Archive for February 2015

Untuk Sebuah Rindu

    • UNTUK SEBUAH RINDU

      Tak....tik....tak....
      Jarinya terus saja mengetuk-ketuk meja. Kegusaran selalu menjadi hal paling dibencinya. Beberapa orang tengah sibuk hilir mudik dihadapannya. Dan, itu semakin membuatnya tak suka.
      “Apakah kalian bisa berhenti!” bentaknya, sembari memijat kening yang kian pening.
      “Eemm, maaf Pak,”ucap salah seorang di depannya.
      Yuga Pranoto menarik napas dalam-dalam. Berusaha agar setiap kegusaran dan sakit kepalanya berkurang. Di kibaskan tangannya, meminta orang-orang di ruangan itu keluar. Dia sungguh ingin sendiri.
      “Bapak memanggil saya?” sapa seorang pria muda berusia tak lebih tua darinya dengan seragam OB.
      “Aahh, Juki, saya mau minta bantuan kamu,” katanya, setengah memaksakan sedikit senyum yang sungguh hambar.
      Juki terlihat risih saat ia harus duduk di atas kursi bosnya. Lebih-lebih, jas yang dia kenakan terlihat sedikit kebesaran. Ingin rasanya ia melepas pakaian mewah itu. Tapi, cepat-cepat ia menepis keengganannya itu. “Ini tugas, Juk. Tugas!” katanya dalam hati.
      ****
      Seorang pria, berpakaian OB duduk termenung di bawah pohon matoa. Tangannya yang kotor serta tubuh yang bau. Seolah menerangkan jika pria itu baru saja berkutat dengan sesuatu yang tak jauh dari tempatnya beristirahat. Dan itu adalah SAMPAH!
      “Tidak ketemu juga?” tanya seorang perempuan muda yang tiba-tiba membuatnya gelagapan.
      Perempuan muda itu menenteng ember kecil berisi air dan beberapa gelas berukuran sedang. Sedangkan di punggungnya, sebuah tenggok[1] penuh botol-botol cairan berwarna putih pucat, kuning dan hitam serta hijau.
      “Eemm, belum,” jawab Yuga salah tingkah.
      Perempuan di hadapannya menurunkan barang bawaannya, duduk didekatnya. Yuga menatapnya lekat-lekat. Bukan berarti dia tidak pernah bertemu dengan perempuan yang lebih cantik dari perempuan disebelahnya. Melainkan, karena ia merasa nyaman saat bersamanya.
      Nira. Perempuan itu bernama Nira. Perempuan ayu yang berprofesi sebagai tukang jamu keliling. Awal peretemuan Yuga dengan Nina buka karena ketidak sengajaan. Ardi, sahabat Yuga, mengenalkannya pada perempuan itu. Saat Yuga bertandang ke kost Ardi, saat itulah ia dikenalkan dengan Nira. Kost meraka termasuk kost bagi kaum perantau. Tak banyak yang mampu dikatakan Yuga, saat berkenalan dengan Nira. Perempuan asli Solo itu mengadu nasib ke Jakarta bermodalkan satu hal “Keahlian membuat jamu”. Dengan laba yang tak seberapa, kost yang bagi Yuga tak lebih luas dari kamar mandinya. Nira mamapu membuat seorang Yuga mengaguminya.
      “Kalo ndak ketemu, ya sudah, ndak apa-apa,” ujar Nira pasrah.
      “Pasti ketemu,kok,” sanggah Yuga menyakinkan.
      “Tapi, kalo aku boleh tahu, memangnya seberapa penting sendal selop itu buat kamu?” tanya Yuga hati-hati. Takut menyinggung, barangkali begitu.
      Nira tertunduk. Kulitnya yang kuning langsat, bercahaya saat sinar matahari yang garang menyeruak, menyelinap meneranginya dari balik dedaunan matoa.
      “Ya, penting. Tapi, kalo tetap ndak ketemu, aku sudah ihklas, kok, Mas,” jawab Nira dengan senyuman yang khas.
      Yuga menelan ludah. Tak ingin. Sungguh tak ingin ia mendapatkan senyuman dari perempuan ayu itu. Tapi, senyuman yang menyakitkan baginya. Bagaimana tidak? Jika dibalik senyuman itu, sepasang mata di atasnya meredam kesedihan.
      Sedikit ragu-ragu, Yuga mencari-cari sesuatu di balik semak-semak. Tangannya menyentuh kantong plastik. Lamat-lamat, ia kembali menatap Nira. Menyentuh tangan mulus yang setiap hari meracik dan menjajakan jamu.
      “Ini....” ucapnya tersenyum jail.
      Nira menyerngitkan dahi. Matanya menatap kantong plastik. Dengan hati-hati, di bukanya kantong plastik itu. Wajahnya seketika berubah cerah. Senyum yang khas itu kembali mengembang. Yang jelas, tidak dengan mata kesedihan. Melainkan kebahagiaan.
      “Lho, kata mas tadi ndak ketemu? Mas Yuga ini jail tenan[2] ternyata,” ujarnya tak menyangka.
      Sedangkan Yuga hanya mampu meringis salah tingkah sembari menggaruk kepalanya meski tak gatal.
      “Aku ngak tega liat kamu sedih. Maaf, ya. Tapi, apa sendal selop itu begitu penting?” Yuga kembali bertanya.
      Nira memandang lekat-lekat sendal selop berukuran 42 berwarna coklat itu. Ia tersenyum, mendekat sendal selop itu penuh arti.
      ****
      Yuga mengetuk-ketukkan jari di atas meja. Itulah kebiasaannya jika sedang gusar. Di hadapannya, Juki berdiri bak patung. Ia baru saja menyuguhkan secangkir kopi hitan untuk Yuga. Kalo boleh ditilik dari riwayat kerja dan kedekatannya dengan Yuga, bisa dikatakan jika Juki adalah salah satu orang kepercayaan Yuga. Meskipun pangkatnya hanya sebatas OB.
      “ Mas Yuga baru kesal sama orang, ya?” tanyanya setengah menebak-nebak.
      Juki menghela napas saat pertanyaannya tak direspon. Perlu diketahui juga, di hadapan orang lain atau saat tidak berdua dengan Yuga, panggilan Bapak ke Yuga berubah menjadi Mas. Kata Yuga, biar lebih akrab.
      “Juk, kamu pernah patah hati?” Yuga tiba-tiba saja bertanya hal yang aneh menurut Juki.
      “Woo, ya pernah, Mas. Malah sering. Terakhir kali, sama Mbak Mitha,” cerocos Juki antusias saat menyebut nama Mitha yang tak lain adalah sekertaris Yuga.
      Yuga mendengus. Memijat keningnya. Kemudian melambaikan tangannya, menyuruh Juki keluar dari ruangannya. Dalam hatinya, ia merutuk. Bertapa beruntungnya Juki. Setidaknya begitu.
      Otaknya tiba-tiba saja bagai layar tancap. Memutar ulang adegan seminggu yang lalu, saat ia bertemu dengan Nira. Masih begitu jelas bagaimana perempuan itu tersenyum, tatapan serta candanya. Tapi, sesering ingatan itu muncul, sebanyak itu pula sakit yang di dera harinya.
      “Apakah ini hanya sebatas kerinduan? Kerinduan yang terlarang!” keluhnya setengah mengumpat.
      ****
      Seminggu sebelumnya....
      Yuga menelan ludah mendengar penjelasan Nira. Hatinya sontak terasa ngilu. Kepalanya berdenyut-denyut melebihi denyut jantungnya yang bagai genderang. Napasnya tersengal, sesak dan menyakitkan.
      Nira masih memandang selop coklat ditangannya. Wajah ayunya terlihat seolah tak bersalah dengan penjelasan yang baru saja ia lontarkan pada Yuga. Aneh memang, tapi itulah Nira.
      Usai menemui Nira dan memberikan selop coklat yang pernah ia pinjam gara-gara sepatunya hilang sewaktu di kost Ardi, Yuga merasa ada yang begitu kosong tapi juga berlubang di dadanya. Matanya tak kunjung terpejam meski ia saat ini berada di atas tempat tidur dengan AC menyala.
      Telinganya bergurindam. Berulang-ulang. Seolah-olah, penjelasan Nira adalah nyanyian nina bobok yang menyeramkan.
      “Tuhan, biarlah ini menjadi sebatas luka. Luka yang disebabkan untuk sebuah rindu. Rindu yang ternyata terlarang. Untukku, bahkan untuknya,” akunya dengan berat hati.
      Bagaimana tidak? Jika penjelasan Nira-lah yang menyebabkan semua itu. Penjelasan akan sebuah pengakuan dari seberapa-penting-sebuah-sendal-selop-berwarna-coklat itu.
      Lagi-lagi, telinganya mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang membuat ia harus menyumpal lubang telinga dengan kata-kata lain. Kata-kata yang akan mengobati kegusaran dan kegelisahannya. Kata-kata itu....
      “Sendal selop ini sangat penting buat aku. Karena sendal selop inilah jati diriku, Mas. Aku ndak mau membohongi Mas Yuga yang sudah baik sama aku. Karena aku tahu, Mas Yuga itu orang baik. Tapi, aku cuma minta, setelah ini jangan jauhi aku. Selop ini sebenarnya bukan milik Bapakku, tapi milikku. Ya, benar, aku sebenarnya seorang pria. Aku trasn-gender. Aku seorang waria. Dan aku bangga karena aku mengkuinya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Karena itu, aku akan terus menyimpan selop ini, agar aku selalu ingat siapa aku, darimana aku dan seberapa besar rinduku pada diriku yang dulu. Meskipun, sesungguhnya inilah aku.”
      ****



      [1] Bakul/keranjang yang terbuat dari anyaman bambu
      [2] Benar-benar/sungguh-sungguh.
    • Posted by Refa Annisa
    • 7 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Tentang Sepuluh Buku

    • Akhir-akhir ini, kadang saya terngiang petikan dari Oscar Wilde. Katanya, I am too fond of reading books to care to write them. Bahkan sekelas Oscar Wilde yang tulisan-tulisannya terkenal, mengaku malas nulis karena terlalu suka membaca? Padahal Pak Oscar ini tulisannya banyak lho, kayak gitu kok dia bilang malas nulis, ya?

      Tapi, yang pasti sih, Pak Oscar ini gemar membaca (err...sok kenal banget), dan mudah-mudahan kita semua juga ketularan kerennya. Nah, nah, sehubungan dengan itu, kayaknya asik juga kalau kita share buku-buku favorit kita di blog ini. Buat rekomendasi bahan bacaan atau sekadar bahan pertimbangan pas mau beli buku, misalnya. Berhubung para kuncen blog juga udah mengijinkan, maka akan saya mulai dengan buku-buku favorit saya yah, :D #narsis

      Nanti yang lain share juga yaaah... :D

      Baiklah, ini dia sepuluh buku favorit saya selama dua puluh ******* tahun terakhir. (umurnya kena sensor) :p

      1. Antoine The Saint Exupery - The Little Prince (1940)
      Ini adalah buku yang saya baca sewaktu kelas 1 SD dan sampai sekarang masih meninggalkan kesan yang kuat. Ceritanya memang penuh metafora, tapi sederhana dan mudah dimengerti bahkan oleh anak-anak. Analoginya menarik dan timeless, dibaca dulu maupun sekarang tetap relevan. Intinya, dia menghibur, ringan, tapi tetap menyisakan perenungan. #tsah


      2. Harper Lee - To Kill a Mockingbird
      Ini adalah buku yang timeless juga, pertama kali dipublikasikan tahun 1964 kalo nggak salah, dan sampai sekarang masih sangat enak untuk dilahap. Penulisnya, Harper Lee, cuma nulis satu novel ini sepanjang hidupnya, tapi langsung melegenda. Ceritanya bertema kemanusiaan, tentang seorang pengacara yang memperjuangkan nasib seorang terpidana berkulit hitam, sayangnya saat itu orang-orang kulit hitam biasanya dihukum tanpa mendapat pembelaan yang layak, jadi pengacara itu dikucilkan termasuk keluarganya. Nah, yang unik, cerita ini ditulis dari sudut pandang anak si pengacara. Worth reading banget pokoknyah.


      3. George Orwell - 1984 (1948)
      Susah mau ngasih tinjauan tentang buku ini, terlalu sering dibahas dan didiskusikan sama orang2 yang lebih berpengalaman, jadi agak minder mau ngasih komentar. Intinya, buku ini fiksi yang ditulis tahun 1948 yang berisi prediksi penulisnya tentang apa yang terjadi di tahun 1984. Dia membayangkan suatu rezime totalitarianisme yang sangat ketat dan memutar balik logika. Rezim itu menggunakan berbagai media untuk mengendalikan pikiran rakyatnya, dan tiap kali saya nonton tivi sekarang ini--beneran deh--saya selalu keinget buku ini. Makanya, biar nggak terpengaruh isu politik yang direkayasa, mending baca buku ini, dijamin seru deh. :p


      4. Aldous Huxley - Brave New World
      Buku ini bisa dibilang kebalikannya novel 1984, dia membayangkan rezim totalitarianisme, di mana semua orang diperbudak kesenangan. Ini juga keren banget. Words fail me to describe it... mending baca sendiri yah.... XD


      5. Carl Sagan - Contact (1999)
      Ini adalah novel yang memadukan sains dan pertanyaan yang sangat esensial tentang kepercayaan pada Pencipta. Tema besarnya sih itu, tapi penggarapannya ringan, enak dibaca, nggak bosen dibaca berkali-kali. :D


      6. Ursula K. Leguin - Wizard of Earthsea (1968)
      Penggemar Harry Potter mungkin akan suka juga dengan buku ini. Lebih jadul memang, tapi sama serunya, sama muatan moralnya, pengarangnya juga sama piawainya menciptakan dunia sihir with conviction kayak J.K. Rowling. Ini recommended buat Refa dan Ocha. #eh XD


      7. Robert M. Pirsig - Zen and The Art of Motorcycle Maintenance (1974)
      Ini buku fiksi yang bacanya harus sabar. Teorinya banyak >.<. Tapi begitu selesai baca, akhirnya kita menemukan suatu cara pandang baru terhadap pemisahan antara rasional dan irrasional. Plotnya sederhana, seorang Ayah mengajak serta anaknya menempuh perjalanan dalam sepeda motor untuk menemukan dirinya yang pernah hilang dan menaklukkan hantu dari masa lalu. #haish


      8. Oscar Wilde - The Picture of Dorian Gray (1890)
      Ini juga buku legendaris yang menurut saya keren. Plotnya mungkin terkesan kayak cerita misteri, tapi menurut saya ini lebih ke arah sindiran moral. Dialog-dialognya cerdas, menguliti kemunafikan manusia. Keren banget deh pokoknya.


      9. Oscar Wilde - The Importance of Being Earnest
      Ini sebetulnya naskah drama, tapi cuma baca naskahnya aja saya bisa ngakak-ngakak. Lucu, witty, ringan, tapi sindiran-sindirannya kena banget. Buku ini bisa didownload gratis di gutenberg ebook project. Dan nggak usah khawatir, karena copyright-nya udah expired dan udah jadi public domain, jadi insya Allah halal. :p


      10. The Kite Runner - Khaleed Khoseini
      Kalau ini sih.... pasti udah pada nonton filmnya yah. Atau mungkin juga baca bukunya. Ini termasuk buku baru, terbitnya tahun 2000 ke atas kayaknya. Ini tentang seseorang yang menghabiskan kecil di Afghanistan, dan ketika pecah perang ia sudah aman di Amerika, kenangan-kenangan dan rasa bersalahnya ketika menghabiskan masa kecil sebagai salah satu orang kaya di Afghan membawa dia untuk pulang ke Afghan untuk menebus satu kesalahan itu.

    • Posted by siska
    • 11 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Mendaki Kenangan

    • “Banguuunn! Banguuunn! Kita udah sampe nih!”
      Teriakan Arman membangunkanku yang tertidur lelap di atas tumpukan tas carrier. Sambil menahan kantuk, aku dan kawan-kawan lainnya bersiap merapikan carrier masing-masing. Satu persatu carrier diturunkan dari mobil pick up yang sudah membawa rombonganku melintasi jalanan dari Jogja menuju tempatku saat ini, Desa Bambangan, desa yang terletak di kaki Gunung Slamet.
      “Dingin…” sahut Nila sambil menahan tubuhnya yang gemetar diterjang udara dingin.
      “Ya iyalah dingin, ini kan masih subuh, Nil. Untung mobil pick up nya dikasih atap terpal semalam, kalo enggak pasti dingin banget nih semalaman di mobil terbuka gini,” sahutku sambil menurunkan carrier ukuran jumbo milikku dari mobil. Dengan kapasitas 80 liter, carrier-ku ini lebih sering disebut kulkas oleh kawan-kawanku yang lain.
      Setelah selesai menurunkan semua barang dari atas mobil, kami bergegas menuju basecamp pendakian yang sebenarnya merupakan rumah dari salah satu warga. Sengaja kami berangkat tengah malam agar bisa tiba subuh di basecamp, karena biasanya saat akhir pekan akan banyak pendaki yang ingin menjajakan kakinya di gunung tertinggi di Jawa Tengah ini.
      Gak terasa, udah tiga tahun dari pendakian terakhirku di sini, suasananya masih sama
      “Heh! Ngelamun aja lo.” Nila membuyarkan lamunanku
      “Hehe, lagi menikmati udara pagi aja nih, seger banget,” balasku.
      Nila adalah satu-satunya wanita dalam rombonganku. Dia adalah adik dari sahabatku, Arman. Rombongan pendakian kali ini terdiri dari enam orang. Aku, Arman, Nila, Vito, Gerry, dan Sony sebenarnya berasal dari Jakarta. Kami semua bertemu di kampus yang sama, salah satu universitas swasta di Jogja. Untuk mengisi long weekend, Arman mengajak kami untuk melakukan pendakian. Awalnya aku sempat ragu, pengalaman terakhirku di Gunung Slamet ini sangat tidak menyenangkan. Tapi Arman berhasil membujukku untuk ikut.
      Sambil berkemas ulang, kami memesan nasi rames di warung depan basecamp. Di depan sudah mulai berdatangan rombongan pendaki lain yang baru turun dari mobil sewaannya. Aku mengeluarkan sandal gunung kesayanganku dan menyelipkan sandal jepit yang kupakai dari rumah semalam.

      ***

      “Selamat ulang tahun, Ryo,” bisik Viona saat aku memejamkan mata di hadapannya.
      “Sekarang buka mata kamu, Yo, aku punya kejutan buat kamu,” bisiknya lagi.
      Perlahan aku membuka mata. Di hadapanku, Viona menyerahkan sebuah kantong jaring berwarna hitam kepadaku.
      “Waahh, makasih banyak, sayang. Kok kamu tau sih aku lagi pengen beli sandal gunung?” tanyaku sambil melemparkan pelukan untuk Viona.
      “Aku tau kamu lagi seneng banget naik gunung, makanya aku ngasih kado sandal gunung ini buat kamu.”
      “Hehe, makasih ya, aku sayang kamu,” bisikku pelan di telinga Viona.

      ***

      Tepat pukul enam kami memulai pendakian, diawali dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Arman. Perjalanan dimulai dengan melintasi sungai yang sudah mengering tak jauh dari gerbang masuk pendakian. Di depannya, hamparan kebun sayur warga sudah menanti untuk memanjakan mata. Dari kejauhan terdengar kicauan burung yang menjadi musik pengiring dalam perjalanan. Jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan ini terdiri dari sembilan pos pendakian, jarak yang terjauh adalah dari gerbang pendakian menuju pos satu sampai dengan pos empat. Masing-masing pos dapat ditempuh dalam waktu satu setengah sampai dua jam perjalanan. Selebihnya, dari pos empat sampai puncak tidak terlalu jauh, sekitar lima belas sampai tiga puluh menit untuk masing masing posnya. Kami berencana untuk bermalam di pos tujuh, dengan estimasi perjalanan ditambah waktu istirahat, kami akan tiba di sana pukul empat sore agar dapat menikmati keindahan semburat jingga di atas awan.
      Matahari tepat berada di atas kepala saat aku dan rombongan tiba di pos tiga. Papan nama bertuliskan ‘Pos Cemara’ di salah satu pohon menjadi tanda di pos ini. Kami berencana untuk beristirahat agak lama di pos ini. Aku mengeluarkan kompor portable dan nesting1 TNI dari dalam carrier, sementara kawan yang lain menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
      “Nil, ini sayurannya tolong dibersihin dulu dong,” sahut Vito sambil menyerahkan sekantong sayuran dari carrier-nya.
      “Oke, ini aku bawa sosis juga nih, mau digabung di sayur sop atau mau di goreng aja?”
      “Digoreng aja deh, kayaknya lebih enak,” balas Sony dan Gerry hampir bersamaan.

      ***

      “Akhirnya kenyang juga.” Gerry mengelus perutnya lalu merebahkan tubuh di bawah pohon.
      “Eh, jangan tidur, kita gak boleh lama-lama di sini, nanti kesorean loh,” dengus Arman
      “Iya, iya, bentar doang kok, itu yang lain juga keliatannya capek,” balas Gerry yang tak lama kemudian tertidur pulas.
      “Dasar tukang tidur! Hhaha,” pekik Nila sambil melepaskan tawa dari bibirnya.
      Kami baru melanjutkan perjalanan pukul setengah dua siang setelah membangunkan Vito, Gerry dan Sony yang terlelap. Aku memasukan peralatan masakku ke dalam carrier. Perjalanan dari pos tiga ini sudah mulai menanjak. Dominasi hutan hujan tropis yang rapat melindungi kami dari sengatan sinar matahari.
      “Yuk, lanjut jalan!” sahut Arman penuh semangat.

      ***

      “Lihat! Itu pos enam!”
      “Ahh, akhirnyaaa,” seru kami hampir berbarengan
      Sedikit terburu-buru, Nila berlari memasuki pos enam. Belum sempat ia merebahkan tubuhnya pada batang pohon tumbang di tengah lahan kosong di pos enam, tiba-tiba ia meringis kesakitan.
      “Aduh! Kakiku…,” jerit Nila menahan sakit.
      “Kakinya kenapa, Nil?” Sony yang biasa membawa kotak P3K berlari menghampiri Nila diikuti kawan-kawan yang lain.
      “Aduh, tiba-tiba kram nih,” jawab Nila.
      “Sepertinya itu gara-gara lo tiba-tiba langsung lari tadi, Nil. Makanya pelan-pelan aja dong,” ucap Sony sambil memijit kaki Nila.
      “Iya, iya, terlalu semangat sih pengen istirahat,” balas Nila.
      Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di pos enam. Sambil rebah di batang puhon tumbang, aku mengeluarkan beberapa camilan untuk dimakan bersama. Di kejauhan terlihat awan mendung yang mulai menggantung di bibir langit. Dingin mulai merambat di sekujur tubuh.
      “Lihat! Itu elang jawa!” pekik Vito menunjuk seekor burung yang sedang terbang rendah di sekitar pepohonan.
      “Waah, iya, itu elang jawa, kita beruntung banget, jarang-jarang loh bisa ngeliat langsung elang jawa di sini,” jawab Arman masih sambil mengagumi burung berwarna hitam pekat itu.
      “Eh, udah kesorean nih, lanjut jalan yuk. Kaki kamu udah gak sakit kan, Nil?” ucap Arman sambil berdiri dan merapihkan carrier-nya.
      “Iya, udah gak sakit lagi kok, Kak. Yuk jalan, semoga gak hujan ya”
      “AAMIINN,” teriak kami bersamaan.

      ***

      “Man, itu pos tujuh udah keliatan, gue sama Vito duluan ya, biar bisa langsung masang tenda,” sahutku sambil mendahului rombongan.
      “Siaaap, sekalian masak yah, jadi pas gue sampe sana tinggal makan, hahaha,” canda Arman.
      Dengan sedikit berlari aku dan  Vito menuju ke tanah lapang di pos tujuh. Tanjakan dengan kemiringan hampir tujuh puluh derajat menuju pos tujuh cukup menguras tenaga. Aku terus berusaha naik sambil menahan beban carrier di pundak dibantu Vito yang jalan di depanku.
      Sesampainya di pos tujuh, aku langsung mengeluarkan tenda dari dalam carrier. Vito membantu mendirikan tenda besar dengan kapasitas enam orang itu di samping bangunan shelter dari kayu beratapkan seng yang ada di tengah lahan pos tujuh. Tak lupa juga aku membuat saluran air di sekitar tenda agar air tidak masuk ke dalam tenda saat hujan turun.
      Dingin semakin erat memeluk tubuh. Aku mengeluarkan jaket hangat dan langsung memakainya. Tak lama kemudian kawan-kawan yang lain pun tiba di pos tujuh.
      “Yo, keluarin sleeping bag lo, cepetan! Si Nila kedinginan,” ucap  Arman sambil menuntun Nila masuk ke dalam tenda.
      Aku bergegas mengambil sleeping bag dari dalam carrier dan menyerahkannya pada Arman.
      “Kenapa si Nila, Man?” tanyaku dengan nada khawatir sambil menyerahkan sleeping bag ke Arman.
      “Dari tadi pas pisah sama lo dan Vito dia udah diem aja, menggigil, katanya dia kedinginan banget, padahal jaketnya udah cukup tebal loh,” jawab Arman sambil menyelimuti Nila.
      “Aku gak apa-apa kok, Kak,” sahut Nila dengan tubuh yang masih gemetar kedinginan.
      Deg!
      Pikiranku tiba-tiba melayang ke masa lalu. Masa yang membuatku akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan kegiatan pendakian lagi.

      ***

      “Ayo Vi, semangat! sebentar lagi sampai di pos tujuh, tuh atap shelter-nya udah keliatan,” seruku menyemangati Viona yang tampak sangat kelelahan.
      “Tunggu bentar, Yo, aku kedinginan,” balas Viona.
      “Makanya mesti tetap gerak, Vi, biar tetap hangat. Langit sudah mulai gelap nih, kalau kamu istirahat di sini nanti malah makin dingin loh,” kataku terus menyemangati agar tetap bergerak. 
      Dingin memang sudah mulai menyelimuti sejak di pos lima tadi. Apalagi ditambah dengan badan kami yang sedikit basah karena gerimis membuat dingin semakin menusuk. Kami harus segera tiba di pos tujuh dan mendirikan tenda agar bisa segera mengganti pakaian yang basah.
      Setelah susah payah melewati tanjakan, akhirnya kami tiba juga di tempat tujuan kami. Aku langsung mendirikan tenda yang hanya cukup untuk kami berdua. Sudah ada beberapa rombongan pendaki lain yang mendirikan tenda di sini, untungnya aku hanya membawa tenda kecil yang tak banyak memakan tempat untuk mendirikannya.
      Viona semakin menggigil, aku menyuruhnya masuk tenda dan mengganti pakaiannya yang basah. Sambil menunggu di luar tenda, aku memasak air untuk membuat minuman hangat dan merebus mie instan untuk kami berdua. Karena udara dingin yang semakin menusuk, akhirnya kami makan di dalam tenda. Setelah membereskan perlengkapan masak, aku masuk ke dalam tenda dan menyuapi Viona yang terus saja sembunyi di balik sleeping bag tebalnya, berharap dingin tak mampu menyusup memeluknya.
      Malam semakin larut, rombongan pendaki lain pun berlindung di dalam tendanya masing masing. Di luar hanya  terdengar desir angin yang menyapa lembut rerumputan. Viona mulai terlelap di balik sleeping bag-nya, aku memeluk erat tubuhnya agar tetap hangat. Tak lama kemudian kami berdua pun tertidur.
      Bulan mulai tinggi saat tiba-tiba viona membangunkanku.
      “Yo, bangun, gerah banget, Yo,” Bisik Viona sambil mengguncang tubuhku.
      “Gerah apanya,Vi? Ini dingin banget, yuk mendingan kita tidur lagi, baru jam dua belas malam loh ini,” balasku sambil melirik ke arah jam tanganku.
      Paginya, aku sangat shock melihat kondisi Viona. Tubuhnya sangat dingin. Kulitnya sudah terlihat pucat, cenderung membiru. Dia tetap saja terlelap meskipun sudah kuguncang tubuhnya untuk membangunkan. Aku panik lalu berlari ke luar tenda mencari pertolongan dari pendaki lain.
      “Toloong! Tolong! Tolong teman saya,” pekikku sambil berlari menghampiri sekelompok pendaki yang sedang menyiapkan sarapan.
      “Ada apa, Mas?” Tanya salah satu pendaki.
      “Tolong teman saya kedinginan, badannya pucat, dari tadi dia gak bangun-bangun,” jawabku panik.
      Sambil setengah berlari kami bergegas menuju tendaku yang berada tak jauh dari sekelompok pendaki itu. Salah satu pendaki mulai memeriksa kondisi Viona. Dia hanya diam membatu. Tak bergerak.
      “Maaf, Mas, temannya sudah gak bisa ditolong, ia meninggal karena hipotermia2. Saya akan coba memanggil bantuan tim resque di bawah untuk membantu evakuasi,” ucap si pendaki kepadaku yang mematung di samping Viona.
      “Jangan tinggalin aku, Vi! Jangan pergi! Maaf aku gak bisa jaga kamu.” Isak tangisku pecah memandang Viona yang terbujur kaku tak bernyawa.
      “Bodoh! Harusnya aku gak ngajak kamu ke sini, harusnya kita bisa bersenang-senang di tempat lain, maaf, Vi.”

      ***

      “Cepat suruh Nila untuk mengganti pakaiannya, baju basah akan membuat dia kedinginan,” sahutku sambil mengisyaratkan pada kawan yang lain untuk keluar dari tenda.
      “Tolong kumpulin semua botol minum yang kalian bawa!” Perintahku pada kawan yang lain.
      Aku mulai memanaskan air dan memasukkannya ke dalam botol yang sudah terkumpul. Suasana tiga tahun lalu seperti terulang kembali. Namun, kali ini aku tak mau kejadian yang sama terulang pada Nila. Aku harus berusaha menolong dia.
      “Sepertinya Nila terkena gejala hipotermia,” bisikku pada kawan yang lain.
      “Jangan sampai dia tahu, biar dia gak panik,” tambahku.
      Setelah Nila selesai mengganti pakaiannya, aku dan Arman masuk ke dalam tenda membawakan air hangat di dalam botol. Arman memberikan jaket hangatnya pada Nila, Aku mulai menyelimuti Nila dengan sleeping bag. Untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat, botol-botol berisi air hangat aku selipkan ke dalam sleeping bag.
      “Makasih yah, Kak. Makasih juga, Yo, aku udah gak apa-apa kok,” ucap Nila dengan sedikit berbisik.
      “Iyah, dek. Kakak akan terus ngejaga di samping kamu kok,” sahut Arman sambil memeluk tubuh adiknya yang masih gemetar kedinginan.
      Aku memberi isyarat pada arman agar terus mengajak Nila bicara untuk menjaganya tetap sadar. Sebab, kalau sampai ia tertidur, ia bisa dengan cepat kehilangan panas tubuhnya.
      Saat suhu tubuh Nila sudah dirasa normal, Arman memperbolehkannya istirahat. Aku mulai memanaskan air lagi untuk mengganti air di dalam sleeping bag Nila yang mulai dingin. Setelah mengganti air di dalam botol, aku menyerahkannya lagi pada Arman untuk diselipkan kembali di sleeping bag. Tak lama kemudian Nila mulai tertidur pulas. Aku dan kawan-kawan lain pun akhirnya bisa tenang.

      ***

      Aku terbangun pukul empat pagi lalu memegang kepala Nila untuk memastikan ia baik-baik saja. Lega rasanya saat tahu suhu tubuhnya sudah normal, meskipun Nila masih sedikit menggigil karena dingin yang terus menusuk kulit. Aku merapatkan jaket hangatku dan melangkah keluar tenda. Dengan memakai sandal gunung kesayanganku, aku duduk di dekat sisa-sisa api unggun pendaki lain semalam. Angin dingin menyapa wajahku perlahan. Semburat jingga mulai mengintip di cakrawala. Aku hanyut dalam lamunanku sambil menatap sepasang sandal gunung yang aku kenakan. Sandal gunung yang menjadi pemberian terakhir Viona. Sandal gunung yang selama ini kusimpan dalam gudang karena dengan melihatnya hanya akan memunculkan kenangan pahit tentang Viona.
      Maafin aku, Vi, aku gak bisa jaga kamu…

      ***

      Matahari semakin tinggi. Sehabis sarapan, aku dan Arman akhirnya memutuskan untuk menyudahi pendakian hanya sampai di pos tujuh ini. Kami bergegas merapihkan barang-barang kami dan bersiap untuk turun.
      “Kak, aku gak enak kalau kita gak jadi ke puncak Cuma gara-gara aku. Aku udah sehat kok, Kak,” Kata Nila mencoba meyakinkan Arman.
      “Kita gak apa-apa kok, Dek. Lagian tujuan utamanya kan bukan puncak, tujuan utama setiap pendakian adalah supaya kita bisa pulang ke rumah masing-masing dengan selamat. Itu yang terpenting,” jawab Arman.
      “Iya, Nil, bener kata kakak lo. Lagian kan lo harus cepet di rawat lebih lanjut di bawah nanti. Jangan maksain, bahaya tau,” tambahku.
      Akhirnya kami semua turun. Ada perasaan lega di hatiku. Lega karena aku bisa menyelamatkan Nila sebelum terlambat. Lega karena aku tak mengulang kesalahanku untuk kedua kalinya.
      Maafin aku, Viona…


      Sunrise di balik rerumputan pos 7 Gunung Slamet
      (sumber: Doc. Pribadi)


      Tangerang, 24 Februari 2015

      *Cerpen ini merupakan salah satu hasil Arisan Cerpen dengan tema 'Sandal'

      -----------------
      1.Nesting, rantang dari besi berbentuk kotak yang dipakai sebagai wadah untuk masak (ada juga bentuk persegi panjang dan bulat).
      2.Hipotermia, ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan panas tubuh atau menyesuaikan suhu tubuh dengan udara dingin. 
    • Posted by Jj
    • 7 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Dhanica Rhaina

    • Dhanica rhaina pemilik nama asli Danik Surani. Suka menulis sejak kelas 5 SD. Mulai hobi membaca sejak mengenal perpustakaan dan taman bacaan. Penyuka komik bidadari merah, legenda naga dan detektif conan, serta sedang berburu the princess. Dhanica juga dikenal sebagai salah satu anggota komunitas puisi pro disalah satu stasiun radio Yogyakarta. Menyukai anak-anak dan bekerja sebagai guru paud. Lahir 27 agustus dan sangat suka makan soup. Pemilik bintang virgo ini dapat dihubungi diakun facebooknya ; dhanica rhaian atau twitter; dsrhaian. Blog ds.raina dan email d.s_rhaina@yahoo.com. Bertempat tinggal di Sleman, Yogyakarta. Salam sastra....

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :

    • Posted by Refa Annisa
    • 1 Comment
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Anis Stiyani

    • Tyan Hardiana merupakan nama pena dari Anis Stiyani. Perempuan kelahiran 5 Mei pecinta Capuccino ini sangat mencintai dunia literasi sejak masih duduk di bangku SMP. Hobi membaca segala jenis tulisan, entah itu novel, cerpen, puisi, bahkan berita kadaluarsa dari koran bungkus kacang. Mulai istiqomah menulis sejak awal tahun 2013 karena terinspirasi oleh tulisan seorang author blog Favorit. Gadis yang sangat anti dengan pelajaran Matematika  ini tengah berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya di salah satu Universitas di kota Semarang, jurusan Fisika. Untuk berkenalan lebih jauh, dapat dihubungi melalui twitter di @anisstya atau email stiyani046@yahoo.com.

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :  
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

SetyoJoko

    • Joko Prasetyo. Memiliki nama khas Jawa membuat kebanyakan orang tak menyangka kalau pria yang satu ini asli kelahiran Gorontalo, Sulawesi. Ia lahir tepat tanggal 3 Agustus 1991. Pria penyuka buku-buku fiksi ini juga hobi jalan-jalan. Sejak kecil sudah mengikuti ayahnya yang kerja berpindah-pindah di berbagai daerah di Indonesia. Dengan menulis, ia ingin mengabadikan setiap momen yang dilaluinya. 

      Mau kenalan dengan pria berkacamata ini? Caranya gampang, langsung saja follow twitter @setyoJoko, add akun Facebook: Joko Prasetyo (setyoJoko). Selain membaca dan menulis, ia juga suka sekali bernyanyi. Beberapa rekaman suaranya dapat dinikmati di akun soundcloud setyoJoko.

                  Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :

    • Posted by Refa Annisa
    • 1 Comment
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Pipit Dwie Putri

    • Pipit Dwie Putri adalah nama pena dari Herpritha Febria Dwi JP. Perempuan yang lahir di Bondowoso tanggal 19 Februari ini suka menulis sejak duduk di bangku SMP. Lulusan Akper Bondowoso ini memiliki keinginan untuk maju di dunia literasi dan berniat untuk memajukan kotanya melalui literasi. Beberapa karyanya sering dipublikasikan di grup fb-nya yang bernama PANCHAKE. Melalui grup itu juga, pada akhirnya dia memiliki buku antologi horor yang berjudul Boneka Kuntilanak. Beberapa bulan kemudian, lagi-lagi bersama teman di grup, buku antologi keduanya yang berjudul Percakapan Sepasang Takdir kembali terbit. Penulis ini bisa dihubungi melalui:
      Twitter : @pipitdwieputri
      Email : pipit.dwie@yahoo.com

      Karyanya yang terpajang di blog ini antara lain :
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Muhammad Rizky Ananda

    • Muhammad Rizky Ananda, lahir di Kota Binjai bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Lulus SMA ia mengambil Mechanical Engineering Politeknik Negeri Medan. Menikmati masa remaja sebagai aktivis Kota Binjai. Saat ini menyibukkan masa mudanya di #KampusFiksi Diva Press, penggiat FLP Sumut, dan sebagai Redaktur Pelaksana di Majalah Lokal Sumatera Utara bernama LENTERA.


      Ia dapat dihubungi di alamat : Jl. Let Umar Baki No. 418, Kel. Sukaramai, Lk. VII, Kec. Binjai Barat, Kota Binjai, Sumatera Utara. Kode Pos: 20717; Email : melangitkansenja@gmail.com; twitter : @MhdRizkyAnanda_; Facebook : Muhammad Rizky Ananda; HP : 085297783833.

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain : 
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Lugina W. G.

Kaha Anwar

    • Kaha Anwar adalah nama pena dari Khoirul Anwar. Lahir di Ngawi, pada 28 Mei 1987. Ia menempuh pendidikan mulai dasar hingga menengah atas di kota kelahirannya. Pria yang tak gemuk-gemuk ini, selepas menyelesaikan pendidikan menengah atas, pernah menggelandang di Kalimantan. Selama delapan belas bulan, ia bekerja di pertambangan batubara.

      Kemudian, ia meneruskan pendidikan di Yogyakarta, kuliah di UIN Sunan Kalijaga jurusan Pendidikan Kimia. Meski, akhirnya, belum sempat mengabdikan di dunia pendidikan.


      Pria lajang penyuka kopi ini memulai kepenulisannya sejak duduk di bangku menengah atas. Sekarang, ia tinggal di Yogyakarta, dan bekerja sebagai editor serta penulis lepas di beberapa penerbitan. Orang aneh ini bisa dihubungi lewat alam maya (ketik saja Kaha Anwar di google, pasalnya ia lupa akun-akunya) atau bisa berhubungan lewat nomor  0857-2970-3847.

      Karyanya yang sudah terpajang di blog ini antara lain :

    • Posted by Refa Annisa
    • 1 Comment
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Antara Desa dan Kota

    • Ada garis diametral yang memisah yang menyingkurkan keduanya. Desa adalah perawan yang belum teraba tangan-tangan jahil. Ia simbol kepolosan, kesederhanaan dan kemandirian. Namun, desa, juga terkadang gambaran keterbelakangan, kekalahan manusianya menaklukan roda zaman. Akibatnya, ia tersudutkan dengan kata-kata “kamu ndeso”.
      Lain halnya dengan kota. Ia adalah tempat berkumpulnya manusia “berpendidikan”. Bertemunya manusia yang suka bereksperimen dalam segala hal: budaya, politik, kesenian, kesehatan bahkan seks. Kota menjadi laboratorium mini yang semua dimasukan dalam botolnya kemudian digojak. Di kota, kita menemukan, riuh di luar tetapi sepi di dalam. Kota itu hingar bingar bersama, tetapi sunyi dalam relung rumah tangga. Kota, dalam kacamata desa, merupakan tempat yang menyeramkan: sekali masuk engkau terjerat dan berubah karenanya. Kota itu penuh monster yang menjelma liluput yang memikat.
      Itulah tangkapan saya ketika seorang teman menyodorkan draf novelnya. Dalam draf yang masih “mlampo” itu, ia  ingin melakonkan kisah seorang gadis desa yang “ngangsu kaweruh” di kota. Sebagai manusia yang sejak kecil hingga remaja berkutat dengan kehidupan desa, dengan segala atribut normanya, merasa canggung menghadapi “riuh-rendah”nya kota. Si gadis harus setia dengan norma “desa”, tetapi juga terus tergenjet dengan alunan-alunan rayuan kota yang begitu memikat.
      Sang gadis yang lagi ranum dadanya harus berperang dengan suara batin yang mendapat perapian dari nasihat orangtua, “Jangan pacaran selama kuliah!” Saya kira ini peringatan yang wajar dan sangat umum. Pacaran dalam pandangan orangtua menjadi biang keladi “bubrah”nya para pencari ilmu. Selain itu, ada semacam ketakutan melihat gaya pacaran anak sekarang yang mengaburkan kejelasan: antara sudah menikah dan masih pacaran seakan sama. Apalagi di kota yang notabene sifat saling “asah asuh” sudah memudar. Ditambah dengan jauh jangkuan pengawasan orangtua, tentunya ini menambah kekuatiran tersendiri.
      Apakah orangtua tidak belajar mempercayai sang anak? Bisa saja. Meskipun, “anakmu bukanlah anakmu” sebagaimana syairnya Kahlil Ghibran, tetapi setiap “anak polah bopo kepradah”. Orangtua tetap saja tidak bisa lepas tangan, cul setir, membiarkan anaknya menyusuri dunia yang akan dijamah. Walaupun, bisa saja,  secara intelektual sang anak lebih unggul dibanding orangtuanya. Akan tetapi, orangtua sudah lebih lama merasakan asinnya samudera kehidupan dengan segenap iming-imingnya. Setinggi title, gelar akademik, tetapi selama sang anak masih menyandang “anak”, ia selalu di bawah pengawasan orangtua. Sebagai anak, apakah kita legowo?
      Berangkat dari desa dengan bekal nasihat, memegang panji kepercayaan dan rasa ingin membahagiakan orang tua seakan ajian ampuh menaklukan beringasnya kota. Perlu diingat, kota mempunyai “ajian jala sutra” yang mampu melempuhkan “aji-ajian” yang belum matang, apalagi aji-ajian tersebut dulu diperoleh karena “terpaksa”. Dengan mudahnya ia akan mlempem dengan ajian jala sutranya kota. Jala sutra begitu lembut menyerang, tidak frontal dan tidak kelihatan perkasa. Ia menyusup, perlahan mempengaruhi syaraf-syaraf, membiarkan Anda bertarung sendiri dengan aji-ajian yang Anda miliki. Setelah terkecoh, jala sutra mak bles melumpuhkan daya pertahanan itu. Lemas, tak berkutik dengan digdayanya kota.
      Begitu pula yang dialami sang perempuan: satu, dua atau bahkan empat semester ia masih bisa bertahan dengan hiruk pikuknya kota, tak tergoda dengan keglamouran kota. Panji-panji masih dipegang kuat. Ibarat antivirus, ia masih baru dan ces pleng menanggapi virus-virus yang berdatangan. Akan tetapi, “rasa kesepian” tak mampu ia tahan. Apalagi, ketika masih di desa, rasa kekeluargaan, regejekan sambil petan adalah sarana mengungkapkan unek-unek. Sekarang, di kota, yang ramai tetapi sepi di kedalamannya, ia tak kuat. Kanan-kiri, temannya punya pasangan yang dilahatnya begitu mesra, menjadi tumpuan curhat. “Alamak, alangkah nikmatnya,” pikir sang gadis.
      Mula-mula, ia canggung mendulit “pacaran”. Ia hanya ingin “ndulit sak kuku ireng”nya, tak lebih. Sebab, ia masih memegang “wanti-wanti” orangtua. Lama-lama, ia menambah dosis “ndulit”nya, yang semula sepucuk kuku kini bisa satu sloki: hingga mabuk kepayang. Wanti-wanti mati. Orangtua hanya lamunan nun jauh di pojok jagat yang terasing, katrok.
      “Bukankah hidupku adalah hidupku. Hidup adalah pilihan: salahkah jika aku memilih? Untuk apa aku lahir jika aku tak menggenggam kehidupanku sendiri? Milikku bukan sekadar wadag tetapi juga jiwa, cita-cita, perjalanannya. Inilah kebebasan!”
      Ia menikmati kenikmatan kota yang baru sejengkal itu. Dalam menikmati “pilihan”nya, ia serahkan “mahkota kulit” kepada sang kekasih. La da lah, begegek ugeg-ugeg, waduh angger genduk sing ayu dewe, kowe wis keblinger!” kata  Semar. Tapi nasi telah basi, hendak diapakan lagi? Sesal. Berhenti di sini draft novel tersebut.

      Desa: Perawan; Kota: Apalah Arti Perawan?
      Desa. Air sungi gemercik mengalir di sela bebatuan. Sawah-sawah menghampar hijau atau mengemuning padinya. Kicaun burung sambil jumpalitan di pepohonan. Kabut pagi tipis membalut angkasanya. Manusianya sumeh tak henti jika berpasasan satu sama lain, meski belum kenal. Pagi-pagi, laki-lakinya membawa cangkul di pundaknya. Perempuannya membawa snek (tenggok) di pinggangnya, melangkah dengan senyum menatap masa depan di hamparan sawahnya. Jika senja menyapa, mereka berkumpul ditemani dengan lampu teplok atau jika tepat purnama mereka ndeder ing pelataran sambil menikmati kopi dan berbagai rebusan polo pendemnya. Anak-anak bermain petak umpet di bawah siraman purnama atau sekadar mendengar dongeng dari orangtuanya.
      Gambaran yang begitu elok, tak ada gejolak politik yang dirembuk, tak ada diskusi liberalisme, demokrasi, golongan sesat dan tidak sesat, up date barang-barang mewah, riuh rendahnya kehidupan selebritis. Yang ada tinggal semacam klangenan, dunia sendiri. Apakah ini bentuk kebebalan dengan dunia luar, sikap apatis terhadap perkembangan zaman? Ataukah, mereka memang tak ingin merembuk hal-hal yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupannya, meski pengaruh itu ada?
      Desa memang unik. Ia bagaikan sesosok makhluk yang menggenggam diam, tak dicuatkan ke permukaan. Loro lopo berani ditanggung, meski dalam keheningan diam-diam desa bisa ngentut yang baunya bisa memosak-masikan ketentraman bernegara. Manusia yang menghuni tentu paham betul arti demokrasi, bahkan mereka sudah menjalaninya sebelum kata demokrasi merambah Indonesia. mereka mempunyai mekanisme memilih “tetua” desa dengan cara mufakat, dan ini sistem yang afdhol daripada sekadar memilih gambar yang tak dikenal. Mereka bukannya tak mengenal kehidupan di luar, tetapi dunia luar ia tempatkan sebagai kabut tipis yang menutupi gunung kesejatian kehidupan di luar.
      Kota. Jalan-jalannya mirip sungai desa: kendaraan yang terus mengalir tanpa henti. Apabila pagi-pagi, kita bisa menemukan orang yang “lari pagi”, senam untuk menjaga kebugaran. Matahari setinggi tombak, orang-orang dandan rapi dengan dasi bergelantungan di leher, membelah dada: memesona. Menggambarkan keanggunan dan kecendikian pikirnya. Makannya teratur dengan munculnya istilah-istilah keren breakfast, lunk, dinner kadang juga ditambah party. Sungguh asyik. Jika malam jelang melajang: lampu-lampu kota menyorot tajam seakan mengawasi penghuninya, mengalahkan sayunya ranum rembulan. Kafe-kafe hidup, tempat hiburan berbinar. Setiap orang mempunyai tempat yang sesuai dengan kebutuhannya.
      Di tempat-tempat itu segalanya bisa terjadi dan dibahas: tentang penting dan bahayanya liberalisme, demokrasi yang la raiba fih, tentang harga kebutuhan pokok yang naik, kehidupan selebritis A yang tersandung kasus atau yang lagi naik daun. Semua dibahas dengan jeli, rapi dan apik. Sebab setiap orang menggenggam ilmunya, berpredikat professional. Segalanya harus gamblang, kehidupan harus diselami: hidup yang tak dimengerti adalah hidup yang tak layak dihidupi.
       Kota tak pernah sepi, meski malam mulai melarut dalam pagi. Manusianya seakan-akan lahir terus menerus: yang satu tidur, yang lainnya bangun. Kota tak pernah sepi, meski kelihatan sepi sebenarnya ia tak pernah sepi. Ada saja klesik-klesik dalam ruang pribadi, di hotel, di kafe yang temaram lampunya. Kota dalam keadaan waspada. Jika ada yang kecolangan, entah dalam bentuk apa, itu hanya kelalaian atau sekadar mempersilakan “maling” mengambil sedikit madunya kota.
      Itulah kehidupan kota yang boleh jadi dalam pandangan manusia desa agak sedikit menakutkan, agak sedikit samar identitasnya. Tetapi, kota benar-benar bukan monster, bukan samar, hanya saja begitu banyak manusia yang menghidupinya—dengan segela kepandaian, keinginan, hasrat hidup layak—maka kota sulit didefinisikan “jenis kelamin”nya dengan utuh.
      Hubungan desa dengan kota bak bola lampu dengan anai-anai: selalu memikat. Ia simbiosis yang bukan mutualisme, parasatisme, maupun komensialisme: ia punya nama sendiri yang berubah-ubah. Kota selalu menjadi madu manusia desa untuk mendatanginya, meski sedikit takut. Kota bagaikan lampunya desa yang mengundang untuk datang, karena mencorongkan sinar terang kemajuan meski mampu membakar. Mungkin yang perlu dipersiapkan desa adalah bagaimana caranya melindungi diri agar jangan sampai terbakar setelah menyentuh bola lampu kota yang “panas” itu.
      Desa dengan gemercik sungainya, kabut tipis yang menutupi cakrawalan paginya, yang sumeh manusia-manusianya, mungkin saja hari ini kita menemukan dalam keadaan yang berbeda. Desa telah menyerupai anak bajangnya kota, sebab pemerintah memperhatikan desa dengan rencana “mbangun deso”. mungkin pemerintah menganggap desa selama ini bayi yang tertidur pulas dan itu berarti harus segera dibangunkan.
      Kota, dengan kendaraan di jalan-jalannya bagaikan alur sungai di desa, dengan keriuhan malamnya tanpa henti, mungkin saja, hari ini, Anda menemukan kota berusaha menjadi desa karena terlalu penat menanggung kehidupan, desakan keinginan yang tanpa henti sehingga sadar “tubuh” punya mekanisme metabolisme yang tidak bisa terus-terusan digenjot.
      Tetapi, bisa saja hari ini dan besok, kita tak akan lagi menemukan desa dan kota. Sebab, desa telah berubah menjadi kota dan kota bertiwikrama menjadi hiperkota. Jika kita kangen dengan itu semua: hanya bisa menulis keelokan di lembaran kertas kemudian larut di dalamnya. Tanpa sadar, kita tidur di atasnya dan meneteskan liur membanjiri “gambaran” desa dan kota yang tak rampung kita tulis.

      Khoirul Anwar
      Penikmat kopi dan kretek
    • Posted by Refa Annisa
    • 2 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -