Showing posts with label Dhanica Rhaina. Show all posts

RINDU

    • Source from Internet

      Aku tulis sebuah surat padamu
      Aku bawa dalam badai semalam
      Aku sambangi rumah-rumah pengasuhan
      Pintu jati hiaju, rapat beku.

      Aku ketuk daun jendela seberang jalan
      Aku tanyakan lentera pembaringan
      Dan.... saat kusinggahi pelataran dedaunan willow,
      Ku temukan kau, telanjangi tumpukkan kertas bergambar kerinduan.

      Jogja, 23 Maret 2011/2013

      Dhanica Rhaina
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

SITI NURBAYA

    • “Dan pada sujud-sujud yang terkulai…
      Oleh aroma basah sajadah
      Dari butiran embun mata.”
      Duh… Nurbaya,
      Tangismu tengah mengintai malam
      Sedang   di pembaringanmu,
      Hasrat tradisi melumat bayangan.
      Tirai sutra yang kau kemul di klambu dada,
      Mengisyaratkan lelehan bara di sana.

      Ooh… Nurbaya,
      Gadis yang dipasung darma dan kasta!
      Kala bapa titahkan pingitan
      Padaragamu yang meronta,
      Tak gentar jiwamu merangga soleh cinta.

      “Kutukkan di mahkotakan pada tulan gpunggungmu...,
      Hingga sesenggukkan udara,  menyumbat tulang rusukmu.”

      Wahai… Nurbaya,
      Gadis yang dipasung kegelisahan….
      Bibirmu mencerca wajah di balik kaca,
      Sedang hatimu menikah dengan parabala.

      Duhai… Nurbaya,
      Gadis yang dikutuk pasung zaman!
      Kini kautanggalkan sutra dada
      Pada bibir lacut yang mencumbu karma.
      Kaubiarkan ia menjilati mahkota di tulang sumsummu,
      Hingga jeritan kalbu menderit,
      Memekakkan telinga para punggawa pembawa bala.

      Ooohhh…. Nurbaya,
      Gadis yang dipasung karma bapa!
      Kelacutanmu meracuni ulu hati kaum hawa.
      Dengan gincu merekah basah di atas sajadah,
      Kaukafani jiwamu
      Dengan seroja yang bangkit oleh kenangan.

      Duh…Nurbaya,
      Gadis yang dipasung kepurbaan!
      Jiwamu kini manunggal,
      Sedang tubuhmu diam dalam kesenang jiwa-jiwa yang lepas
      Menyatu pada dinding waktu
      Hingga musim tak kuasa merenggut keteguhanmu.

      “ Sebab, sepanjang tilas kaki yang kausisakan telah merenggukmu pada kepedihan, dan mengajarkan kehidupan!”

      September 2013/Maret 2014

      Dhanica Rhaina
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

PADA GERIMIS

    • Source from Internet (click image)

      Gerimis jatuh pada tanah basah,
      Seperti peluh bapak yang membajak sawah
      Ataukah, air mata ibu kala ia siarkan dalam doa-doa?
      Gerimis jatuh pada tanah basah,
      Membiarkan anak-anak yang berkecimpung menawarkan dahaga
      Seperti kumbang yang menghisap sari bunga.
      Dan, gerimis jatuh pada tanah basah
      Di sana….
      Di antara ibu dan bapak yang tengah berkeluh mencari upah.


      #Buatibubapaktercinta
      Sleman, 22 juli 2013

      Dhanica Rhaina
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Untuk Sebuah Rindu

    • UNTUK SEBUAH RINDU

      Tak....tik....tak....
      Jarinya terus saja mengetuk-ketuk meja. Kegusaran selalu menjadi hal paling dibencinya. Beberapa orang tengah sibuk hilir mudik dihadapannya. Dan, itu semakin membuatnya tak suka.
      “Apakah kalian bisa berhenti!” bentaknya, sembari memijat kening yang kian pening.
      “Eemm, maaf Pak,”ucap salah seorang di depannya.
      Yuga Pranoto menarik napas dalam-dalam. Berusaha agar setiap kegusaran dan sakit kepalanya berkurang. Di kibaskan tangannya, meminta orang-orang di ruangan itu keluar. Dia sungguh ingin sendiri.
      “Bapak memanggil saya?” sapa seorang pria muda berusia tak lebih tua darinya dengan seragam OB.
      “Aahh, Juki, saya mau minta bantuan kamu,” katanya, setengah memaksakan sedikit senyum yang sungguh hambar.
      Juki terlihat risih saat ia harus duduk di atas kursi bosnya. Lebih-lebih, jas yang dia kenakan terlihat sedikit kebesaran. Ingin rasanya ia melepas pakaian mewah itu. Tapi, cepat-cepat ia menepis keengganannya itu. “Ini tugas, Juk. Tugas!” katanya dalam hati.
      ****
      Seorang pria, berpakaian OB duduk termenung di bawah pohon matoa. Tangannya yang kotor serta tubuh yang bau. Seolah menerangkan jika pria itu baru saja berkutat dengan sesuatu yang tak jauh dari tempatnya beristirahat. Dan itu adalah SAMPAH!
      “Tidak ketemu juga?” tanya seorang perempuan muda yang tiba-tiba membuatnya gelagapan.
      Perempuan muda itu menenteng ember kecil berisi air dan beberapa gelas berukuran sedang. Sedangkan di punggungnya, sebuah tenggok[1] penuh botol-botol cairan berwarna putih pucat, kuning dan hitam serta hijau.
      “Eemm, belum,” jawab Yuga salah tingkah.
      Perempuan di hadapannya menurunkan barang bawaannya, duduk didekatnya. Yuga menatapnya lekat-lekat. Bukan berarti dia tidak pernah bertemu dengan perempuan yang lebih cantik dari perempuan disebelahnya. Melainkan, karena ia merasa nyaman saat bersamanya.
      Nira. Perempuan itu bernama Nira. Perempuan ayu yang berprofesi sebagai tukang jamu keliling. Awal peretemuan Yuga dengan Nina buka karena ketidak sengajaan. Ardi, sahabat Yuga, mengenalkannya pada perempuan itu. Saat Yuga bertandang ke kost Ardi, saat itulah ia dikenalkan dengan Nira. Kost meraka termasuk kost bagi kaum perantau. Tak banyak yang mampu dikatakan Yuga, saat berkenalan dengan Nira. Perempuan asli Solo itu mengadu nasib ke Jakarta bermodalkan satu hal “Keahlian membuat jamu”. Dengan laba yang tak seberapa, kost yang bagi Yuga tak lebih luas dari kamar mandinya. Nira mamapu membuat seorang Yuga mengaguminya.
      “Kalo ndak ketemu, ya sudah, ndak apa-apa,” ujar Nira pasrah.
      “Pasti ketemu,kok,” sanggah Yuga menyakinkan.
      “Tapi, kalo aku boleh tahu, memangnya seberapa penting sendal selop itu buat kamu?” tanya Yuga hati-hati. Takut menyinggung, barangkali begitu.
      Nira tertunduk. Kulitnya yang kuning langsat, bercahaya saat sinar matahari yang garang menyeruak, menyelinap meneranginya dari balik dedaunan matoa.
      “Ya, penting. Tapi, kalo tetap ndak ketemu, aku sudah ihklas, kok, Mas,” jawab Nira dengan senyuman yang khas.
      Yuga menelan ludah. Tak ingin. Sungguh tak ingin ia mendapatkan senyuman dari perempuan ayu itu. Tapi, senyuman yang menyakitkan baginya. Bagaimana tidak? Jika dibalik senyuman itu, sepasang mata di atasnya meredam kesedihan.
      Sedikit ragu-ragu, Yuga mencari-cari sesuatu di balik semak-semak. Tangannya menyentuh kantong plastik. Lamat-lamat, ia kembali menatap Nira. Menyentuh tangan mulus yang setiap hari meracik dan menjajakan jamu.
      “Ini....” ucapnya tersenyum jail.
      Nira menyerngitkan dahi. Matanya menatap kantong plastik. Dengan hati-hati, di bukanya kantong plastik itu. Wajahnya seketika berubah cerah. Senyum yang khas itu kembali mengembang. Yang jelas, tidak dengan mata kesedihan. Melainkan kebahagiaan.
      “Lho, kata mas tadi ndak ketemu? Mas Yuga ini jail tenan[2] ternyata,” ujarnya tak menyangka.
      Sedangkan Yuga hanya mampu meringis salah tingkah sembari menggaruk kepalanya meski tak gatal.
      “Aku ngak tega liat kamu sedih. Maaf, ya. Tapi, apa sendal selop itu begitu penting?” Yuga kembali bertanya.
      Nira memandang lekat-lekat sendal selop berukuran 42 berwarna coklat itu. Ia tersenyum, mendekat sendal selop itu penuh arti.
      ****
      Yuga mengetuk-ketukkan jari di atas meja. Itulah kebiasaannya jika sedang gusar. Di hadapannya, Juki berdiri bak patung. Ia baru saja menyuguhkan secangkir kopi hitan untuk Yuga. Kalo boleh ditilik dari riwayat kerja dan kedekatannya dengan Yuga, bisa dikatakan jika Juki adalah salah satu orang kepercayaan Yuga. Meskipun pangkatnya hanya sebatas OB.
      “ Mas Yuga baru kesal sama orang, ya?” tanyanya setengah menebak-nebak.
      Juki menghela napas saat pertanyaannya tak direspon. Perlu diketahui juga, di hadapan orang lain atau saat tidak berdua dengan Yuga, panggilan Bapak ke Yuga berubah menjadi Mas. Kata Yuga, biar lebih akrab.
      “Juk, kamu pernah patah hati?” Yuga tiba-tiba saja bertanya hal yang aneh menurut Juki.
      “Woo, ya pernah, Mas. Malah sering. Terakhir kali, sama Mbak Mitha,” cerocos Juki antusias saat menyebut nama Mitha yang tak lain adalah sekertaris Yuga.
      Yuga mendengus. Memijat keningnya. Kemudian melambaikan tangannya, menyuruh Juki keluar dari ruangannya. Dalam hatinya, ia merutuk. Bertapa beruntungnya Juki. Setidaknya begitu.
      Otaknya tiba-tiba saja bagai layar tancap. Memutar ulang adegan seminggu yang lalu, saat ia bertemu dengan Nira. Masih begitu jelas bagaimana perempuan itu tersenyum, tatapan serta candanya. Tapi, sesering ingatan itu muncul, sebanyak itu pula sakit yang di dera harinya.
      “Apakah ini hanya sebatas kerinduan? Kerinduan yang terlarang!” keluhnya setengah mengumpat.
      ****
      Seminggu sebelumnya....
      Yuga menelan ludah mendengar penjelasan Nira. Hatinya sontak terasa ngilu. Kepalanya berdenyut-denyut melebihi denyut jantungnya yang bagai genderang. Napasnya tersengal, sesak dan menyakitkan.
      Nira masih memandang selop coklat ditangannya. Wajah ayunya terlihat seolah tak bersalah dengan penjelasan yang baru saja ia lontarkan pada Yuga. Aneh memang, tapi itulah Nira.
      Usai menemui Nira dan memberikan selop coklat yang pernah ia pinjam gara-gara sepatunya hilang sewaktu di kost Ardi, Yuga merasa ada yang begitu kosong tapi juga berlubang di dadanya. Matanya tak kunjung terpejam meski ia saat ini berada di atas tempat tidur dengan AC menyala.
      Telinganya bergurindam. Berulang-ulang. Seolah-olah, penjelasan Nira adalah nyanyian nina bobok yang menyeramkan.
      “Tuhan, biarlah ini menjadi sebatas luka. Luka yang disebabkan untuk sebuah rindu. Rindu yang ternyata terlarang. Untukku, bahkan untuknya,” akunya dengan berat hati.
      Bagaimana tidak? Jika penjelasan Nira-lah yang menyebabkan semua itu. Penjelasan akan sebuah pengakuan dari seberapa-penting-sebuah-sendal-selop-berwarna-coklat itu.
      Lagi-lagi, telinganya mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang membuat ia harus menyumpal lubang telinga dengan kata-kata lain. Kata-kata yang akan mengobati kegusaran dan kegelisahannya. Kata-kata itu....
      “Sendal selop ini sangat penting buat aku. Karena sendal selop inilah jati diriku, Mas. Aku ndak mau membohongi Mas Yuga yang sudah baik sama aku. Karena aku tahu, Mas Yuga itu orang baik. Tapi, aku cuma minta, setelah ini jangan jauhi aku. Selop ini sebenarnya bukan milik Bapakku, tapi milikku. Ya, benar, aku sebenarnya seorang pria. Aku trasn-gender. Aku seorang waria. Dan aku bangga karena aku mengkuinya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Karena itu, aku akan terus menyimpan selop ini, agar aku selalu ingat siapa aku, darimana aku dan seberapa besar rinduku pada diriku yang dulu. Meskipun, sesungguhnya inilah aku.”
      ****



      [1] Bakul/keranjang yang terbuat dari anyaman bambu
      [2] Benar-benar/sungguh-sungguh.
    • Posted by Refa Annisa
    • 6 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Dhanica Rhaina

    • Dhanica rhaina pemilik nama asli Danik Surani. Suka menulis sejak kelas 5 SD. Mulai hobi membaca sejak mengenal perpustakaan dan taman bacaan. Penyuka komik bidadari merah, legenda naga dan detektif conan, serta sedang berburu the princess. Dhanica juga dikenal sebagai salah satu anggota komunitas puisi pro disalah satu stasiun radio Yogyakarta. Menyukai anak-anak dan bekerja sebagai guru paud. Lahir 27 agustus dan sangat suka makan soup. Pemilik bintang virgo ini dapat dihubungi diakun facebooknya ; dhanica rhaian atau twitter; dsrhaian. Blog ds.raina dan email d.s_rhaina@yahoo.com. Bertempat tinggal di Sleman, Yogyakarta. Salam sastra....

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :

    • Posted by Refa Annisa
    • 1 Comment
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -