Posted by : Refa Annisa Jun 3, 2015

No Good in Goodbye
Oleh Anis Stiyani

“Sebaiknya... kita sampai di sini saja...” Bisikan lirih yang nyaris serupa desauan angin di akhir musim kemarau membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya. Tak kupedulikan lagi aliran air yang terus menderas di bawah jembatan tempatku berpijak sejak setengah jam yang lalu bersamanya.
“Apa?” timpalku dengan suara tercekat, seakan tiba-tiba saja aliran sampah yang berputar-putar di pilar-pilar beton jembatan berpindah ke tenggorokanku.
Bukan kali pertama, kalimat seperti ini meluncur dari bibir merah cherry miliknya. Tapi tetap saja, rasanya sama. Sama-sama menakutkan. Aku takut kehilangan dia setiap waktu.
“Bukankah kita sama-sama tahu, sejak awal ini salah?” ada getar yang sempat tertangkap oleh telingaku di ujung kalimatnya. Ada apa ini? ini hanya main-main, kan?
“Begitu?” tukasku berusaha tenang. Dia mengangguk mantap, lalu tanpa melihatku lagi, dia melangkah pergi.
Goodbye...” ujarnya lirih yang masih bisa tertangkap telingaku.
Aku masih terdiam melihat punggung kecilnya yang mulai menjauh dari penglihatanku. Aku masih tak bergerak, masih berharap bahwa dia akan berbalik, lalu berlari ke pelukanku sambil meneriakan ‘April mop!!!’ untukku. Tapi dia tetap melangkah sampai tiba di ujung jembatan. Saat itulah aku sadar, ketakutan terbesarku terjadi, dia benar-benar pergi.
Bodoh, bulan April sudah berlalu.
***
“Anye...” bisikku lirih. Sambil menoleh kiri-kanan, memastikan orang-orang tak terganggu dengan suaraku.
Gadis dengan kaca mata baca berbingkai bulat itu masih saja diam, larut dalam buku setebal balok es di hadapannya. Rasanya gemas sekali, ingin menendang buku itu jauh-jauh dari hadapan gadis di sebelahku ini.
“Anye...” kunaikkan lagi suaraku, beberapa desibel, berharap dia terusik dan menoleh ke arahku. Tapi yang terjadi sebaliknya, dia masih tetap fokus dengan buku sialan itu, sementara aku dihadiahi tatapan ganas dari pengunjung perpustakaan. Good Job, Bima!
Dengan sisa-sisa kekesalan yang kupunya, kutarik paksa buku tebal yang masih saja digeluti gadis ini. Wajahnya menoleh kepadaku. Oke, sepertinya ini tidak bagus. Dia seperti induk ayam yang merasa terganggu karena anaknya diambil. Aku meringis sekilas,
“Anye, kan?” tanyaku memastikan.
Gadis di sebelahku ini merengut sadis, lalu menarik bukunya yang berada dalam kekuasaanku. Dia terlihat mengaduk-aduk isi tasnya, lalu setelah menemukan sebuah pembatas buku dari kertas papirus dengan gambar kucing berwarna biru, diselipkannya pembatas buku itu di tempat terakhir ia membukanya tadi.
“Bukan.” Ia menyahut singkat. Menutup bukunya, berlalu pergi dengan menyandang tas ransel hitam yang terlihat penuh itu. Uh, pasti berat sekali. Aku meringis dalam hati.
“Anyelir Aprilia, benar?” seruku ketika keluar dari ruang baca perpustakaan pusat, masih dengan mengekor gadis yang tengah berjalan cepat sambil mendekap buku tebal tadi di dadanya.
“Apa?” sentaknya dengan nada sinis setelah berbalik menghadapku. Aku meringis menyambuti wajah tidak bersahabat yang ia tampilkan. Kaca mata burung hantu yang tadi dipakainya sudah tidak ada di sana.
“Benar kan, Anyelir Aprilia?” tanyaku sekali lagi. Hanya ingin memastikan. Gadis di hadapanku ini mengangguk sekilas, lalu membalikkan tubuhnya lagi, hendak pergi.
“Lalu kenapa diam saja saat kupanggil tadi?” gumamku menjajari langkahnya. Kulirik sekilas, dia nampak memutar bola matanya jengah. Hei, bola matanya berwarna coklat terang, seperti karamel.
Kurasa manis dan meleleh adalah perpaduan yang pas untuk kami saat ini. Dia yang manis, berhasil membuatku meleleh.
Heish, what a creepy I am!
“Memanggil? Kapan?” tanyanya sambil menelengkan kepala.
“Tadi. Anye... seperti itu,” ujarku kembali mempraktikan caraku memanggilnya.
“Oh, itu. Kukira kau sedang memanggil orang lain,” tanggapnya santai lantas kembali melangkah.
“Jadi, bagaimana orang-orang biasa memanggilmu?” kejarku, masih penasaran.
Dia menaikkan sebelah alisnya, sekilas. Terlihat menimbang sebelum menjawab pertanyaanku tadi, “April.” Lalu dia berlalu begitu saja dari hadapanku.
***
Adakah hal bagus dari kata sebaiknya jika diikuti kata berpisah setelahnya? Sampai bolak-balik seribu kali mengepel Tembok Besar China pun, aku tidak bisa mendapatkan korelasi yang baik antara keduanya.
Aku masih ingat dengan raut wajahnya beberapa malam yang lalu, saat pertemuan terakhir kami. Saat dengan tanpa perasaan dia mengakhiri hubungan kami. Tunggu, hubungan macam apa yang tengah kubicarakan sebelumnya? Tsk, melihat reaksinya saat berada di sisiku selama ini, sepertinya hanya aku saja yang menganggap bahwa hubungan ini nyata, bahwa rasaku nyata—nyata-nyata bertepuk sebelah tangan, sial!
Boy... aku takut bola matamu menggelinding ke mangkuk bakso-ku. Please, temui dia jika kau merasa perlu...” dengus Mikail terlihat bosan.
Aku menggeleng lemah, menggeser-geser layar ponselku secara acak, tanpa minat. Tatapan mataku masih sama, mengarah pada satu titik—seperti saat aku dan Mikail masuk ke sini setengah jam yang lalu—di sudut kantin. Titik yang membuatku lemah dan kuat di saat yang bersamaan. Titik yang membuatku merasakan sakit dan bahagia secara bersamaan. Anyelir.
“Kukira melihat seorang Aryabima jatuh cinta adalah hal paling menjijikan di dunia. Ternyata melihatnya patah hati pun lebih menjijikan!” gerutuan Mikail semakin menjadi.
Aku hanya mengangguk membenarkan. Yah, aku memang sedang patah hati. Patah hati karena gadis yang tak pernah menganggap keberadaanku di saat orang lain berlomba-lomba menoleh ke arahku.
“Kukira memilikinya adalah satu-satunya cara agar aku terhindar dari kesakitan dan patah hati...”
“Dan kau sukses mematahkan hatimu sendiri karena keputusan bodohmu. Komitmen terlalu rumit untuk ukuran bocah seperti kita. Di situ letak kesalahanmu,” tukas Mikail sinis.
“Aku tidak pernah merasa bahwa ini salah...”
“Yah, kau hanya mencintai orang yang kurang tepat, jika itu yang ingin sekali telinga panjangmu dengar!” geram Mikail terdengar jengkel.
Mikail dan mulut pedasnya. Dua perpaduan yang pas. Dan dia selalu benar, mungkin aku hanya menjatuhkan pilihan pada orang yang kurang tepat. Tapi—hei, siapa juga yang dapat menyetir hatinya? Siapa yang dapat menentukan akan menjatuhkan hatinya pada siapa? Mikail sialan! Sepintar apapun dia dalam urusan berlogika, hatinya tumpul. Dia belum pernah berada dalam posisiku saja.
Prang!
Bunyi benda pecah belah beradu dengan keramik—yang  tertangkap ekor mata—membuatku mengalihkan perhatian sepenuhnya pada gadis yang telah kuamati sejak tadi. Anyelir terlihat sedang  berjongkok memunguti pecahan mangkuk dan gelas di sekitar mejanya. Dari tempatku duduk, bahunya terlihat bergetar sesekali.
Anye, kau baik-baik saja, kan?
***
“Anye...” bisikku usil pada gadis yang tengah sibuk menikmati batagor di piringnya. Pipinya terlihat menggembung, lucu sekali.
“Jangan memanggilku seperti itu!” sungutnya dengan wajah tertekuk sebal.
“Mamamu bilang aku boleh memanggilmu seperti itu...” bantahku yang membuat dia semakin geram.
“Tapi aku tidak mau!”
“Kenapa?” pancingku lagi.
Saat ini kami sedang berada di taman belakang rumah Anye. Disini terdapat sebuah danau kecil buatan yang dinaungi oleh sebuah pohon besar dan dikelilingi bangku-bangku kecil, tempat aku dan Anye menghabiskan batagor.
“Aku tidak suka.” Kutarik pipi Anye yang sedang menggembung penuh makanan dengan gemas.
“Bima, sakiiit!” jeritnya keras, menjauhkan pipinya dari jangkauan tanganku. Sementara aku masih sibuk tergelak sambil menikmati wajah cantiknya yang terkena sinar matahari. Kukira visualisasi pada iklan pembersih wajah di TV itu terlalu mendramatisir, hanya sebatas hal-hal persuatif yang berfungsi untuk menarik minat pasar. Tapi sepertinya, wajah cerah Anye yang tertimpa sinar matahari benar-benar mengalihkan duniaku. Heish!
“Tanganmu kotor, bodoh! Kalau sampai besok pipiku berjerawat, kukutuk kau jatuh cinta padaku!”
Ada kemungkinan, dia hanya bercanda saat mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi cadaannya sama sekali tidak lucu. Candaan yang sekadar bernilai ‘hanya’ itu malah membuat sesuatu di sudut hatiku merasa terusik. Kurasakan tawaku sudah berhenti sejak tadi, berganti tegang yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku. Aku merasa seperti maling yang tertangkap basah.
Aku berdehem untuk menetralisir degup jantung yang mulai menggila. Sepertinya darah tiba-tiba saja berlomba mengalir ke sana, memprotes untuk segera di pompa ke seluruh tubuhku dalam waktu bersamaan. Kurasakan tubuhku menghangat, sementara keringat dingin mengalir dari pelipisku.
“Sepertinya kutukanmu bekerja lebih cepat,” ujarku tenang, berusaha mati-matian menjaga suaraku agar tidak bergetar karena terlalu gugup.
“Ha?” raut terkejut milik Anye membuat sebuah keberanian menyelusup pelan dalam diriku.
“Aku jatuh cinta padamu, sekarang,” lanjutku kemudian dengan senyum lebar.
“Kau bercanda...”
“Kau pacarku sekarang...”
“Kau mabuk ya?”
“Jika meminum segelas air jeruk bisa membuat orang mabuk, anggap saja begitu.”
“Kau gila?”
“Kau tidak tahu? Ini semua akibat kutukanmu beberapa saat yang lalu,” tanggapku sambil mengulum senyum di bibir.
“Tidak mungkin kutukanku benar-benar mengenainya, kan?” gumam Anyelir  lebih kepada dirinya sendiri. Aku terkekeh geli.
“Aku serius dengan ucapanku, Anyelir. Kita berpacaran sekarang.”
“Coba saja kalau kau bisa membuatku jatuh cinta padamu!” dengusnya terlihat kesal dan merona pada saat yang bersamaan.
“Akan kucoba. Dengan senang hati.”
***
Gerakan tangannya mematung di udara. Pecahan gelas terakhir yang dia pegang terlepas begitu saja, jatuh terhempas bersama pecahan-pecahan gelas lain dalam nampan di hadapan kami. Dia terlihat menyedihkan, dengan kantung hitam tebal yang menggantung di bawah mata. Wajahnya terlihat lebih cekung dari terakhir kali kami bertemu.
“Kau baik-baik saja?” dapat kurasakan nada cemas yang tertelan di ujung tenggorokanku. Pahit. Pahit rasanya melihat dia tidak seperti yang kuharapkan. Jelas, dia tidak baik-baik saja.
“Bi... Bima?” sapanya tercekat. Wajahnya pucat sekali. Jangankan merona, aku tidak yakin ada darah yang mengalir di sana sekarang.
“Kau terluka?” tanyaku tenang sambil meneliti jari-jarinya. Jari-jari kurus itu terlihat pucat dan sedikit bergetar. Kuraih tubuhnya yang terasa semakin kurus itu ke dalam rengkuhanku. Kubimbing dia berjalan meninggalkan kantin tanpa menggubris tatapan penuh tanya dari beberapa pengunjung.
“A...aku baik-baik saja,” ujarnya terbata saat kami sudah berhasil keluar dari area kantin kampus. Dia terlihat seperti enggan berdekatan denganku.
“Aku bisa melihatnya,” tukasku sinis. “Aku lihat kau baik-baik saja. Terlalu baik-baik saja hingga aku bisa melihat wajah mayat hidupmu,” lanjutku dengan nada semakin sinis. Bahkan aku tidak dapat mengendalikan nada dingin yang keluar dari mulutku.
“Tentu. Aku sedang mencobanya. Aku baik...”
“Hentikan semua omong kosongmu! Siapa yang sedang coba kau bohongi, hah?!” bentakku murka. Wajahku terasa panas. Seharusnya tidak begini, tapi aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku terlalu kecewa padanya. Hatiku terlalu kecewa. Terlalu sakit.
“Diriku sendiri...” gumamnya lirih. Isakannya lolos begitu saja. Isakan itu serupa dengan belati. Belati tumpul dan berkarat yang mencoba mengoyak hatiku. Bahkan dengan pacarku yang sebelumnya aku tidak pernah  merasa seperti ini. Aku tidak pernah merasa seterluka ini saat melihat wanita menangis di hadapanku.
Nice. Nice try...” tukasku muram. “Tidak usah bersusah payah membodohi dirimu sendiri. Tanpa melakukannya pun kau sudah terlihat bodoh. Jangan membuatku menyesal karena pernah menjatuhkan pilihan padamu.”
“Memang itu yang sedang kulakukan. Membuatmu menyesal karena telah menyeretku dalam permainan konyolmu.” Apa? Dia bilang ini semua permainan konyol?
“Konyol?” mataku menyipit tidak suka mendengar perkataannya barusan. Oke, ini terlalu kejam. Kata-katanya terlalu kejam untuk ukuran gadis mungil nan manis.
Hah! Bahkan aku masih memikirkan betapa mungil dan manisnya gadis dengan mulut beracun di hadapanku ini. Sialan sekali kau Aryabima!
“Apalagi yang bisa dikatakan untuk perjalanan kita?” raungnya tiba-tiba membuatku  terlonjak. Dia belum pernah menunjukkan sisinya yang seperti ini kepadaku. Dia yang hilang kontrol dan tak terkendali.
“Selamat! Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu! Aku bodoh ya? Nice try,  Bima!” dia membentakku. Tapi bentakkannya membuat sekujur tubuhku menghangat.
“Lalu apa salahnya dengan jatuh cinta padaku? Kenapa kau memilih berpisah? Apa berpisah membuatmu lebih bahagia?”
“Kuharap kau tidak melupakan posisimu...” lirihnya tanpa menjawab pertanyaanku. Diusapnya kasar air mata yang meleleh di pipinya. Pipinya sudah terlihat merah sekali. Aku ketakutan setengah mati kalau-kalau pipi itu akan lecet, melihat betapa kasarnya dia mengusap pipinya. Air mata sialan!
“Apa? Posisi apa?” tanyaku emosi. Gadis ini benar-benar memberikan efek terlalu besar pada sistem kerja tubuhku.
“Kau sepupuku,” ujarnya bergetar.
“Sepupu jauh. Kita tidak memiliki ikatan darah sama sekali!” kukepal tangan kuat-kuat, berusaha merendamkan emosi yang menggelegak, mendidihkan tiap tetes darah dalam tubuhku. Aku benci dia mengungkit ini lagi.
“Kau akan menjadi Kakak Iparku sebentar lagi, kalau kau lupa,” gumamnya lirih. Terdengar seperti sayatan pilu.  Kemudian ia berlalu dari hadapanku. Terlihat mantap, tanpa menoleh sedikitpun.
Kupandang nanar punggung rampingnya yang terlihat bergetar sesekali. Dari luar, mungkin dia terlihat kuat dan berkilau seperti kaca yang berhasil keluar dari mesin furnish bersuhu di atas delapan ratus derajat celcius, yang mampu beradaptasi secara cepat dengan air dingin. Secepat ia leleh, secepat itu juga dia beku. Mungkin dia terlihat tegar dan kuat, tapi dia lupa. Sekuat-kuatnya kaca, dia akan hancur juga saat dibanting.
Jadi... kita benar-benar berpisah sekarang? Lalu kenapa harus berpisah kalau ternyata kita saling mencintai? Untuk kebaikan yang seperti apa perpisahan kita ini? kita berkorban untuk siapa?
Langkahnya semakin lama semakin menjauh. Menyadarkanku, semuanya takkan lagi sama setelah hari ini. Hidupku tak lagi sama. Ada lubang besar yang menganga di tengah dadaku. Lubang besar yang membuatku sulit bernapas. Lubang besar itu tadinya diisi oleh segumpal hatiku. Saat gadis itu beranjak, kusadari hatiku ikut pergi bersamanya. Aku mati. Tak yakin akan cinta lagi.
*End*
Sekaran, 2 Juni 2015


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -