Showing posts with label Zilian Zahra. Show all posts
AKU INI APA
Aku ini apaMakhluk kecil dunguLebih dungu dari kerbauAku ini apaBersama kumpulan wewangian mekarNamun aku di dasar, anyirAku ini apaTak mampu berjalanpun terbangSengatan, lengkingan, ejekanKerap menyergapAku ini apaSepi dan sunyi-pun enggan berkawanBiarlahDiri melepuh lebur lenyapTerbawa angin kalapAgar aku tahuAku ini apa---Panjang Wetan, 18 Maret 2015- Posted by Zilian Zahra
- 0 Comments
- Tag : Puisi Zilian Zahra
- Readmore . . .
- Add Comment
Zilian Zahra
- Zilian Zahra merupakan nama pena dari Nailiz Zahroh. Perempuan yang lahir dan besar di Pekalongan, kota kecil di Provinsi Jawa Tengah, 28 tahun lalu. Terbiasa menulis dalam bentuk puisi. Kini mencoba menulis cerpen dengan sohih setelah mengikuti #KampusFiksi11 Diva Press di Yogyakarta.Jalan-jalan adalah hobinya, sekedar menghirup udara alam bebas dan menemukan inspirasi. Pernah belajar menulis bersama lewatfacebook di grup Rumpun Nektar dan sesekali mengikuti kegiatan di Lini Kreatif Writing. Secuil mimpi masih ada untuk bisa menulis buku sendiri.Tulisannya berserakan di http://zilianzahra.blogspot.com, beberapa masuk dalam antologi puisi 103 Penyair Pekalongan, Indonesia dalam Titik 13, Amerta dan Rendjana. Walaupun tertatih, masih ada semangat agar bisa menjadi penulis. Bisa dihubungi lewat facebook dengan nama Zilian Zahra Arjawani dan twitter @zilianzahra.Tulisannya yang ada di blog ini antara lain :
- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Zilian Zahra
- Readmore . . .
- Add Comment
ANTARA DINDING TEBAL BERBESI DAN ORAKEL
- Karya : Zilian Zahra

Ilustrasi foto di ambil dari internet Akan sangat indah apabila aku dapat menikmati dunia, dan akan sangat bahagia jika aku mendapatkan kasih sayang, seperti teman-temanku di Molino.Semua hanyalah mimpi untuk anak sepertiku, yang tidak pernah melihat senyum matahari dan bulan. Hanya ada dinding tebal dan besi yang mengelilinginya.Puting beliung akan datang, ia akan memporak-porandakan kampung Dalangan. Orang tua bertopi hitam datang sebagai isyarat. Aku menerima isyarat itu persis saat aku menjulurkan lidah panjangku pada sela pintu yang dikelilingi besi.Orakel, orang tua itu ku sebut. Aku tidak melihatnya datang melalui pintu. Lubang kecil tempat pengurus rumah meletakkan makanan-pun tidak. Dia hadir ketika mata ini terlelap, dan pergi setelah ia mengangkat topinya. - Posted by Zilian Zahra
- 7 Comments
- Tag : Cerpen Zilian Zahra
- Readmore . . .
- Add Comment
