Semua laki-laki dan pria bosan mendengarnya, apalagi aku yang ditakdirkan laki-laki. Apakah semua laki-laki dan pria, juga aku, boleh merasakan bosan? Mengapa pertanyaannya bukan “mau kemana, Ma?” kalau seperti itu kan laki-laki dan pria, juga aku, tidak harus berbosan ria. Namun, kalau aku yang bertanya itu, insya Allah, jawabannya akan selalu sama sampai Kiamat, tidak berubah: “Mama mau ke salon, Pa.” Tapi, seandainya aku, laki-laki, atau pria mana pun yang ditanya jawabannya akan selalu berbelit-belit. “Anu, Ma….anu…”“Anu Papa, kenapa?”“Dua jam lagi ada klien Papa yang harus dibantu, Ma. Papa tak mau dia harus repot-repot keluar kota mencari bantuan.”Suatu hari di kantor.Lelah juga kalau harus menunggu lampu di pinggir itu menjadi hijau. Padahal pilihannya hanya tiga, ada merah, ada kuning, dan juga ada hijau. Tapi kenapa yang muncul hanya ada dua: merah dan kuning. Itu pun kalau tidak aku perintahkan menjadi hijau, lampu itu tidak pernah menjadi hijau. Tahukah kamu siapa yang memegang kendali itu. Ya, dialah istriku. Menjadi operator setalah aku melamarnya di masjid. Tidak pernah sekalipun dia menyalakan lampu hijau untukku.“Kalau Papa ingin lampu hijau setidaknya Mama juga ingin menikmatinya, Pa.” Begitu cakapnya. Ah, masa bodoh dengan istriku. Dia pun tak pernah melayaniku dengan lampu hijau.Begitu juga di kantor, pilihannya hanya dua. Semua harus sesuai dengan prosedur kantor. Meeting ini, meeting itu, dan kertas yang harus aku tanda tangani. Tapi, aku harus main kucing-kucingan dengan istriku kalau mau menandatangani sekretaris pribadi di kantor. Sebagai MoU tentunya.“Mas, bisakah kita makan malam hari ini, istri Mas sedang di Cassanova kan?” SMS dari sekretarisku terpaksa harus mengubah lampu kuning dan merah menjadi hijau. Asyik benar hidup ini.Suatu hari di CassanovaBla….bla…@**&^^%#@**&><????!!!!&%$#*&^%$#@!!##@%>>>~~~$#......ngomogin apa sih mereka….susah banget.Susah atau mudah mestinya sebuah relativitaskan? tapi kenapa setiap kesusahan selalu mereka anggap sebagai suatu yang mengerikan dan susah untuk dipecahkan dan jangan sampai suatu saat nanti kita harus berurusan dengannya. Kesusahan-kesusahannya mungkin hanya berkisar bagaimana membuat suami betah di rumah atau bagaimana cara memanjakannya. Entah di ranjang, entah di meja makan dengan menu-menu baru yang mereka sadur dari majalah kewanitaan. Toh, semuanya akan hilang, setidaknya untuk saat ini. Apalagi kalau mereka sudah ngerumpi di Cassanova.Suatu hari di rumah“Papa,kok baru pulang…?”“Mama juga nggak biasanya pulang selarut ini.”Mama. Coba pikirkan sejenak. Mengapa setiap kali pulang dari ngantorin sekretaris pribadi di kantor wajah dan tubuh istriku ada yang berbeda. Lebih menggairahkan. Ah, Mama kita selesaikan urusan kita malam ini.Suatu hari di Cassanova.Suatu hari di kantor.Suatu hari di rumah.Suatu hari di Cassanova. Ada istriku dan para perempuan setengah tua lainnya.Suatu hari di kantor. Ada aku dan sekretaris pribadi.Suatu hari di rumah, ada istri dan kelaki-lakianku.
- Posted by siska
- 3 Comments
- Tag : Cerpen Kaha Anwar
- Readmore . . .
- Add Comment
Kaha Anwar
- Kaha Anwar adalah nama pena dari Khoirul Anwar. Lahir di Ngawi, pada 28 Mei 1987. Ia menempuh pendidikan mulai dasar hingga menengah atas di kota kelahirannya. Pria yang tak gemuk-gemuk ini, selepas menyelesaikan pendidikan menengah atas, pernah menggelandang di Kalimantan. Selama delapan belas bulan, ia bekerja di pertambangan batubara.Kemudian, ia meneruskan pendidikan di Yogyakarta, kuliah di UIN Sunan Kalijaga jurusan Pendidikan Kimia. Meski, akhirnya, belum sempat mengabdikan di dunia pendidikan.
Pria lajang penyuka kopi ini memulai kepenulisannya sejak duduk di bangku menengah atas. Sekarang, ia tinggal di Yogyakarta, dan bekerja sebagai editor serta penulis lepas di beberapa penerbitan. Orang aneh ini bisa dihubungi lewat alam maya (ketik saja Kaha Anwar di google, pasalnya ia lupa akun-akunya) atau bisa berhubungan lewat nomor 0857-2970-3847.Karyanya yang sudah terpajang di blog ini antara lain :
- Posted by Refa Annisa
- 1 Comment
- Tag : Kaha Anwar
- Readmore . . .
- Add Comment
Antara Desa dan Kota
- Ada garis diametral yang memisah yang menyingkurkan keduanya. Desa adalah perawan yang belum teraba tangan-tangan jahil. Ia simbol kepolosan, kesederhanaan dan kemandirian. Namun, desa, juga terkadang gambaran keterbelakangan, kekalahan manusianya menaklukan roda zaman. Akibatnya, ia tersudutkan dengan kata-kata “kamu ndeso”.Lain halnya dengan kota. Ia adalah tempat berkumpulnya manusia “berpendidikan”. Bertemunya manusia yang suka bereksperimen dalam segala hal: budaya, politik, kesenian, kesehatan bahkan seks. Kota menjadi laboratorium mini yang semua dimasukan dalam botolnya kemudian digojak. Di kota, kita menemukan, riuh di luar tetapi sepi di dalam. Kota itu hingar bingar bersama, tetapi sunyi dalam relung rumah tangga. Kota, dalam kacamata desa, merupakan tempat yang menyeramkan: sekali masuk engkau terjerat dan berubah karenanya. Kota itu penuh monster yang menjelma liluput yang memikat.Itulah tangkapan saya ketika seorang teman menyodorkan draf novelnya. Dalam draf yang masih “mlampo” itu, ia ingin melakonkan kisah seorang gadis desa yang “ngangsu kaweruh” di kota. Sebagai manusia yang sejak kecil hingga remaja berkutat dengan kehidupan desa, dengan segala atribut normanya, merasa canggung menghadapi “riuh-rendah”nya kota. Si gadis harus setia dengan norma “desa”, tetapi juga terus tergenjet dengan alunan-alunan rayuan kota yang begitu memikat.Sang gadis yang lagi ranum dadanya harus berperang dengan suara batin yang mendapat perapian dari nasihat orangtua, “Jangan pacaran selama kuliah!” Saya kira ini peringatan yang wajar dan sangat umum. Pacaran dalam pandangan orangtua menjadi biang keladi “bubrah”nya para pencari ilmu. Selain itu, ada semacam ketakutan melihat gaya pacaran anak sekarang yang mengaburkan kejelasan: antara sudah menikah dan masih pacaran seakan sama. Apalagi di kota yang notabene sifat saling “asah asuh” sudah memudar. Ditambah dengan jauh jangkuan pengawasan orangtua, tentunya ini menambah kekuatiran tersendiri.Apakah orangtua tidak belajar mempercayai sang anak? Bisa saja. Meskipun, “anakmu bukanlah anakmu” sebagaimana syairnya Kahlil Ghibran, tetapi setiap “anak polah bopo kepradah”. Orangtua tetap saja tidak bisa lepas tangan, cul setir, membiarkan anaknya menyusuri dunia yang akan dijamah. Walaupun, bisa saja, secara intelektual sang anak lebih unggul dibanding orangtuanya. Akan tetapi, orangtua sudah lebih lama merasakan asinnya samudera kehidupan dengan segenap iming-imingnya. Setinggi title, gelar akademik, tetapi selama sang anak masih menyandang “anak”, ia selalu di bawah pengawasan orangtua. Sebagai anak, apakah kita legowo?Berangkat dari desa dengan bekal nasihat, memegang panji kepercayaan dan rasa ingin membahagiakan orang tua seakan ajian ampuh menaklukan beringasnya kota. Perlu diingat, kota mempunyai “ajian jala sutra” yang mampu melempuhkan “aji-ajian” yang belum matang, apalagi aji-ajian tersebut dulu diperoleh karena “terpaksa”. Dengan mudahnya ia akan mlempem dengan ajian jala sutranya kota. Jala sutra begitu lembut menyerang, tidak frontal dan tidak kelihatan perkasa. Ia menyusup, perlahan mempengaruhi syaraf-syaraf, membiarkan Anda bertarung sendiri dengan aji-ajian yang Anda miliki. Setelah terkecoh, jala sutra mak bles melumpuhkan daya pertahanan itu. Lemas, tak berkutik dengan digdayanya kota.Begitu pula yang dialami sang perempuan: satu, dua atau bahkan empat semester ia masih bisa bertahan dengan hiruk pikuknya kota, tak tergoda dengan keglamouran kota. Panji-panji masih dipegang kuat. Ibarat antivirus, ia masih baru dan ces pleng menanggapi virus-virus yang berdatangan. Akan tetapi, “rasa kesepian” tak mampu ia tahan. Apalagi, ketika masih di desa, rasa kekeluargaan, regejekan sambil petan adalah sarana mengungkapkan unek-unek. Sekarang, di kota, yang ramai tetapi sepi di kedalamannya, ia tak kuat. Kanan-kiri, temannya punya pasangan yang dilahatnya begitu mesra, menjadi tumpuan curhat. “Alamak, alangkah nikmatnya,” pikir sang gadis.Mula-mula, ia canggung mendulit “pacaran”. Ia hanya ingin “ndulit sak kuku ireng”nya, tak lebih. Sebab, ia masih memegang “wanti-wanti” orangtua. Lama-lama, ia menambah dosis “ndulit”nya, yang semula sepucuk kuku kini bisa satu sloki: hingga mabuk kepayang. Wanti-wanti mati. Orangtua hanya lamunan nun jauh di pojok jagat yang terasing, katrok.“Bukankah hidupku adalah hidupku. Hidup adalah pilihan: salahkah jika aku memilih? Untuk apa aku lahir jika aku tak menggenggam kehidupanku sendiri? Milikku bukan sekadar wadag tetapi juga jiwa, cita-cita, perjalanannya. Inilah kebebasan!”Ia menikmati kenikmatan kota yang baru sejengkal itu. Dalam menikmati “pilihan”nya, ia serahkan “mahkota kulit” kepada sang kekasih. La da lah, begegek ugeg-ugeg, waduh angger genduk sing ayu dewe, kowe wis keblinger!” kata Semar. Tapi nasi telah basi, hendak diapakan lagi? Sesal. Berhenti di sini draft novel tersebut.Desa: Perawan; Kota: Apalah Arti Perawan?Desa. Air sungi gemercik mengalir di sela bebatuan. Sawah-sawah menghampar hijau atau mengemuning padinya. Kicaun burung sambil jumpalitan di pepohonan. Kabut pagi tipis membalut angkasanya. Manusianya sumeh tak henti jika berpasasan satu sama lain, meski belum kenal. Pagi-pagi, laki-lakinya membawa cangkul di pundaknya. Perempuannya membawa snek (tenggok) di pinggangnya, melangkah dengan senyum menatap masa depan di hamparan sawahnya. Jika senja menyapa, mereka berkumpul ditemani dengan lampu teplok atau jika tepat purnama mereka ndeder ing pelataran sambil menikmati kopi dan berbagai rebusan polo pendemnya. Anak-anak bermain petak umpet di bawah siraman purnama atau sekadar mendengar dongeng dari orangtuanya.Gambaran yang begitu elok, tak ada gejolak politik yang dirembuk, tak ada diskusi liberalisme, demokrasi, golongan sesat dan tidak sesat, up date barang-barang mewah, riuh rendahnya kehidupan selebritis. Yang ada tinggal semacam klangenan, dunia sendiri. Apakah ini bentuk kebebalan dengan dunia luar, sikap apatis terhadap perkembangan zaman? Ataukah, mereka memang tak ingin merembuk hal-hal yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupannya, meski pengaruh itu ada?Desa memang unik. Ia bagaikan sesosok makhluk yang menggenggam diam, tak dicuatkan ke permukaan. Loro lopo berani ditanggung, meski dalam keheningan diam-diam desa bisa ngentut yang baunya bisa memosak-masikan ketentraman bernegara. Manusia yang menghuni tentu paham betul arti demokrasi, bahkan mereka sudah menjalaninya sebelum kata demokrasi merambah Indonesia. mereka mempunyai mekanisme memilih “tetua” desa dengan cara mufakat, dan ini sistem yang afdhol daripada sekadar memilih gambar yang tak dikenal. Mereka bukannya tak mengenal kehidupan di luar, tetapi dunia luar ia tempatkan sebagai kabut tipis yang menutupi gunung kesejatian kehidupan di luar.Kota. Jalan-jalannya mirip sungai desa: kendaraan yang terus mengalir tanpa henti. Apabila pagi-pagi, kita bisa menemukan orang yang “lari pagi”, senam untuk menjaga kebugaran. Matahari setinggi tombak, orang-orang dandan rapi dengan dasi bergelantungan di leher, membelah dada: memesona. Menggambarkan keanggunan dan kecendikian pikirnya. Makannya teratur dengan munculnya istilah-istilah keren breakfast, lunk, dinner kadang juga ditambah party. Sungguh asyik. Jika malam jelang melajang: lampu-lampu kota menyorot tajam seakan mengawasi penghuninya, mengalahkan sayunya ranum rembulan. Kafe-kafe hidup, tempat hiburan berbinar. Setiap orang mempunyai tempat yang sesuai dengan kebutuhannya.Di tempat-tempat itu segalanya bisa terjadi dan dibahas: tentang penting dan bahayanya liberalisme, demokrasi yang la raiba fih, tentang harga kebutuhan pokok yang naik, kehidupan selebritis A yang tersandung kasus atau yang lagi naik daun. Semua dibahas dengan jeli, rapi dan apik. Sebab setiap orang menggenggam ilmunya, berpredikat professional. Segalanya harus gamblang, kehidupan harus diselami: hidup yang tak dimengerti adalah hidup yang tak layak dihidupi.Kota tak pernah sepi, meski malam mulai melarut dalam pagi. Manusianya seakan-akan lahir terus menerus: yang satu tidur, yang lainnya bangun. Kota tak pernah sepi, meski kelihatan sepi sebenarnya ia tak pernah sepi. Ada saja klesik-klesik dalam ruang pribadi, di hotel, di kafe yang temaram lampunya. Kota dalam keadaan waspada. Jika ada yang kecolangan, entah dalam bentuk apa, itu hanya kelalaian atau sekadar mempersilakan “maling” mengambil sedikit madunya kota.Itulah kehidupan kota yang boleh jadi dalam pandangan manusia desa agak sedikit menakutkan, agak sedikit samar identitasnya. Tetapi, kota benar-benar bukan monster, bukan samar, hanya saja begitu banyak manusia yang menghidupinya—dengan segela kepandaian, keinginan, hasrat hidup layak—maka kota sulit didefinisikan “jenis kelamin”nya dengan utuh.Hubungan desa dengan kota bak bola lampu dengan anai-anai: selalu memikat. Ia simbiosis yang bukan mutualisme, parasatisme, maupun komensialisme: ia punya nama sendiri yang berubah-ubah. Kota selalu menjadi madu manusia desa untuk mendatanginya, meski sedikit takut. Kota bagaikan lampunya desa yang mengundang untuk datang, karena mencorongkan sinar terang kemajuan meski mampu membakar. Mungkin yang perlu dipersiapkan desa adalah bagaimana caranya melindungi diri agar jangan sampai terbakar setelah menyentuh bola lampu kota yang “panas” itu.Desa dengan gemercik sungainya, kabut tipis yang menutupi cakrawalan paginya, yang sumeh manusia-manusianya, mungkin saja hari ini kita menemukan dalam keadaan yang berbeda. Desa telah menyerupai anak bajangnya kota, sebab pemerintah memperhatikan desa dengan rencana “mbangun deso”. mungkin pemerintah menganggap desa selama ini bayi yang tertidur pulas dan itu berarti harus segera dibangunkan.Kota, dengan kendaraan di jalan-jalannya bagaikan alur sungai di desa, dengan keriuhan malamnya tanpa henti, mungkin saja, hari ini, Anda menemukan kota berusaha menjadi desa karena terlalu penat menanggung kehidupan, desakan keinginan yang tanpa henti sehingga sadar “tubuh” punya mekanisme metabolisme yang tidak bisa terus-terusan digenjot.Tetapi, bisa saja hari ini dan besok, kita tak akan lagi menemukan desa dan kota. Sebab, desa telah berubah menjadi kota dan kota bertiwikrama menjadi hiperkota. Jika kita kangen dengan itu semua: hanya bisa menulis keelokan di lembaran kertas kemudian larut di dalamnya. Tanpa sadar, kita tidur di atasnya dan meneteskan liur membanjiri “gambaran” desa dan kota yang tak rampung kita tulis.Khoirul AnwarPenikmat kopi dan kretek
- Posted by Refa Annisa
- 2 Comments
- Tag : Essay Kaha Anwar Uncategorized
- Readmore . . .
- Add Comment
Satu BH dan Lelaki Keseribu di Ranjangku
Yang paling berat bagi Niken ialah masa depannya yang tak akan bisa diisinya dengan persuami-istrian. Sebab siapa mau jadi suami atau istrinya secara total. Kemudian masyarakat umum yang tak punya kesediaan untuk mengakui eksistensinya. Tetapi, serba sedikit, perlahan-lahan Niken berhasil mengatasi hal itu. (BH, hal. 190)
Niken, dalam cerpennya Emha Ainun Nadjib (selanjutnya disebut Emha), tidak jelas posisinya: pelacur atau sekadar perempuan yang haus lelaki. Namun, pembaca akan segera mengerti bahwa posisi Niken mirip dengan wanita perindu lelaki, bukan pelacur. Sebab, melihat latar belakangnya, Niken merupakan mantan hakim. Ia sarjana yang cukup cerdas. Tetapi, ia berhenti dari pekerjaannya karena “agak” bertentangan dengan nurani. Kemudian, ia di rumah saja, meneruskan usaha dagang orangtuanya.Agak aneh jika Niken itu pelacur, sebab pekerjaan itu umumnya, maaf, biasa dilatarbelakangi masalah ekonomi. Tetapi, Niken adalah perempuan berada, sehingga kenakalannya tak lain karena kesepian.Ya, kesepian di tengah hiruk pikuk material yang menggerogotinya. Gaya hidupnya tak ubah model manusia metropolis: haus pada hiburan. Cap perempuan nakal menyebabkan Niken terus bergelut dalam lubang yang dalam, gelap.Sedangkan, masyarakat hanya bisa mencibir dan asyik melihatnya: “Memang sepantasnya begitu akibat yang harus ditanggung perempuan nakal!”Namun, Emha tidak ikut-ikutan mindstream yang tengah berlangsung. Dengan cekatan, Emha menghadirkan tokoh “aku” sebagai teman diskusi Niken. “Aku” adalah selayaknya teman yang memandang dari semua dimensi kekurangan dan kelebihannya manusia. meski tokoh ia juga menanggung kesimpulan dari teman dan masyarakat bahwa ia pacar Niken. Selanjutnya, mereka tentu saja merendahkannya.Tokoh “aku” dicap layaknya gigolo yang menerima upah. Tetapi, yang dicari Niken tidak hanya berkutat masalah “ranjang”. Niken tidak bergaul sekadar demi seks. Tokoh “aku” bukan pacar Niken, meski Niken pernah mengungkapkan perasaannya. Tokoh “aku” berterus terang tentang perihal keadaaannya. Ia mengajak Niken bercinta sesuai tempatnya: “Kau mencinta itu dan bersedia menerima apa yang mampu kuberikan, sementara aku pun mencintai penderitaanmu.”Hal yang sulit dilakukan, tetapi selayaknya dilakukan jika cinta itu memang tulus diberikan kepada orang yang dicintai. Tokoh “aku” sendiri menerima Niken juga dalam batas yang ia mampu. Tokoh “aku” bisa mengawininya dengan pikiran-pikiran yang menguatkannya. Tetapi, untuk berjalan, nonton, atau kemana-mana bersamanya, terus terang memang masih ada cukup keberatan dalam perasan di benak “aku”. Hal yang lumrah, dan terjadi pada siapa pun.Inilah kejujuran seorang Emha; kejujuran memandang realitas pada diri manusia. Siapa yang siap lahir-batin menerima orang-orang yang dicap nakal oleh masyarakat? Saya kira jarang sekali.Tetapi, titik tekan yang hendak disampaikan Emha bukan masalah kawin itu sendiri, melainkan teman yang saling mengisi, teman yang mau diajak bertukar pikiran, menumpahkan unek-unek sebagai manusia yang hidup di tengah alam yang bergejolak. Sebab, orang akan menjauhi manusia nakal secara total, baik lahir dan batinnya, tanpa melihat sisi jiwanya yang kerap menangis.Ternyata benar, pelacur tak selamanya menikmati kepelacurannya. Bahkan, sang pelacur itu menjerit sedih dalam keremangan dunianya. Terlihat terhibur dengan berbagai macam laki-laki, namun apa arti hiburan bagi sang pelacur?“Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-dia dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin....” (BH, hal. 4)Kehidupan pelacur tak pernah untung, yang untung hanyalah germonya. “Germo bosku, lelaki yang paling beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya-raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahya yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau. Sungguh tragis! Bagaikan sapi perah yang tak pernah menikmati kelezatan susunya, “susu berbalas rumput teki!”.Lantas jika ditanya, kenapa memilih jalan kelam? Apakah melacur itu pilihan atau pelampiasan, balas dendam keadaan? Soal yang pelik. Di tulisannya ini, Emha menuliskan “Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiri dan lelaki yang mencampakkanku ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini, maka lelaki kedua hanya saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus....” Bahkan, yang mengenaskan: “…. Di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.”Membaca kumpulan cerpen “BH”-nya Emha bagaikan diajak menelusuri dunia yang tak asing bagi kita, tetapi seakan tersisih dan cepat-cepat kita menutup mata dengan jari yang terbuka: mau tapi malu. Emha mengajak pembaca memahami dimensi lain dengan sudut lain. dunia yang selalu dicap neraka, tetapi kita jarang mendengar teriakan manusianya.Bagi saya, buku ini, unik seunik penulisnya. Inilah “jalan sunyi” Emha dalam membaca realitas kehidupan yang dikemas dalam cerita pendek.***Judul : BHPenulis : Emha Ainun NadjibTebal : x + 246 halaman; 14 cm x 21 cmISBN : 979-709-168-6- Posted by Unknown
- 6 Comments
- Tag : Fiksi Kaha Anwar REVIEW BUKU
- Readmore . . .
- Add Comment