Showing posts with label Anis Stiyani. Show all posts

No Good in Goodbye

    • No Good in Goodbye
      Oleh Anis Stiyani

      “Sebaiknya... kita sampai di sini saja...” Bisikan lirih yang nyaris serupa desauan angin di akhir musim kemarau membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya. Tak kupedulikan lagi aliran air yang terus menderas di bawah jembatan tempatku berpijak sejak setengah jam yang lalu bersamanya.
      “Apa?” timpalku dengan suara tercekat, seakan tiba-tiba saja aliran sampah yang berputar-putar di pilar-pilar beton jembatan berpindah ke tenggorokanku.
      Bukan kali pertama, kalimat seperti ini meluncur dari bibir merah cherry miliknya. Tapi tetap saja, rasanya sama. Sama-sama menakutkan. Aku takut kehilangan dia setiap waktu.
      “Bukankah kita sama-sama tahu, sejak awal ini salah?” ada getar yang sempat tertangkap oleh telingaku di ujung kalimatnya. Ada apa ini? ini hanya main-main, kan?
      “Begitu?” tukasku berusaha tenang. Dia mengangguk mantap, lalu tanpa melihatku lagi, dia melangkah pergi.
      Goodbye...” ujarnya lirih yang masih bisa tertangkap telingaku.
      Aku masih terdiam melihat punggung kecilnya yang mulai menjauh dari penglihatanku. Aku masih tak bergerak, masih berharap bahwa dia akan berbalik, lalu berlari ke pelukanku sambil meneriakan ‘April mop!!!’ untukku. Tapi dia tetap melangkah sampai tiba di ujung jembatan. Saat itulah aku sadar, ketakutan terbesarku terjadi, dia benar-benar pergi.
      Bodoh, bulan April sudah berlalu.
      ***
      “Anye...” bisikku lirih. Sambil menoleh kiri-kanan, memastikan orang-orang tak terganggu dengan suaraku.
      Gadis dengan kaca mata baca berbingkai bulat itu masih saja diam, larut dalam buku setebal balok es di hadapannya. Rasanya gemas sekali, ingin menendang buku itu jauh-jauh dari hadapan gadis di sebelahku ini.
      “Anye...” kunaikkan lagi suaraku, beberapa desibel, berharap dia terusik dan menoleh ke arahku. Tapi yang terjadi sebaliknya, dia masih tetap fokus dengan buku sialan itu, sementara aku dihadiahi tatapan ganas dari pengunjung perpustakaan. Good Job, Bima!
      Dengan sisa-sisa kekesalan yang kupunya, kutarik paksa buku tebal yang masih saja digeluti gadis ini. Wajahnya menoleh kepadaku. Oke, sepertinya ini tidak bagus. Dia seperti induk ayam yang merasa terganggu karena anaknya diambil. Aku meringis sekilas,
      “Anye, kan?” tanyaku memastikan.
      Gadis di sebelahku ini merengut sadis, lalu menarik bukunya yang berada dalam kekuasaanku. Dia terlihat mengaduk-aduk isi tasnya, lalu setelah menemukan sebuah pembatas buku dari kertas papirus dengan gambar kucing berwarna biru, diselipkannya pembatas buku itu di tempat terakhir ia membukanya tadi.
      “Bukan.” Ia menyahut singkat. Menutup bukunya, berlalu pergi dengan menyandang tas ransel hitam yang terlihat penuh itu. Uh, pasti berat sekali. Aku meringis dalam hati.
      “Anyelir Aprilia, benar?” seruku ketika keluar dari ruang baca perpustakaan pusat, masih dengan mengekor gadis yang tengah berjalan cepat sambil mendekap buku tebal tadi di dadanya.
      “Apa?” sentaknya dengan nada sinis setelah berbalik menghadapku. Aku meringis menyambuti wajah tidak bersahabat yang ia tampilkan. Kaca mata burung hantu yang tadi dipakainya sudah tidak ada di sana.
      “Benar kan, Anyelir Aprilia?” tanyaku sekali lagi. Hanya ingin memastikan. Gadis di hadapanku ini mengangguk sekilas, lalu membalikkan tubuhnya lagi, hendak pergi.
      “Lalu kenapa diam saja saat kupanggil tadi?” gumamku menjajari langkahnya. Kulirik sekilas, dia nampak memutar bola matanya jengah. Hei, bola matanya berwarna coklat terang, seperti karamel.
      Kurasa manis dan meleleh adalah perpaduan yang pas untuk kami saat ini. Dia yang manis, berhasil membuatku meleleh.
      Heish, what a creepy I am!
      “Memanggil? Kapan?” tanyanya sambil menelengkan kepala.
      “Tadi. Anye... seperti itu,” ujarku kembali mempraktikan caraku memanggilnya.
      “Oh, itu. Kukira kau sedang memanggil orang lain,” tanggapnya santai lantas kembali melangkah.
      “Jadi, bagaimana orang-orang biasa memanggilmu?” kejarku, masih penasaran.
      Dia menaikkan sebelah alisnya, sekilas. Terlihat menimbang sebelum menjawab pertanyaanku tadi, “April.” Lalu dia berlalu begitu saja dari hadapanku.
      ***
      Adakah hal bagus dari kata sebaiknya jika diikuti kata berpisah setelahnya? Sampai bolak-balik seribu kali mengepel Tembok Besar China pun, aku tidak bisa mendapatkan korelasi yang baik antara keduanya.
      Aku masih ingat dengan raut wajahnya beberapa malam yang lalu, saat pertemuan terakhir kami. Saat dengan tanpa perasaan dia mengakhiri hubungan kami. Tunggu, hubungan macam apa yang tengah kubicarakan sebelumnya? Tsk, melihat reaksinya saat berada di sisiku selama ini, sepertinya hanya aku saja yang menganggap bahwa hubungan ini nyata, bahwa rasaku nyata—nyata-nyata bertepuk sebelah tangan, sial!
      Boy... aku takut bola matamu menggelinding ke mangkuk bakso-ku. Please, temui dia jika kau merasa perlu...” dengus Mikail terlihat bosan.
      Aku menggeleng lemah, menggeser-geser layar ponselku secara acak, tanpa minat. Tatapan mataku masih sama, mengarah pada satu titik—seperti saat aku dan Mikail masuk ke sini setengah jam yang lalu—di sudut kantin. Titik yang membuatku lemah dan kuat di saat yang bersamaan. Titik yang membuatku merasakan sakit dan bahagia secara bersamaan. Anyelir.
      “Kukira melihat seorang Aryabima jatuh cinta adalah hal paling menjijikan di dunia. Ternyata melihatnya patah hati pun lebih menjijikan!” gerutuan Mikail semakin menjadi.
      Aku hanya mengangguk membenarkan. Yah, aku memang sedang patah hati. Patah hati karena gadis yang tak pernah menganggap keberadaanku di saat orang lain berlomba-lomba menoleh ke arahku.
      “Kukira memilikinya adalah satu-satunya cara agar aku terhindar dari kesakitan dan patah hati...”
      “Dan kau sukses mematahkan hatimu sendiri karena keputusan bodohmu. Komitmen terlalu rumit untuk ukuran bocah seperti kita. Di situ letak kesalahanmu,” tukas Mikail sinis.
      “Aku tidak pernah merasa bahwa ini salah...”
      “Yah, kau hanya mencintai orang yang kurang tepat, jika itu yang ingin sekali telinga panjangmu dengar!” geram Mikail terdengar jengkel.
      Mikail dan mulut pedasnya. Dua perpaduan yang pas. Dan dia selalu benar, mungkin aku hanya menjatuhkan pilihan pada orang yang kurang tepat. Tapi—hei, siapa juga yang dapat menyetir hatinya? Siapa yang dapat menentukan akan menjatuhkan hatinya pada siapa? Mikail sialan! Sepintar apapun dia dalam urusan berlogika, hatinya tumpul. Dia belum pernah berada dalam posisiku saja.
      Prang!
      Bunyi benda pecah belah beradu dengan keramik—yang  tertangkap ekor mata—membuatku mengalihkan perhatian sepenuhnya pada gadis yang telah kuamati sejak tadi. Anyelir terlihat sedang  berjongkok memunguti pecahan mangkuk dan gelas di sekitar mejanya. Dari tempatku duduk, bahunya terlihat bergetar sesekali.
      Anye, kau baik-baik saja, kan?
      ***
      “Anye...” bisikku usil pada gadis yang tengah sibuk menikmati batagor di piringnya. Pipinya terlihat menggembung, lucu sekali.
      “Jangan memanggilku seperti itu!” sungutnya dengan wajah tertekuk sebal.
      “Mamamu bilang aku boleh memanggilmu seperti itu...” bantahku yang membuat dia semakin geram.
      “Tapi aku tidak mau!”
      “Kenapa?” pancingku lagi.
      Saat ini kami sedang berada di taman belakang rumah Anye. Disini terdapat sebuah danau kecil buatan yang dinaungi oleh sebuah pohon besar dan dikelilingi bangku-bangku kecil, tempat aku dan Anye menghabiskan batagor.
      “Aku tidak suka.” Kutarik pipi Anye yang sedang menggembung penuh makanan dengan gemas.
      “Bima, sakiiit!” jeritnya keras, menjauhkan pipinya dari jangkauan tanganku. Sementara aku masih sibuk tergelak sambil menikmati wajah cantiknya yang terkena sinar matahari. Kukira visualisasi pada iklan pembersih wajah di TV itu terlalu mendramatisir, hanya sebatas hal-hal persuatif yang berfungsi untuk menarik minat pasar. Tapi sepertinya, wajah cerah Anye yang tertimpa sinar matahari benar-benar mengalihkan duniaku. Heish!
      “Tanganmu kotor, bodoh! Kalau sampai besok pipiku berjerawat, kukutuk kau jatuh cinta padaku!”
      Ada kemungkinan, dia hanya bercanda saat mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi cadaannya sama sekali tidak lucu. Candaan yang sekadar bernilai ‘hanya’ itu malah membuat sesuatu di sudut hatiku merasa terusik. Kurasakan tawaku sudah berhenti sejak tadi, berganti tegang yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku. Aku merasa seperti maling yang tertangkap basah.
      Aku berdehem untuk menetralisir degup jantung yang mulai menggila. Sepertinya darah tiba-tiba saja berlomba mengalir ke sana, memprotes untuk segera di pompa ke seluruh tubuhku dalam waktu bersamaan. Kurasakan tubuhku menghangat, sementara keringat dingin mengalir dari pelipisku.
      “Sepertinya kutukanmu bekerja lebih cepat,” ujarku tenang, berusaha mati-matian menjaga suaraku agar tidak bergetar karena terlalu gugup.
      “Ha?” raut terkejut milik Anye membuat sebuah keberanian menyelusup pelan dalam diriku.
      “Aku jatuh cinta padamu, sekarang,” lanjutku kemudian dengan senyum lebar.
      “Kau bercanda...”
      “Kau pacarku sekarang...”
      “Kau mabuk ya?”
      “Jika meminum segelas air jeruk bisa membuat orang mabuk, anggap saja begitu.”
      “Kau gila?”
      “Kau tidak tahu? Ini semua akibat kutukanmu beberapa saat yang lalu,” tanggapku sambil mengulum senyum di bibir.
      “Tidak mungkin kutukanku benar-benar mengenainya, kan?” gumam Anyelir  lebih kepada dirinya sendiri. Aku terkekeh geli.
      “Aku serius dengan ucapanku, Anyelir. Kita berpacaran sekarang.”
      “Coba saja kalau kau bisa membuatku jatuh cinta padamu!” dengusnya terlihat kesal dan merona pada saat yang bersamaan.
      “Akan kucoba. Dengan senang hati.”
      ***
      Gerakan tangannya mematung di udara. Pecahan gelas terakhir yang dia pegang terlepas begitu saja, jatuh terhempas bersama pecahan-pecahan gelas lain dalam nampan di hadapan kami. Dia terlihat menyedihkan, dengan kantung hitam tebal yang menggantung di bawah mata. Wajahnya terlihat lebih cekung dari terakhir kali kami bertemu.
      “Kau baik-baik saja?” dapat kurasakan nada cemas yang tertelan di ujung tenggorokanku. Pahit. Pahit rasanya melihat dia tidak seperti yang kuharapkan. Jelas, dia tidak baik-baik saja.
      “Bi... Bima?” sapanya tercekat. Wajahnya pucat sekali. Jangankan merona, aku tidak yakin ada darah yang mengalir di sana sekarang.
      “Kau terluka?” tanyaku tenang sambil meneliti jari-jarinya. Jari-jari kurus itu terlihat pucat dan sedikit bergetar. Kuraih tubuhnya yang terasa semakin kurus itu ke dalam rengkuhanku. Kubimbing dia berjalan meninggalkan kantin tanpa menggubris tatapan penuh tanya dari beberapa pengunjung.
      “A...aku baik-baik saja,” ujarnya terbata saat kami sudah berhasil keluar dari area kantin kampus. Dia terlihat seperti enggan berdekatan denganku.
      “Aku bisa melihatnya,” tukasku sinis. “Aku lihat kau baik-baik saja. Terlalu baik-baik saja hingga aku bisa melihat wajah mayat hidupmu,” lanjutku dengan nada semakin sinis. Bahkan aku tidak dapat mengendalikan nada dingin yang keluar dari mulutku.
      “Tentu. Aku sedang mencobanya. Aku baik...”
      “Hentikan semua omong kosongmu! Siapa yang sedang coba kau bohongi, hah?!” bentakku murka. Wajahku terasa panas. Seharusnya tidak begini, tapi aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku terlalu kecewa padanya. Hatiku terlalu kecewa. Terlalu sakit.
      “Diriku sendiri...” gumamnya lirih. Isakannya lolos begitu saja. Isakan itu serupa dengan belati. Belati tumpul dan berkarat yang mencoba mengoyak hatiku. Bahkan dengan pacarku yang sebelumnya aku tidak pernah  merasa seperti ini. Aku tidak pernah merasa seterluka ini saat melihat wanita menangis di hadapanku.
      Nice. Nice try...” tukasku muram. “Tidak usah bersusah payah membodohi dirimu sendiri. Tanpa melakukannya pun kau sudah terlihat bodoh. Jangan membuatku menyesal karena pernah menjatuhkan pilihan padamu.”
      “Memang itu yang sedang kulakukan. Membuatmu menyesal karena telah menyeretku dalam permainan konyolmu.” Apa? Dia bilang ini semua permainan konyol?
      “Konyol?” mataku menyipit tidak suka mendengar perkataannya barusan. Oke, ini terlalu kejam. Kata-katanya terlalu kejam untuk ukuran gadis mungil nan manis.
      Hah! Bahkan aku masih memikirkan betapa mungil dan manisnya gadis dengan mulut beracun di hadapanku ini. Sialan sekali kau Aryabima!
      “Apalagi yang bisa dikatakan untuk perjalanan kita?” raungnya tiba-tiba membuatku  terlonjak. Dia belum pernah menunjukkan sisinya yang seperti ini kepadaku. Dia yang hilang kontrol dan tak terkendali.
      “Selamat! Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu! Aku bodoh ya? Nice try,  Bima!” dia membentakku. Tapi bentakkannya membuat sekujur tubuhku menghangat.
      “Lalu apa salahnya dengan jatuh cinta padaku? Kenapa kau memilih berpisah? Apa berpisah membuatmu lebih bahagia?”
      “Kuharap kau tidak melupakan posisimu...” lirihnya tanpa menjawab pertanyaanku. Diusapnya kasar air mata yang meleleh di pipinya. Pipinya sudah terlihat merah sekali. Aku ketakutan setengah mati kalau-kalau pipi itu akan lecet, melihat betapa kasarnya dia mengusap pipinya. Air mata sialan!
      “Apa? Posisi apa?” tanyaku emosi. Gadis ini benar-benar memberikan efek terlalu besar pada sistem kerja tubuhku.
      “Kau sepupuku,” ujarnya bergetar.
      “Sepupu jauh. Kita tidak memiliki ikatan darah sama sekali!” kukepal tangan kuat-kuat, berusaha merendamkan emosi yang menggelegak, mendidihkan tiap tetes darah dalam tubuhku. Aku benci dia mengungkit ini lagi.
      “Kau akan menjadi Kakak Iparku sebentar lagi, kalau kau lupa,” gumamnya lirih. Terdengar seperti sayatan pilu.  Kemudian ia berlalu dari hadapanku. Terlihat mantap, tanpa menoleh sedikitpun.
      Kupandang nanar punggung rampingnya yang terlihat bergetar sesekali. Dari luar, mungkin dia terlihat kuat dan berkilau seperti kaca yang berhasil keluar dari mesin furnish bersuhu di atas delapan ratus derajat celcius, yang mampu beradaptasi secara cepat dengan air dingin. Secepat ia leleh, secepat itu juga dia beku. Mungkin dia terlihat tegar dan kuat, tapi dia lupa. Sekuat-kuatnya kaca, dia akan hancur juga saat dibanting.
      Jadi... kita benar-benar berpisah sekarang? Lalu kenapa harus berpisah kalau ternyata kita saling mencintai? Untuk kebaikan yang seperti apa perpisahan kita ini? kita berkorban untuk siapa?
      Langkahnya semakin lama semakin menjauh. Menyadarkanku, semuanya takkan lagi sama setelah hari ini. Hidupku tak lagi sama. Ada lubang besar yang menganga di tengah dadaku. Lubang besar yang membuatku sulit bernapas. Lubang besar itu tadinya diisi oleh segumpal hatiku. Saat gadis itu beranjak, kusadari hatiku ikut pergi bersamanya. Aku mati. Tak yakin akan cinta lagi.
      *End*
      Sekaran, 2 Juni 2015


    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Kaca yang Berdebu

    • Kaca yang Berdebu
      Oleh : Anis Stiyani
      “Dia memuntahkan darah pada kemejaku, pagi tadi.”
      Sewajarnya, dalam keadaan seperti ini aku akan melihat banyak guratan ekspresi dalam wajahmu. Tapi, selama itu adalah kau, ekspresi adalah satu-satunya barang langka yang akan kutemukan, bagaikan mencari stomata daun dengan menggunakan mata telanjang, mustahil terlihat.
      “Aku bahkan tidak sadar, dia benar-benar begitu bodoh. Aku masih melihat senyum konyolnya tadi pagi,” setengah melantur, kau mengaduk kopi pertamamu hari ini. Kopi yang seharusnya disiapkan oleh dia-mu, seseorang yang selalu kau ceritakan padaku tanpa kenal lelah.
      “Kau tahu? Banyak hal yang sudah ditakdirkan terjadi, dan beginilah takdirku.”
      Benarkah? Kau tidak ingin menangis?
      Satu hal yang selalu kusuka darimu adalah, kau akan mengelus punggungku naik-turun, secara teratur, membuatku nyaman berada dalam dekapanmu. Kugeliatkan badan, menyusupkan tubuh lebih dalam pada dekapanmu, yang selalu terasa hangat. Oke, anggap aku genit. Tapi, siapa yang akan peduli?
      Kurasakan tangan-tangan panjangmu menangkup wajahku. “Kau mau susu? Aku yakin kau pasti mau, ayo!”

      ***
      “Syailendra... Syailendra... bangun,” suara lembut terdengar sayup-sayup di telingaku. Aku terlalu malas untuk bangun. Menggeliatkan tubuh, kutepuk-tepuk wajahmu. Bangun...
      “Andra... Syailendra, tidak mau melihatnya untuk terakhir kali?” kudengar bisik halus itu lagi, tapi kau masih betah dengan posisimu, tak terganggu sedikitpun.
      “Hei, bangun...” kali ini, wanita yang biasa kau panggil ibu itu, menepuk bahumu sedikit keras. Sementara aku berjalan anggun menuju kursi malas milikmu, tempat favorit kita  menghabiskan coklat panas saat malam-malam.
      Duduk tegak, dalam penglihatanku, kau seperti bocah umur dua tahun yang terjebak dalam tubuh laki-laki dewasa duapuluh tujuh setengah tahun. Kau menggeliat di atas kasurmu. Berguling ke kanan, berguling ke kiri, lalu membuka mata.
      “Ibu, di sini? Ada apa?” kau bertanya dengan raut bingung, seolah-olah kau baru sadar kalau rasa air laut benar-benar asin.
      “Kita ke rumah Sasti sekarang, ya?” kau mengangguk tanpa memberikan komentar lebih, beranjak masuk kamar mandi.
      “Dia akan baik-baik saja, ‘kan, Mell? Sasti perlu melepaskan rasa sakitnya. Iya, ‘kan?”
      Ibumu mengelus puncak kepalaku sebelum beranjak pergi. Mungkin Ibu juga butuh menenangkan diri. Kehilangan menantu yang baru beberapa menit didapatnya, tepat di depan mata. Bahkan saat doa-doa untuk pernikahan kalian masih basah, menyatu bersama udara.
      Setelah hening mengisi penuh setiap sudut-sudut kamar ini, Kau keluar dari kamar mandi. Dengan rambut basah, kulit lembab dan... aku melewatkan satu bagian basah yang tak kau sadari keberadaannya, matamu. Mata basah, memerah.
      “Hei, kita lanjutkan acara tidur kita setelah ini, oke? Aku akan segera kembali,” kau berujar begitu santai sambil lalu. Menyambar kemeja hitam yang tepat berada di sebelah kemeja putih, bekas kau pakai saat akad nikah tadi pagi.
      Hitam dan putih yang begitu kontras. Persis seperti keadaan dirimu yang begitu ironis hari ini. Aku tahu, bahkan disetiap belaianmu pada puncak kepalaku hari ini, kau menyimpan seribu getir yang sedang coba tekan dalam-dalam. Sekarang, senja menjelang. Ini hari yang cukup berat untukmu, ‘kan?
      ***
      Aku sedang berguling di sofa, menikmati iklan-iklan yang berkelebat lewat—terlalu cepat untuk mata pemalasku—di Televisi. Tiba-tiba saja, kau datang, ikut bergabung bersamaku, dengan secangkir penuh minuman yang memperlihatkan asap yang meliuk dalam aliran laminer, seperti konsep fluida pada umumnya. Dari baunya yang harum dan menyengat, aku yakin itu kopi, atau setidaknya, begitu Ibu mengatakan jenis minuman itu setiap pagi saat memberikan kepada ayahmu.
      “Harusnya akan ada istri yang memanjakanmu saat malam tiba begini.” Ibumu yang sejak tadi berkutat dengan sinetron tiba-tiba saja menggersah sendu.
      “Sasti perlu tempat untuk pulang. Tempat dimana dia tidak perlu merasakan sakit lagi. Ibu tau itu, ‘kan?” ujarmu terlampau tenang.
      Seingatku, terakhir kali kita bertemu, lingkaran hitam di bawah matamu belum setebal ini. Rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di sekitaran wajahmu juga belum terlihat kacau. Seingatku, terakhir kali kita bertemu, kau berada dalam tampilan pengantin laki-laki paling bahagia sepanjang masa.
      “Berapa lama kau tidak tidur? Wajahmu kacau sekali...”
      Kau terlihat berpikir, mungkin saja kau sedang menghitung kapan terakhir kali kau pergi tidur? Atau mungkin kau sedang mengingat-ingat kapan terakhir kali kau pergi ke kamar mandi? Bau tubuhmu sudah serupa dengan kopi dan asap rokok. Dengan kemeja kusut dan lengan terlipat asal sampai batas siku, dirimu layak mendapatkan predikit laki-laki paling mengenaskan sepanjang masa yang bersanding dengan kisah tragis di hari pernikahannya.
      “Aku cepat lelah belakangan ini. Sebagian besar waktuku habis di atas tempat tidur. Jadi, aku perlu kopi. Pekerjaanku tidak akan selesai dengan sendirinya, Bu...”
      Aku meringis mendengar jawabanmu. Ibu bertanya apa, kau menjawab apa?
      “Sepertinya, kopi ini pun akan sia-sia,”
      “Tidurlah, jika itu membuatmu merasa lebih baik,” Ibu mengalah, merasa sia-sia jika harus berbicara dengan dirimu yang memperlihatkan sisi datar dan baik-baik saja.
      Apa benar, kau baik-baik saja?
      “Ayo tidur, Mell!”
      ***
      Kadang aku berpikir, bagaimana manusia bisa diciptakan dengan wajah datar tanpa ekspresi sepertimu? Kadang, aku bertanya, apakah Tuhan lupa menempatkan beberapa syaraf di daerah-daerah tertentu, yang dapat menarik sudut-sudut wajahmu, menghasilkan ekspresi. Lalu aku mulai sadar. Mungkin, harus ada satu dari seribu orang di dunia ini yang sejenis dengan dirimu, dengan begitu anomali akan selalu tampak mencolok dan menonjol untuk sekedar dilewatkan.
      “Dia terlalu bodoh, memilih waktu yang tidak tepat. Kau lihat, tuksedo yang sudah dia pesan enam bulan lalu jadi sampah seperti ini? dia benar-benar pengacau yang ulung!” Kau masih sibuk hilir-mudik di dalam kamar. Masih melirik ke arahku sesekali, lalu hilang di balik pintu kamar mandi.
      Yah, wanita tersayangmu memang selalu jadi pengacau yang ulung. Mengacaukan rencanamu, mengacaukan hatimu, lalu mengacaukan hidupmu sebagai penyempurnanya. Hari ini, tepat empat puluh hari setelah pernikahanmu berlangsung. Hari ini, tepat pula empat puluh hari istrimu yang baru saja kau ikat dengan hatimu, terikat oleh benang kematian.
       “Andra... kau dimana?” suara mendayu seorang wanita terdengar dari balik pintu kamarmu. Sementara suara gaduh dari balik kamar mandi menandakan kau sedang tidak baik-baik saja.
      “Ouch!!!” suara erangan tertahan serta bunyi pintu kamar mandi yang di banting kasar membuatku menggeliatkan badan malas. Ini sudah biasa terjadi.
      “Aku akan memakai baju dulu, Arana. Tunggu sebentar,” teriakmu di balik pintu lemari. Menekuri kuku jariku yang mulai memanjang terasa lebih menyenangkan daripada melihat kulit punggung pucatmu, yang bersaing ketat dengan warna pucat bulan malam ini.
      Sedikit menyanyi sepertinya dapat melepaskan penatku. Baru saja aku mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan suara, pintu kamarmu menjeblak paksa dan muncul sosok perempuan yang belakangan akrab terlihat beredar disekitarmu. Mungkin dia berpikir, dirinya adalah satelit yang akan selalu menjaga keseimbangan dengan berada di sekitarmu. Harusnya dia sadar, kau dan dia tak lebih dari ekor komet dengan matahari.
      “Hai, Melly... apa kabar?” ujarnya ramah, terdengar seperti dipaksakan. Kuabaikan dia dan lebih memilih memandangmu yang sedang menuju ke arah sofa tempatku duduk malas.
      “Kau tampaknya sedang sibuk, ya?”
      “Hanya sedang memilah barang-barang,” ujarmu cuek sambil menyapukan pandangan pada kotak karton berisi kenanganmu bersama Sasti.
      “Kemajuan yang bagus,” timpal wanita di hadapanmu, matanya ikut-ikutan menyapu seisi ruanganmu. Berhenti padaku sejenak, lantas fokus padamu lagi sepenuhnya.
      Biar kuberitahu, sepertinya dia menaruh hati padamu.
       “Dari sekian banyak keinginanku di dunia, ada satu yang tak akan pernah terwujud, seberapa keraspun aku mencoba mewujudkannya.” Kau memulai sesi berceritamu dengan wanita ini. Atau yang ibumu bilang padaku saat kau pergi ke kantor kemarin, ini terapi untuk kesembuhanmu.
      “Melly, kau tahu Aleksitimia? Aku sangat sedih,  Andra mengidapnya,” cerita ibumu beberapa hari yang lalu. Mata senjanya muram, basah, berurai air kepedihan. Ibumu pikir kau sakit? Kurasa kau hanya perlu jujur pada hatimu sendiri, bukan perkara sakit.
      “Mau kopi? Kebetulan aku belum minum kopi hari ini,” ujarmu lantas menggiring wanita yang masih tersenyum lebar padamu itu keluar kamar. Yah, kamar ini hanya milik kita berdua, dan akan selalu seperti itu.
      “Kau yakin tidak mau ikut ke dapur, Mell?” nada datar yang biasa kudengar itu menjajikan sejuta kenikmatan. Tentu saja aku mau ikut! Dengan malas-malasan aku mengikuti di belakangmu.
      ***
       “Aku tak perlu menentukan bagaimana aku harus memilih di antara dua pilihan. Pilihan hanya akan membuat kepala pusing.”
      Kau mengaduk-aduk cangkir kopimu sebentar. Satu... dua... tiga... sepuluh. Setiap harinya akan selalu sama, sepuluh kali. Dengan dua sendok kecil gula, setengah sendok krim, dan tiga sendok penuh bubuk kopi hitam. Perpaduan yang cukup mengerikan untuk ukuran sebuah cangkir kopi yang dapat habis dalam sekali tegukan. Tanganmu menyusuri pinggiran cangkir putih yang masih mengepulkan asap.
      “Kau tidak harus selalu memilih saat sudah tau apa yang ingin dilakukan. Termasuk membebaskan perasaanmu, atau berpura-pura tegar.”
      Gerakan tanganmu yang sibuk memutar-mutar pingggiran cangkir berhenti begitu saja, disusul deru napas yang keras, senada frustasi.
      “Kadang manusia hanya terlalu terbawa perasaan. Setiap yang bernapas pasti akan mati, begitu juga Sasti. Apa lantas aku harus meprotes kepada Tuhan agar tidak mengambil dia secepat itu?” napas pendek-pendekmu memberitahukanku satu hal, kau marah dan tidak terima. tapi kau masih setia mengelak.
      Kau meneguk kopimu lagi yang masih sangat panas. Dalam keadaan normal, seharusnya itu akan membuat lidahmu melepuh. Tapi kau tetap diam, seakan-akan kau meminum kopi pada suhu normal. “Dia sudah terlalu lama menderita.”
      “Pekerjaanmu jadi berantakan akhir-akhir ini, pun kehidupan sosialmu. Menurutmu, kenapa?” Perempuan yang duduk di depanmu ini seperti mengabaikan keluhanmu, dan balik bertanya dengan nada menantang.
      “Aku hanya kurang enak badan. Aku butuh tidur lebih banyak...”
      “Kau bilang pada ibumu kau menghabiskan banyak waktumu untuk tidur. Lalu, berapa banyak waktu lagi yang kau butuhkan untuk tidur?”
      “Mungkin selamanya,” ujarmu acuh. Bahumu mengendik, tapi aku tahu, tidak dengan hatimu. Jauh di dalam hatimu, pun kau ingin memberontak dari semua jalan yang dipilihkan takdir untukmu.
      Lama setelahnya terasa sunyi, senyap. Jam di dinding dapur terasa bergerak lambat, lebih lambat dari pada gerakan siput yang tak menemukan makanan selama seminggu. Kau dan wanita yang sedang menekuri isi cangkirnya itu terdiam, sementara gemuruh guntur di langit malam menjadi musik pengiring kalian.
      “Dia memuntahkan darahnya, tepat di depan mataku,” ujarmu tiba-tiba. Tatapanmu menerawang, melayang jauh dari tubuhmu. “Dia masih bisa tersenyum saat itu...” kulihat setitik air mata yang menggantung di pelupuk matamu, meluruh secara tegas. Lama-lama titik-titik itu menjadi banyak, membentuk badai yang meluluh lantahkan pertahananmu.
      “Lalu kenapa sekarang kau menangis?” pancing wanita yang masih setia memperhatikan semua perubahan ekspresimu.
      “Entahlah. Dia bilang, aku akan baik-baik saja...”
      “Kau tahu, hati manusia itu, ibarat kaca yang berdebu. Jika terlalu keras membersihkannya, ia akan retak dan akhirnya pecah. Pun, jika terlalu lembut membersihkannya, ia akan berakhir pada keruh dan noda.”
      “Jadi... apa maksudmu?” Kau mengerutkan kening, hingga dua alis tebalmu saling bertaut satu sama lain.
      “Berhentilah menggunakan logika, pakai hatimu sesekali, agar kau lebih manusiawi...”
      “Dan kau dapat menjamin aku akan lebih bahagia?”
      “Kebahagiaan itu letaknya di hati. Kau sendiri yang dapat menentukan, apakah kau ingin bahagia atau berpura-pura untuk bahagia,”
      Aku berjalan mendekat ke arahmu setelah menghabiskan minuman bagianku. Beranjak naik kepangkuanmu, yang kau sambut dengan hangat. Kupandang lekat mata legammu. Mata serupa malam, pekat, tak lagi memunculkan binar di sana.
      “Meongg....” Kutelusupkan kepala di sela-sela tubuh sebelum melingkarkan ekor cantikku yang baru saja dikeramasi tadi pagi di salon. Berharap, dengan adanya diriku benar-benar akan membuatmu baik-baik saja.
      Kau pasti baik-baik saja.
      END
    • Posted by Refa Annisa
    • 2 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Anis Stiyani

    • Tyan Hardiana merupakan nama pena dari Anis Stiyani. Perempuan kelahiran 5 Mei pecinta Capuccino ini sangat mencintai dunia literasi sejak masih duduk di bangku SMP. Hobi membaca segala jenis tulisan, entah itu novel, cerpen, puisi, bahkan berita kadaluarsa dari koran bungkus kacang. Mulai istiqomah menulis sejak awal tahun 2013 karena terinspirasi oleh tulisan seorang author blog Favorit. Gadis yang sangat anti dengan pelajaran Matematika  ini tengah berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya di salah satu Universitas di kota Semarang, jurusan Fisika. Untuk berkenalan lebih jauh, dapat dihubungi melalui twitter di @anisstya atau email stiyani046@yahoo.com.

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :  
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -