Posted by : Refa Annisa Mar 11, 2015

Wanita Bergaun Hitam
Oleh : Refa Annisa
Banyak orang percaya itu, tentang wanita bergaun hitam. Yang kehadirannya tak pernah luput pada pelaksanaan hukuman mati di seluruh Prancis. Yang iris gelapnya selalu menyaksikan pisau guillotine dijatuhkan algojo, membuat kepala terpidana menggelinding ke keranjang di depannya. Ia selalu ada.
Meski begitu, tidak setiap orang yang menyaksikan hukuman mati itu menyadari kehadiran wanita itu. Aura keberadaannya nyaris tak terasa bak awan hitam di langit malam. Belum lagi perangainya yang memang sangat tenang dan anggun, membuat hanya sedikit yang betul-betul menyadari kehadirannya, yang pernah benar-benar secara sadar melihat wanita berbalut gaun hitam lengkap dengan topi dan payung dalam warna senada, serta sebuket mawar merah setengah kuncup di tangannya. Bunga yang katanya berguna sebagai penghormatan terakhir pada terpidana mati.
Adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun, yang sungguh-sungguh bisa membuktikan keberadaan wanita itu memang benar. Ia berhasil menemukan wanita itu hampir di setiap penjalanan hukuman mati yang ia saksikan.
“Wahai, Madame, apa yang kaulakukan di tengah pelaksanaan hukuman mati ini?” Ia membuka pembicaraan di tengah riuhnya orang-orang yang akan menyaksikan penghukuman pada pembunuh berantai yang mencabut paksa nyawa satu keluarga atas nama balas dendam itu. Ini adalah percakapan pertamanya dengan wanita itu, yang mengawali percakapan-percakapan lain. Juga mengawali setelah sekian lama wanita itu menarik perhatiannya.
Wanita itu tersenyum, lalu menanggapi si Pemuda. “Monsieur, yang kulakukan di sini tidak berbeda dengan yang dilakukan orang lain di sini. Pun denganmu. Menjadi saksi penghukuman mati.” Ia lalu mengangkat buket mawar merahnya sedikit lebih tinggi. “Juga memberi penghormatan terakhir untuk mereka.”
“Apa memang sepenting itu, sampai hampir setiap diadakannya eksekusi kau selalu hadir? Kurasa kalau memang hanya sebagai saksi seperti yang lainnya, kau tidak perlu selalu hadir.” Pemuda itu menghunjamkan tatapannya pada si Wanita. “Kau pasti memiliki tujuan khusus,” tuduhnya, dengan tatapan yang tak menurun tingkat ketajamannya.
Namun, alih-alih menjadi gugup seperti rusa yang tersorot lampu mobil karena tuduhan itu, wanita itu justru tetap menjaga keanggunannya. Tersenyum tenang, kemudian menanggapi, “Aku tidak punya tujuan khusus. Sungguh.” 
Sejenak wanita itu mengalihkan pandang, untuk mencari tahu sudah sampai mana proses eksekusi berjalan. Dari situ ia berhasil mendapati bahwa kini terpidana baru diletakkan lehernya di bawah pisau guillotine tepat. “Lagi pula, jika pendapatmu aku selalu hadir dalam setiap penghukuman mati, itu salah. Aku hanya hadir saat yang salah memang salah, dan yang benar akan baik saja," katanya lagi tanpa menatap pemuda itu.
Mereka kemudian disibukkan dengan melihat prosesi terpisahnya kepala dengan tubuh itu. Menyaksikan sendiri bagaimana kepala itu menggelinding ke keranjang yang disediakan di depannya setelah algojo membiarkan mata pisau jatuh dari ketinggian sekitar dua puluh kaki. Pun tak luput dari pandangan darah yang mengucur deras.
Percakapan kali itu hanya menggantung sampai situ. Tidak ada kesimpulan. Pun dengan penutup lainnya. 
***
Eksekusi demi eksekusi terjadi. Terpidana demi terpidana kepalanya menggelinding ke keranjang itu. Pemuda itu pun hampir selalu menjadi menyaksikannya. Begitu pula dengan pertemuannya dan wanita bergaun hitam itu. Mereka bahkan selalu membicarakan sesuatu. Mulai dari yang paling ringan dan sederhana seperti perasaan keluarga si terpidana, hingga yang cukup berat dan terkadang menimbulkan perselisihan kecil di antara mereka yaitu kasus yang menjerat si terpidana.
Bagaimana akhir pembicaraan mereka saat pertama jumpa? Sama sekali tidak ada yang berniat menutup dengan kesimpulan atau jenis penutup yang pernah ada. Mereka membiarkannya menguap saja di udara, bagai air yang terlalu lama dipanaskan.
Namun tidak dengan eksekusi hari ini. Sudah belasan kali sepasang mata kelabunya itu menyisiri kerumunan, tapi sama sekali tidak ditemukannya sosok wanita itu. Seharusnya wanita itu mudah ditemukan, karena sebetulnya ia cukup mencolok bagi orang-orang yang sanggup merasakan kehadirannya.
Padahal ia sangat ingin membicarakan kasus ini, yang masih ia ragukan putusan sang hakim. Ia sama sekali tidak yakin bahwa perdana menteri yang kini kepalanya terancam terpenggal oleh guillotine benar-benar melakukan pengkhianatan pada negara. Bagaimana bisa perdana menteri yang ia tahu adalah perdana menteri paling jujur yang pernah menjabat selama ia hidup tiba-tiba diyakini mengkhianati negara? Yang benar saja.
Sepanjang persiapan eksekusi pemuda itu terus mencari. Hasilnya tetap saja nihil. Tak ditemuinya wanita itu. Ia akhirnya memutuskan untuk menyudahi pencariannya, terfokus memperhatikan prosesi yang sering dilihatnya itu. Prosesi mata pisau guillotine jatuh dengan sukses dan membuat badan itu tak berkepala lagi, membuat raga itu tidak lagi bertuan ruhnya.
Sesuatu yang aneh terjadi di sini. Mata pisau itu ternyata tidak mau turun memenggal kepala sang perdana menteri meski sudah dilakukan berbagai usaha untuk menjatuhkannya. Mulai dari tali yang menahan mata pisau itu terikat sangat keras sampai mata pisau yang macet tidak mau turun setelah talinya diputuskan dengan kapak. Orang-orang yang menyaksikan itu langsung berkasak-kusuk. Komentar-komentar dan berbagai macam dugaan menguar di udara.
Pemuda itu hanya bergeming di tempatnya. Kemudian dirasakannya aura kehadiran wanita bergaun hitam biasanya itu. Terdengar bisikkan yang sangat halus, dan suara yang ia kenal. Suara wanita bergaun hitam itu. 
“Sudah kukatakan, aku hanya datang ketika yang salah dianggap salah dan yang benar akan baik saja.” Wanita itu menarik napas, mengambil jeda. "Ini pun aku datang hanya untuk menyapamu, karena tidak ada yang perlu kusaksikan."
Sebelum sosoknya tenggelam di antara kerumunan, ia menyampaikan sebuah rahasia. Rahasia tentang dirinya. “Andai kamu tahu, aku sebenarnya penjemput arwah para terpidana. Yang jelas bersalah, bukan yang tertuduh. Dan aku tentu tidak akan tinggal diam ketika mendapati leher orang tidak bersalah berada di bawah mata pisau guillotine.”
_________
Diikutkan dalam tantangan #FiksiBunga yang diberikan oleh @KampusFiksi


{ 1 comments... read them below or add one }

  1. Temanya keren, bakal lebih keren lagi kalo ada eksplorasi emosi, soalnya meskipun cuma jadi penonton, menurutku hukuman mati tetap hal besar yang bisa banget sih digali sampai dalam. Terus ada beberapa kata yang bisa diperbaiki supaya lebih luwes, lebih dari itu, keren lah ini gak kepikiran bikin cerpen yang seperti ini. Keep up the good work!

    ReplyDelete

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -