Posted by : celotehsaya Mar 8, 2015

***


Be not far from Me; for trouble is near, for there is none to help. Psalm 22:11

***


Cornwall, 1642


Pada tangis yang pecah untuk ke sekian kalinya malam itu, ketika purnama sudah lengser dan tergelincir dari puncaknya, Abigail Hastings melepaskan desah napasnya. Peluh menitik di dahinya, membasahi punggung tangannya usai ibu berparas rupawan itu merapikan anakan rambutnya yang sempat berantakan oleh kelelahannya.


"Bagaimana dia?" tenang, suaminya bertanya.
"Tidak apa-apa, ada yang mengganggu tidurnya, tapi kurasa dia akan baik-baik saja. Kembalilah dulu ke kamar, John. Nanti aku akan menyusul."


Nanti yang dikatakannya mewujud bersama pagi. Beberapa kali balitanya terbangun semalam, menangis mengerang-erang, teriak begitu kencang. Semalaman pula Abby berjaga di sampingnya, menggendongnya tatkala tangisnya tak kunjung reda, menepuk-nepuk punggungnya hingga balitanya merasa tenang. Ketika pagi tiba, Abby sudah lupa di mana dia meletakkan kantuknya, yang ada hanya perasaan cemas pada keadaan Jasper kecilnya. Ada yang mengusik lelap anaknya dan dia tak tahu apa, dan kini hal itu juga mulai mengusiknya.


Sembari menggendong balitanya, Abby menyiapkan sarapan untuk suaminya; roti gandum dengan mentega, juga setoples selai raspberry rumahan yang dibuatnya minggu lalu. Untuknya sendiri, Abby menyiapkan teh hangat dengan banyak sekali madu dicampurkan di dalamnya. Mereguknya perlahan sembari sesekali tersenyum, menenangkan suaminya yang berulang kali mengabaikan sarapannya hanya untuk memandang cemas padanya. Mereka sudah lama terjebak dalam cinta, kata-kata sudah tak begitu mendesak untuk disuguhkan hanya demi memperjelas apa yang mereka rasakan. Sekalipun bukan lelaki yang peka, John cukup mengerti istrinya kelelahan, juga dari absennya tawa riang serta celotehan pangeran kecilnya yang kini mendengkur pelan di peluhan ibunya seperti kucing kecil, ia paham tak sebaiknya ia banyak mengumbar tanya.


Hanya saja, nuraninya sebagai seorang ayah—dan juga suami—membuatnya tak mampu berhenti memasang wajah khawatir. Nafsu makannya surut secepat balitanya menangis semalam, dan kecemasannya tertahan begitu lama tanpa mengenal kata usai meski tangisan itu sudah reda pagi ini, begitu pekat kekhawatiran mengisi pikirannya hingga pagi itu ia lupa membakar tembakaunya yang biasa menemaninya hingga terbatuk-batuk. Beranjak, ia membiarkan lantai kayu ruang makannya berdecit dicakari kaki-kaki kursinya. Langkahnya lembut terayun memutari meja makan mereka, menghampiri istrinya yang kini mendongak menatapnya iba.


"Beristirahatlah, kau dan juga Jasper," ucapnya hangat, sehangat kecupnya yang ia biarkan berlabuh masing-masing satu pada pucuk kepala istri dan anaknya, sehangat senyum yang ia sajikan setelahnya. "Hari ini tavern biar aku yang urus."
"Tidak apa-apa?" Cemas itu menular pada raut istrinya.
"Tentu. Istirahatlah."


Keluarga Hastings mengelola sebuah tempat minum di lantai satu kediamannya yang mungil. Terletak di pesisir Cornwall, tavern tersebut sering kali menjadi tempat singgah bagi mereka yang ingin menyebrang ke benua besar. Terlebih beberapa tahun terakhir ketika perang yang dipicu oleh masalah dalam keuskupan Gereja Skotlandia pecah, menyebar hingga ke Britania dan Irlandia, memaksa mereka yang cukup mampu membawa sebagian harta, bersembunyi, lalu pergi mencari sanctuary yang aman di daratan seberang.


Siang itu, seperti siang-siang yang lalu, tavern milik keluarga Hastings tengah sibuk-sibuknya melayani pengunjung yang datang—beberapa nelayan dari pelabuhan yang dengan mudah tenggelam dalam kenyamanan semu persembahan botol-botol whisky serta aqua vitae; sekeluarga bangsawan yang tengah dalam penyamaran, yang begitu merepotkan dengan keluhan-keluhan atas pesanan mereka ("Tuna ini dimasak terlalu lama!", "Kenapa kau tidak menyediakan selai blueberry? Aku tidak suka raspberry."); juga para tua dari desa yang sekadar menghabiskan waktu mereka bercakap-cakap sampai mentari terpeleset dan jatuh dalam mulut sang senja seperti biasa. John sedang mengisi ulang gelas bir salah seorang nelayan tua—yang mungkin sudah tak bisa membedakan bir yang diminumnya dengan air keran—ketika suara ledakan keras menghentak dari lantai dua.


Meningkahi pecahan gelas yang dijatuhkannya, juga pekikan serta umpatan yang tak sengaja lepas dari mulut-mulut pengunjungnya, John berderap menaiki tangga di belakang meja bar. Lantai dua adalah kediaman mereka yang sebenarnya, dua kamar yang mungil masing-masing untuknya tidur bersama Abby dan juga kamar tempat di mana keranjang tidur pangeran kecilnya diletakkan. Bergegas ia menghampiri kamarnya, mendapati suara ledakan sudah redam oleh tangis kencang pangeran kecilnya, bersahut-sahutan dengan deru napas istrinya.


"Ada apa? Apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja?"
"Ti-tidak. Y-ya, kami baik-baik saja."
"Ada apa?"
"A-aku tidak tahu. Jasper tiba-tiba terbangun lalu berteriak, dan berikutnya ..., i-itu." John tak perlu menjadi seorang jenius untuk mengerti, sebuah lubang yang menganga pada apa yang tadinya mereka sebut sebagai beranda sudah melanjutkan kalimat istrinya, hanya saja menghempaskan jawabannya bersamanya. Ia masih tak tahu apa yang telah terjadi.
"Penyihir! Anak itu dikutuk! Ini pasti kerjaan setan! Anak itu kerasukan!" Barulah saat seloroh itu mampir pada pendengarannya, John sadar dirinya bukan satu-satunya yang naik memeriksa suara ledakan yang terdengar, beberapa para tua dari desa sudah bergerombol di ambang pintu kamarnya, dengan celotehan mereka dan wajah ngeri yang sama sekali tak sungkan membuat John bergidik mencengkram tangan istrinya semakin kencang.


Gelisah, ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Pikirannya kalut oleh banyak gagasan yang mencekam. Tuduhan sebagai penyihir bukanlah tuduhan yang main-main, nyawa taruhannya; dan ia, sekalipun benar Jasper terlahir sebagai seorang penyihir, atau menjadi inang bagi setan paling jahat untuk bersemayam, tak akan begitu saja menyerahkan nyawa Jasper habis terbakar pada pancang-pancang yang ditegakkan oleh penduduk desa dengan mata merah berkilat menyerupai penyihir yang sebenarnya ..., meskipun itu berarti ia harus menukarnya dengan nyawanya sendiri. Sialnya, ia sendiri pun tak bisa menjelaskan lubang besar menganga di dinding kamarnya, selain bahwa benar itu adalah pekerjaan setan. Matanya yang kelabu semakin pucat mencelos menatap pangeran kecilnya yang masih belum berhenti bermain dengan tangisnya; bergantian penuh iba menatap istrinya yang juga sama kalutnya seperti dirinya.


Malam tak pernah berlalu begitu mencekam di kediaman Hastings seperti yang mereka rasakan sekarang. Tak ada satupun pikiran yang begitu tenang berlindung di masing-masing kepala. Sementara John berulang kali menyibak gorden memastikan tak ada obor-obor yang datang dari arah desa, Abby begitu sibuk menenangkan Jasper yang terus merajuk dalam tangisnya. Koper-koper sudah dikemasi, mereka akan berangkat sebentar lagi, tidak saat purnama belum meninggalkan puncaknya dan membuat pelarian mereka begitu mudah tersingkap. Itu, atau perburuan penyihir yang dilakukan oleh para penduduk desa yang akan mengusir mereka terlebih dahulu—kabar cepat menyebar pada tanah yang damai dan gemar bercengkrama, dan mereka harus segera bergegas. Pergi entah ke mana.


Kemungkinan kedua yang dikhwatirkannya, menyusul yang pertama. Obor-obor yang menyala sudah terlihat di kejauhan mendahului riuh sorak-sorai penuh murka yang semakin jelas terdengar. Jasper menangis, John bergegas meraih koper-koper, Abby tak tenang menggendong balitanya yang meraung semakin kencang.


Kepanikan cepat meluap mengiringi tangisan Jasper, menyesaki setiap ruang pendengaran dan juga celah dalam kepala yang mestinya digunakan untuk berpikir. Tak ada yang sadar raungan bocah berusia empat tahun itu mengencang dan terus semakin kencang, hingga berdentam mewujud sebuah ledakan yang lain.


John—Jonathan Hastings—terbangun dengan telinga berdenging. Sebelah tangannya menumpu telinganya yang pekak begitu perih. Matanya mengerjap, beberapa kali, dan seiring pendengarannya kembali, penglihatannya yang sempat pudar pun menyusul sesaat berikutnya. Jasper dilihatnya berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya erat menutup kedua mata, tangisnya bersahut-sahutan dengan seruan di luar rumah. Api di mana-mana, menjalar dari pintu depan dan dengan cepat memeriahkan kekacauan dengan warna jingganya yang berkilat-kilat kejam. Abby tak ditemukannya di manapun, hanya rintihannya yang terdengar menyelingi desir debris yang berterbangan menghias tarian sang api dengan kabut kelabunya yang membuat perih mata.


"Jasper!"
"..." isak pangeran kecilnya tertahan, sebelah tangannya menunjuk sebuah titik, yang setelah jelas apa segera dihampirinya.
"John, bawa Jasper pergi!"
"Tapi ...," penolakannya terhenti, ia menghemat tenaganya untuk mengangkat palang yang menimpa tubuh istrinya.
"John, dengarkan aku! Bawa Jasper pergi! Sekarang!"
Ia tak menjawab, sibuk melepas mantelnya untuk membungkus tubuh Abby.
"Jasper, ajak ayahmu pergi, nak."
Jasper hanya membalas dengan gelengan lemah.
"Dengarkan ibu, nak. Ajak ayahmu pergi. John kau harus pergi sekarang juga, bawa Jasper, gunakan pintu gudang minuman. Mereka hanya mengepung rumah, mereka tidak tahu kau masih bisa keluar dari sana."


...


"Jasper ..., pergi, nak. Ajak ayahmu."
"Tidak mau," isaknya berjuang meredam jawabannya, "—mau ibu."
"Jasper, ibu akan selalu bersamamu, nak. Pergilah sekarang."
"Tidak mau! Mau bersama ibu! Pokoknya tidak mau!"
"Ibu akan tetap bersama Jasper, kok."
"Ibu bohong! Nanti siapa yang akan menjaga Jasper saat tidur?"
"Tidak bohong. Ibu akan selalu menjaga Jasper."
"Meskipun malam hari dan Jasper tak bisa melihat?"
"Meskipun malam hari dan Jasper terlelap, Ibu akan selalu menjaga Jasper."
"Janji?"
"Janji. Ibu akan meniru suara batuk ayahmu supaya Jasper tahu ibu selalu menjaga Jasper. John, pergilah sekarang, sebelum terlambat."


***


"... dan itulah, nak, mengapa meskipun jauh dari hutan, kadang kau mendengar suara burung hantu ber-uhu-uhu di tengah malam. Burung hantu itu sebenarnya Abigail Hastings yang tengah menjaga anaknya, jadi dia tak pernah tidur di malam hari," lembut seorang perempuan menjelaskan. Dengan kelembutan yang sama ditutupnya buku bergambar yang baru saja habis dibacakannya. Pelan dia mengangkat tubuhnya dari sandaran tempat tidur dan meletakkan buku tersebut bersisian dengan lampu tidur di atas kabinet. "Nah, sekarang waktunya kau tidur."


"Mom?"
"Kenapa, sayang? Kau ingin aku membiarkan lampunya tetap menyala?" dia berbalik mengedarkan senyum pada putra kandungnya semata wayang.
"Apakah nanti kau juga akan menjadi burung hantu saat aku tidur?"
"Hahaha. Tidak, sayang, hanya Abigail Hastings yang bisa berubah menjadi burung hantu untuk menjaga anak-anak yang sedang terlelap."
"Begitu, ya?" Bibirnya tertarik maju oleh kekecewaan, mengerucut cemberut.
"Tapi aku akan menjadi monster kalau kau tidak kunjung tidur. Nah, ayo tidur."


"Mom?"
"Hmm?"
"Apakah kau juga akan menjadi monster kalau aku memberimu kecupan selamat malam?" Takut-takut, sang bocah menyembunyikan sabagian wajahnya dengan selimut yang digenggamnya erat.
"Tentu tidak, sayang. Sini, biarkan monster ini mengecupmu selamat malam."
"Huuh."
"Selamat tidur, Jess."

"Selamat tidur, Momster."

{ 9 comments... read them below or Comment }

  1. Wih, keren gila. Jadi mikirin nasibnya Abby, mgkn jadinya dia dibakar ya.. Sedih ih. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abby... lagi sedih sama nasibnya Jasper katanya .__.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Baca ini aku ngerasa kayak baca novel terjemahan (ini pujian). Keren parah... Selain itu, deskripsinya pas dan lancar, diksinya kaya banget, metaforanya juga asik.Salah satu yg aku suka, "..ia membiarkan lantai kayu ruang makannya berdecit dicakari kaki-kaki kursinya."
    Tapi yg agak ganggu paling typonya ya cyiiiin....
    Keren, Jar. Sering-sering nulis disini ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Typo-nya udah diberesin =)) aku nulisnya pake tag html, jadi gak nyaman editing sebelum publish, baru bisa editing kalo udah publish... tante yeyen bacanya kecepetan, sih. Aturan bacanya sekarang pas udah bersih. Makasih tante :*

      Delete
    2. Jadi salah gueh? Salah temen2 gueh? *kibas rambut

      Delete
  4. cerpen Ajar kok keren sih... iya ih kayak novel terjemahan... XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Des, masih banyak kurang-kurangnya ini sebenarnya .__.

      Delete

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -