Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Mendaki Kenangan

    • “Banguuunn! Banguuunn! Kita udah sampe nih!”
      Teriakan Arman membangunkanku yang tertidur lelap di atas tumpukan tas carrier. Sambil menahan kantuk, aku dan kawan-kawan lainnya bersiap merapikan carrier masing-masing. Satu persatu carrier diturunkan dari mobil pick up yang sudah membawa rombonganku melintasi jalanan dari Jogja menuju tempatku saat ini, Desa Bambangan, desa yang terletak di kaki Gunung Slamet.
      “Dingin…” sahut Nila sambil menahan tubuhnya yang gemetar diterjang udara dingin.
      “Ya iyalah dingin, ini kan masih subuh, Nil. Untung mobil pick up nya dikasih atap terpal semalam, kalo enggak pasti dingin banget nih semalaman di mobil terbuka gini,” sahutku sambil menurunkan carrier ukuran jumbo milikku dari mobil. Dengan kapasitas 80 liter, carrier-ku ini lebih sering disebut kulkas oleh kawan-kawanku yang lain.
      Setelah selesai menurunkan semua barang dari atas mobil, kami bergegas menuju basecamp pendakian yang sebenarnya merupakan rumah dari salah satu warga. Sengaja kami berangkat tengah malam agar bisa tiba subuh di basecamp, karena biasanya saat akhir pekan akan banyak pendaki yang ingin menjajakan kakinya di gunung tertinggi di Jawa Tengah ini.
      Gak terasa, udah tiga tahun dari pendakian terakhirku di sini, suasananya masih sama
      “Heh! Ngelamun aja lo.” Nila membuyarkan lamunanku
      “Hehe, lagi menikmati udara pagi aja nih, seger banget,” balasku.
      Nila adalah satu-satunya wanita dalam rombonganku. Dia adalah adik dari sahabatku, Arman. Rombongan pendakian kali ini terdiri dari enam orang. Aku, Arman, Nila, Vito, Gerry, dan Sony sebenarnya berasal dari Jakarta. Kami semua bertemu di kampus yang sama, salah satu universitas swasta di Jogja. Untuk mengisi long weekend, Arman mengajak kami untuk melakukan pendakian. Awalnya aku sempat ragu, pengalaman terakhirku di Gunung Slamet ini sangat tidak menyenangkan. Tapi Arman berhasil membujukku untuk ikut.
      Sambil berkemas ulang, kami memesan nasi rames di warung depan basecamp. Di depan sudah mulai berdatangan rombongan pendaki lain yang baru turun dari mobil sewaannya. Aku mengeluarkan sandal gunung kesayanganku dan menyelipkan sandal jepit yang kupakai dari rumah semalam.

      ***

      “Selamat ulang tahun, Ryo,” bisik Viona saat aku memejamkan mata di hadapannya.
      “Sekarang buka mata kamu, Yo, aku punya kejutan buat kamu,” bisiknya lagi.
      Perlahan aku membuka mata. Di hadapanku, Viona menyerahkan sebuah kantong jaring berwarna hitam kepadaku.
      “Waahh, makasih banyak, sayang. Kok kamu tau sih aku lagi pengen beli sandal gunung?” tanyaku sambil melemparkan pelukan untuk Viona.
      “Aku tau kamu lagi seneng banget naik gunung, makanya aku ngasih kado sandal gunung ini buat kamu.”
      “Hehe, makasih ya, aku sayang kamu,” bisikku pelan di telinga Viona.

      ***

      Tepat pukul enam kami memulai pendakian, diawali dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Arman. Perjalanan dimulai dengan melintasi sungai yang sudah mengering tak jauh dari gerbang masuk pendakian. Di depannya, hamparan kebun sayur warga sudah menanti untuk memanjakan mata. Dari kejauhan terdengar kicauan burung yang menjadi musik pengiring dalam perjalanan. Jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan ini terdiri dari sembilan pos pendakian, jarak yang terjauh adalah dari gerbang pendakian menuju pos satu sampai dengan pos empat. Masing-masing pos dapat ditempuh dalam waktu satu setengah sampai dua jam perjalanan. Selebihnya, dari pos empat sampai puncak tidak terlalu jauh, sekitar lima belas sampai tiga puluh menit untuk masing masing posnya. Kami berencana untuk bermalam di pos tujuh, dengan estimasi perjalanan ditambah waktu istirahat, kami akan tiba di sana pukul empat sore agar dapat menikmati keindahan semburat jingga di atas awan.
      Matahari tepat berada di atas kepala saat aku dan rombongan tiba di pos tiga. Papan nama bertuliskan ‘Pos Cemara’ di salah satu pohon menjadi tanda di pos ini. Kami berencana untuk beristirahat agak lama di pos ini. Aku mengeluarkan kompor portable dan nesting1 TNI dari dalam carrier, sementara kawan yang lain menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
      “Nil, ini sayurannya tolong dibersihin dulu dong,” sahut Vito sambil menyerahkan sekantong sayuran dari carrier-nya.
      “Oke, ini aku bawa sosis juga nih, mau digabung di sayur sop atau mau di goreng aja?”
      “Digoreng aja deh, kayaknya lebih enak,” balas Sony dan Gerry hampir bersamaan.

      ***

      “Akhirnya kenyang juga.” Gerry mengelus perutnya lalu merebahkan tubuh di bawah pohon.
      “Eh, jangan tidur, kita gak boleh lama-lama di sini, nanti kesorean loh,” dengus Arman
      “Iya, iya, bentar doang kok, itu yang lain juga keliatannya capek,” balas Gerry yang tak lama kemudian tertidur pulas.
      “Dasar tukang tidur! Hhaha,” pekik Nila sambil melepaskan tawa dari bibirnya.
      Kami baru melanjutkan perjalanan pukul setengah dua siang setelah membangunkan Vito, Gerry dan Sony yang terlelap. Aku memasukan peralatan masakku ke dalam carrier. Perjalanan dari pos tiga ini sudah mulai menanjak. Dominasi hutan hujan tropis yang rapat melindungi kami dari sengatan sinar matahari.
      “Yuk, lanjut jalan!” sahut Arman penuh semangat.

      ***

      “Lihat! Itu pos enam!”
      “Ahh, akhirnyaaa,” seru kami hampir berbarengan
      Sedikit terburu-buru, Nila berlari memasuki pos enam. Belum sempat ia merebahkan tubuhnya pada batang pohon tumbang di tengah lahan kosong di pos enam, tiba-tiba ia meringis kesakitan.
      “Aduh! Kakiku…,” jerit Nila menahan sakit.
      “Kakinya kenapa, Nil?” Sony yang biasa membawa kotak P3K berlari menghampiri Nila diikuti kawan-kawan yang lain.
      “Aduh, tiba-tiba kram nih,” jawab Nila.
      “Sepertinya itu gara-gara lo tiba-tiba langsung lari tadi, Nil. Makanya pelan-pelan aja dong,” ucap Sony sambil memijit kaki Nila.
      “Iya, iya, terlalu semangat sih pengen istirahat,” balas Nila.
      Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di pos enam. Sambil rebah di batang puhon tumbang, aku mengeluarkan beberapa camilan untuk dimakan bersama. Di kejauhan terlihat awan mendung yang mulai menggantung di bibir langit. Dingin mulai merambat di sekujur tubuh.
      “Lihat! Itu elang jawa!” pekik Vito menunjuk seekor burung yang sedang terbang rendah di sekitar pepohonan.
      “Waah, iya, itu elang jawa, kita beruntung banget, jarang-jarang loh bisa ngeliat langsung elang jawa di sini,” jawab Arman masih sambil mengagumi burung berwarna hitam pekat itu.
      “Eh, udah kesorean nih, lanjut jalan yuk. Kaki kamu udah gak sakit kan, Nil?” ucap Arman sambil berdiri dan merapihkan carrier-nya.
      “Iya, udah gak sakit lagi kok, Kak. Yuk jalan, semoga gak hujan ya”
      “AAMIINN,” teriak kami bersamaan.

      ***

      “Man, itu pos tujuh udah keliatan, gue sama Vito duluan ya, biar bisa langsung masang tenda,” sahutku sambil mendahului rombongan.
      “Siaaap, sekalian masak yah, jadi pas gue sampe sana tinggal makan, hahaha,” canda Arman.
      Dengan sedikit berlari aku dan  Vito menuju ke tanah lapang di pos tujuh. Tanjakan dengan kemiringan hampir tujuh puluh derajat menuju pos tujuh cukup menguras tenaga. Aku terus berusaha naik sambil menahan beban carrier di pundak dibantu Vito yang jalan di depanku.
      Sesampainya di pos tujuh, aku langsung mengeluarkan tenda dari dalam carrier. Vito membantu mendirikan tenda besar dengan kapasitas enam orang itu di samping bangunan shelter dari kayu beratapkan seng yang ada di tengah lahan pos tujuh. Tak lupa juga aku membuat saluran air di sekitar tenda agar air tidak masuk ke dalam tenda saat hujan turun.
      Dingin semakin erat memeluk tubuh. Aku mengeluarkan jaket hangat dan langsung memakainya. Tak lama kemudian kawan-kawan yang lain pun tiba di pos tujuh.
      “Yo, keluarin sleeping bag lo, cepetan! Si Nila kedinginan,” ucap  Arman sambil menuntun Nila masuk ke dalam tenda.
      Aku bergegas mengambil sleeping bag dari dalam carrier dan menyerahkannya pada Arman.
      “Kenapa si Nila, Man?” tanyaku dengan nada khawatir sambil menyerahkan sleeping bag ke Arman.
      “Dari tadi pas pisah sama lo dan Vito dia udah diem aja, menggigil, katanya dia kedinginan banget, padahal jaketnya udah cukup tebal loh,” jawab Arman sambil menyelimuti Nila.
      “Aku gak apa-apa kok, Kak,” sahut Nila dengan tubuh yang masih gemetar kedinginan.
      Deg!
      Pikiranku tiba-tiba melayang ke masa lalu. Masa yang membuatku akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan kegiatan pendakian lagi.

      ***

      “Ayo Vi, semangat! sebentar lagi sampai di pos tujuh, tuh atap shelter-nya udah keliatan,” seruku menyemangati Viona yang tampak sangat kelelahan.
      “Tunggu bentar, Yo, aku kedinginan,” balas Viona.
      “Makanya mesti tetap gerak, Vi, biar tetap hangat. Langit sudah mulai gelap nih, kalau kamu istirahat di sini nanti malah makin dingin loh,” kataku terus menyemangati agar tetap bergerak. 
      Dingin memang sudah mulai menyelimuti sejak di pos lima tadi. Apalagi ditambah dengan badan kami yang sedikit basah karena gerimis membuat dingin semakin menusuk. Kami harus segera tiba di pos tujuh dan mendirikan tenda agar bisa segera mengganti pakaian yang basah.
      Setelah susah payah melewati tanjakan, akhirnya kami tiba juga di tempat tujuan kami. Aku langsung mendirikan tenda yang hanya cukup untuk kami berdua. Sudah ada beberapa rombongan pendaki lain yang mendirikan tenda di sini, untungnya aku hanya membawa tenda kecil yang tak banyak memakan tempat untuk mendirikannya.
      Viona semakin menggigil, aku menyuruhnya masuk tenda dan mengganti pakaiannya yang basah. Sambil menunggu di luar tenda, aku memasak air untuk membuat minuman hangat dan merebus mie instan untuk kami berdua. Karena udara dingin yang semakin menusuk, akhirnya kami makan di dalam tenda. Setelah membereskan perlengkapan masak, aku masuk ke dalam tenda dan menyuapi Viona yang terus saja sembunyi di balik sleeping bag tebalnya, berharap dingin tak mampu menyusup memeluknya.
      Malam semakin larut, rombongan pendaki lain pun berlindung di dalam tendanya masing masing. Di luar hanya  terdengar desir angin yang menyapa lembut rerumputan. Viona mulai terlelap di balik sleeping bag-nya, aku memeluk erat tubuhnya agar tetap hangat. Tak lama kemudian kami berdua pun tertidur.
      Bulan mulai tinggi saat tiba-tiba viona membangunkanku.
      “Yo, bangun, gerah banget, Yo,” Bisik Viona sambil mengguncang tubuhku.
      “Gerah apanya,Vi? Ini dingin banget, yuk mendingan kita tidur lagi, baru jam dua belas malam loh ini,” balasku sambil melirik ke arah jam tanganku.
      Paginya, aku sangat shock melihat kondisi Viona. Tubuhnya sangat dingin. Kulitnya sudah terlihat pucat, cenderung membiru. Dia tetap saja terlelap meskipun sudah kuguncang tubuhnya untuk membangunkan. Aku panik lalu berlari ke luar tenda mencari pertolongan dari pendaki lain.
      “Toloong! Tolong! Tolong teman saya,” pekikku sambil berlari menghampiri sekelompok pendaki yang sedang menyiapkan sarapan.
      “Ada apa, Mas?” Tanya salah satu pendaki.
      “Tolong teman saya kedinginan, badannya pucat, dari tadi dia gak bangun-bangun,” jawabku panik.
      Sambil setengah berlari kami bergegas menuju tendaku yang berada tak jauh dari sekelompok pendaki itu. Salah satu pendaki mulai memeriksa kondisi Viona. Dia hanya diam membatu. Tak bergerak.
      “Maaf, Mas, temannya sudah gak bisa ditolong, ia meninggal karena hipotermia2. Saya akan coba memanggil bantuan tim resque di bawah untuk membantu evakuasi,” ucap si pendaki kepadaku yang mematung di samping Viona.
      “Jangan tinggalin aku, Vi! Jangan pergi! Maaf aku gak bisa jaga kamu.” Isak tangisku pecah memandang Viona yang terbujur kaku tak bernyawa.
      “Bodoh! Harusnya aku gak ngajak kamu ke sini, harusnya kita bisa bersenang-senang di tempat lain, maaf, Vi.”

      ***

      “Cepat suruh Nila untuk mengganti pakaiannya, baju basah akan membuat dia kedinginan,” sahutku sambil mengisyaratkan pada kawan yang lain untuk keluar dari tenda.
      “Tolong kumpulin semua botol minum yang kalian bawa!” Perintahku pada kawan yang lain.
      Aku mulai memanaskan air dan memasukkannya ke dalam botol yang sudah terkumpul. Suasana tiga tahun lalu seperti terulang kembali. Namun, kali ini aku tak mau kejadian yang sama terulang pada Nila. Aku harus berusaha menolong dia.
      “Sepertinya Nila terkena gejala hipotermia,” bisikku pada kawan yang lain.
      “Jangan sampai dia tahu, biar dia gak panik,” tambahku.
      Setelah Nila selesai mengganti pakaiannya, aku dan Arman masuk ke dalam tenda membawakan air hangat di dalam botol. Arman memberikan jaket hangatnya pada Nila, Aku mulai menyelimuti Nila dengan sleeping bag. Untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat, botol-botol berisi air hangat aku selipkan ke dalam sleeping bag.
      “Makasih yah, Kak. Makasih juga, Yo, aku udah gak apa-apa kok,” ucap Nila dengan sedikit berbisik.
      “Iyah, dek. Kakak akan terus ngejaga di samping kamu kok,” sahut Arman sambil memeluk tubuh adiknya yang masih gemetar kedinginan.
      Aku memberi isyarat pada arman agar terus mengajak Nila bicara untuk menjaganya tetap sadar. Sebab, kalau sampai ia tertidur, ia bisa dengan cepat kehilangan panas tubuhnya.
      Saat suhu tubuh Nila sudah dirasa normal, Arman memperbolehkannya istirahat. Aku mulai memanaskan air lagi untuk mengganti air di dalam sleeping bag Nila yang mulai dingin. Setelah mengganti air di dalam botol, aku menyerahkannya lagi pada Arman untuk diselipkan kembali di sleeping bag. Tak lama kemudian Nila mulai tertidur pulas. Aku dan kawan-kawan lain pun akhirnya bisa tenang.

      ***

      Aku terbangun pukul empat pagi lalu memegang kepala Nila untuk memastikan ia baik-baik saja. Lega rasanya saat tahu suhu tubuhnya sudah normal, meskipun Nila masih sedikit menggigil karena dingin yang terus menusuk kulit. Aku merapatkan jaket hangatku dan melangkah keluar tenda. Dengan memakai sandal gunung kesayanganku, aku duduk di dekat sisa-sisa api unggun pendaki lain semalam. Angin dingin menyapa wajahku perlahan. Semburat jingga mulai mengintip di cakrawala. Aku hanyut dalam lamunanku sambil menatap sepasang sandal gunung yang aku kenakan. Sandal gunung yang menjadi pemberian terakhir Viona. Sandal gunung yang selama ini kusimpan dalam gudang karena dengan melihatnya hanya akan memunculkan kenangan pahit tentang Viona.
      Maafin aku, Vi, aku gak bisa jaga kamu…

      ***

      Matahari semakin tinggi. Sehabis sarapan, aku dan Arman akhirnya memutuskan untuk menyudahi pendakian hanya sampai di pos tujuh ini. Kami bergegas merapihkan barang-barang kami dan bersiap untuk turun.
      “Kak, aku gak enak kalau kita gak jadi ke puncak Cuma gara-gara aku. Aku udah sehat kok, Kak,” Kata Nila mencoba meyakinkan Arman.
      “Kita gak apa-apa kok, Dek. Lagian tujuan utamanya kan bukan puncak, tujuan utama setiap pendakian adalah supaya kita bisa pulang ke rumah masing-masing dengan selamat. Itu yang terpenting,” jawab Arman.
      “Iya, Nil, bener kata kakak lo. Lagian kan lo harus cepet di rawat lebih lanjut di bawah nanti. Jangan maksain, bahaya tau,” tambahku.
      Akhirnya kami semua turun. Ada perasaan lega di hatiku. Lega karena aku bisa menyelamatkan Nila sebelum terlambat. Lega karena aku tak mengulang kesalahanku untuk kedua kalinya.
      Maafin aku, Viona…


      Sunrise di balik rerumputan pos 7 Gunung Slamet
      (sumber: Doc. Pribadi)


      Tangerang, 24 Februari 2015

      *Cerpen ini merupakan salah satu hasil Arisan Cerpen dengan tema 'Sandal'

      -----------------
      1.Nesting, rantang dari besi berbentuk kotak yang dipakai sebagai wadah untuk masak (ada juga bentuk persegi panjang dan bulat).
      2.Hipotermia, ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan panas tubuh atau menyesuaikan suhu tubuh dengan udara dingin. 
    • Posted by Jj
    • 6 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Satu BH dan Lelaki Keseribu di Ranjangku

    • Yang paling berat bagi Niken ialah masa depannya yang tak akan bisa diisinya dengan persuami-istrian. Sebab siapa mau jadi suami atau istrinya secara total. Kemudian masyarakat umum yang tak punya kesediaan untuk mengakui eksistensinya. Tetapi, serba sedikit, perlahan-lahan Niken berhasil mengatasi hal itu. (BH, hal. 190)

      Niken, dalam cerpennya Emha Ainun Nadjib (selanjutnya disebut Emha), tidak jelas posisinya: pelacur atau sekadar perempuan yang haus lelaki. Namun, pembaca akan segera mengerti bahwa posisi Niken mirip dengan wanita perindu lelaki, bukan pelacur. Sebab, melihat latar belakangnya, Niken merupakan mantan hakim. Ia sarjana yang cukup cerdas. Tetapi, ia berhenti dari pekerjaannya karena “agak” bertentangan dengan nurani. Kemudian, ia di rumah saja, meneruskan usaha dagang orangtuanya.
      Agak aneh jika Niken itu pelacur, sebab pekerjaan itu umumnya, maaf, biasa dilatarbelakangi masalah ekonomi. Tetapi, Niken adalah perempuan berada, sehingga kenakalannya tak lain karena kesepian.
      Ya, kesepian di tengah hiruk pikuk material yang menggerogotinya. Gaya hidupnya tak ubah model manusia metropolis: haus pada hiburan. Cap perempuan nakal menyebabkan Niken terus bergelut dalam lubang yang dalam, gelap.
      Sedangkan, masyarakat hanya bisa mencibir dan asyik melihatnya: “Memang sepantasnya begitu akibat yang harus ditanggung perempuan nakal!”
      Namun, Emha tidak ikut-ikutan mindstream yang tengah berlangsung. Dengan cekatan, Emha menghadirkan tokoh “aku” sebagai teman diskusi Niken. “Aku” adalah selayaknya teman yang memandang dari semua dimensi kekurangan dan kelebihannya manusia. meski tokoh ia juga menanggung kesimpulan dari teman dan masyarakat bahwa ia pacar Niken. Selanjutnya, mereka tentu saja merendahkannya.
      Tokoh “aku” dicap layaknya gigolo yang menerima upah. Tetapi, yang dicari Niken tidak hanya berkutat masalah “ranjang”. Niken tidak bergaul sekadar demi seks. Tokoh “aku” bukan pacar Niken, meski Niken pernah mengungkapkan perasaannya. Tokoh “aku” berterus terang tentang perihal keadaaannya. Ia mengajak Niken bercinta sesuai tempatnya: “Kau mencinta itu dan bersedia menerima apa yang mampu kuberikan, sementara aku pun mencintai penderitaanmu.”
      Hal yang sulit dilakukan, tetapi selayaknya dilakukan jika cinta itu memang tulus diberikan kepada orang yang dicintai. Tokoh “aku” sendiri menerima Niken juga dalam batas yang ia mampu. Tokoh “aku” bisa mengawininya dengan pikiran-pikiran yang menguatkannya. Tetapi, untuk berjalan, nonton, atau kemana-mana bersamanya, terus terang memang masih ada cukup keberatan dalam perasan di benak “aku”. Hal yang lumrah, dan terjadi pada siapa pun.
      Inilah kejujuran seorang Emha; kejujuran memandang realitas pada diri manusia. Siapa yang siap lahir-batin menerima orang-orang yang dicap nakal oleh masyarakat? Saya kira jarang sekali.
      Tetapi, titik tekan yang hendak disampaikan Emha bukan masalah kawin itu sendiri, melainkan teman yang saling mengisi, teman yang mau diajak bertukar pikiran, menumpahkan unek-unek sebagai manusia yang hidup di tengah alam yang bergejolak. Sebab, orang akan menjauhi manusia nakal secara total, baik lahir dan batinnya, tanpa melihat sisi jiwanya yang kerap menangis.
       Ternyata benar, pelacur tak selamanya menikmati kepelacurannya. Bahkan, sang pelacur itu menjerit sedih dalam keremangan dunianya. Terlihat terhibur dengan berbagai macam laki-laki, namun apa arti hiburan bagi sang pelacur?
      “Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-dia dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin....” (BH, hal. 4)
      Kehidupan pelacur tak pernah untung, yang untung hanyalah germonya. “Germo bosku, lelaki yang paling beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya-raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahya yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau. Sungguh tragis! Bagaikan sapi perah yang tak pernah menikmati kelezatan susunya, “susu berbalas rumput teki!”.
      Lantas jika ditanya, kenapa memilih jalan kelam? Apakah melacur itu pilihan atau pelampiasan, balas dendam keadaan? Soal yang pelik. Di tulisannya ini, Emha menuliskan “Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiri dan lelaki yang mencampakkanku ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini, maka lelaki kedua hanya saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus....” Bahkan, yang mengenaskan: “…. Di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.”
      Membaca kumpulan cerpen “BH”-nya Emha bagaikan diajak menelusuri dunia yang tak asing bagi kita, tetapi seakan tersisih dan cepat-cepat kita menutup mata dengan jari yang terbuka: mau tapi malu. Emha mengajak pembaca memahami dimensi lain dengan sudut lain. dunia yang selalu dicap neraka, tetapi kita jarang mendengar teriakan manusianya.
      Bagi saya, buku ini, unik seunik penulisnya. Inilah “jalan sunyi” Emha dalam membaca realitas kehidupan yang dikemas dalam cerita pendek.
      ***

      Judul : BH
      Penulis : Emha Ainun Nadjib

      Penerbit : Buku Kompas Tahun terbit : cet. I 2005
      Tebal : x + 246 halaman; 14 cm x 21 cm
      ISBN : 979-709-168-6

    • Posted by Unknown
    • 6 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -