Kami, Pengisi Kursi Kampus Fiksi 11
- Jogjakarta, 31 Januari - 1 Februari 2015
- Ajar Pamungkas
- Anis Stiyani
- Bening
- Deasy Serviana
- Dhanica Rhaina
- Gyta Ryandika
- Kaha Anwar
- Karasuhibari
- Lugina W. G.
- Muhammad Awaluddin
- Muhammad Rizky Ananda
- Nasrul Samad
- Ochakrn
- Pipit Dwie Putri
- Refa Annisa
- Ricky Douglas
- SetyoJoko
- Suci Wulansari
- Yenita Anggraini
- Zilian Zahra
- Posted by Refa Annisa
- 2 Comments
- Readmore . . .
- Add Comment
Yenita Anggraini
- Penulis mempunyai nama lengkap Yenita Anggraini, lahir di Bandar Lampung pada 13 Januari. Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di S1 FISIP Universitas Padjadjaran Bandung. Banyak menghabiskan waktu luangnya dengan membaca dan menulis. Menjadi kontributor di beberapa buku antologi yang diterbitkan oleh Diva Press (Dear, Suamiku; Dear God, Aku Ingin Dia; Dreams To Be A Hero ; Dahsyatnya Doa Ibu) dan Pustaka Jingga (All About Love). Beberapa cerpennya pernah dimuat di Tabloid Nova dan Majalah Bobo. Jika ingin berkenalan dengan penulis silahkan follow akun twitternya @anggi_aka_anjis, Gmail harusanggi@gmail.com. Tulisan-tulisan ringannya juga dapat dibaca di blog pribadinya : blacklazy.blogspot.com
- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Yenita Anggraini
- Readmore . . .
- Add Comment
Guest Book
KETIK SAJA DI KOLOM KOMENTAR!
Kami akan menanggapi setiap kritik dan saran yang masuk, selagi itu berguna bagi kemajuan blog ini. Dan jika kamu hanya sekadar ingin meninggalkan jejak di sini, itu bukanlah sebuah larangan. Ketik saja yang sudah kaupikirkan di kolom komentar.
Kritik dan saranmu berguna bagi kami.
- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Guest Book
- Readmore . . .
- Add Comment
Deasy Serviana
- Deasy Serviana, sesungguhnya lahir di Jakarta, 13 Desember tapi yang tertera pada akte kelahiran malah tanggal yang berbeda. Merupakan pecinta drama dan musik Korea akut. Saat ini sedang berusaha move on dari nulis cerita bertemakan Korea Selatan dan bercita–cita untuk menerbitkan novel pertamanya. Mengaku sedikit anti sosial, jutek, dan pendiam, tapi kalau lagi mood dan sudah nyaman dengan siapapun bawelnya bisa selangit. Yang ingin berkenalan lebih lanjut dengan penulis ini ajak saja mengobrol lewat twitter: @7pjh atau email: deasy.cassie@gmail.com. Bukan ‘awas anjing galak’ kok. ^^v
- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Deasy Serviana
- Readmore . . .
- Add Comment
Zilian Zahra
- Zilian Zahra merupakan nama pena dari Nailiz Zahroh. Perempuan yang lahir dan besar di Pekalongan, kota kecil di Provinsi Jawa Tengah, 28 tahun lalu. Terbiasa menulis dalam bentuk puisi. Kini mencoba menulis cerpen dengan sohih setelah mengikuti #KampusFiksi11 Diva Press di Yogyakarta.Jalan-jalan adalah hobinya, sekedar menghirup udara alam bebas dan menemukan inspirasi. Pernah belajar menulis bersama lewatfacebook di grup Rumpun Nektar dan sesekali mengikuti kegiatan di Lini Kreatif Writing. Secuil mimpi masih ada untuk bisa menulis buku sendiri.Tulisannya berserakan di http://zilianzahra.blogspot.com, beberapa masuk dalam antologi puisi 103 Penyair Pekalongan, Indonesia dalam Titik 13, Amerta dan Rendjana. Walaupun tertatih, masih ada semangat agar bisa menjadi penulis. Bisa dihubungi lewat facebook dengan nama Zilian Zahra Arjawani dan twitter @zilianzahra.Tulisannya yang ada di blog ini antara lain :
- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Zilian Zahra
- Readmore . . .
- Add Comment
Ochakrn
Ghina Kurnia Oksatianti. Gadis yang biasa dipanggil Ocha mulai terjebak dalam dunia tulis menulis dua tahun yang lalu. Gadis yang menempuh pendidikan di SMA N 1Pemalang ini sangat suka mendengarkan musik dan jalan-jalan. Dia bisa dihubungi lewat twitter @ochakrn, Facebook: Ghina Kurnia Oksatianti. Dan surel: ghina_ocha27@yahoo.com.- Posted by Refa Annisa
- 0 Comments
- Tag : Ochakrn
- Readmore . . .
- Add Comment
GARA-GARA RAYA
- GARA-GARA RAYABy Suci WulansariKak, jmpt di sklh, hujannya deras nih.SMS itu masuk di sela-sela materi Biostatistik yang sedang Panji ikuti. Dari Raya, anak SMA berusia 17 tahun, adik kesayangan sahabat baiknya.Haruskah Panji menuruti SMS itu? Izin dari mata kuliah Biostatistika yang super rumit hanya karena Raya tidak membawa payung ke sekolahnya? Terancam tertinggal materi untuk hal yang sepele?Panji menoleh ke jendela, hujan begitu lebat mengguyur kota Bogor, kilat sesekali memecah langit yang kelabu. Sial, Raya takut petir.Ia menarik nafas berat, lalu mengangkat tangan kanannya.“Pak, boleh saya izin keluar?”***Raya.Nama itu selalu membuat Panji bergidik setiap kali mendengarnya. Efeknya sama seperti saat ia mendengar Kuntilanak, Genderuwo dan sebangsanya. Bulu kuduk berdiri dan seketika ia tidak bisa berkata apa pun.Raya tidak menakutkan seperti hantu-hantu itu. Justru kebalikannya, Raya adalah tipikal anak SMA yang manja luar biasa. Perawakannya kecil, kulitnya putih, turunan mamanya yang asli Jepang.Tapi jika Raya marah atau sedih, maka semua hantu akan kalah menakutkan dibanding dirinya. Itulah yang Panji takutkan jika ia menolak permintaan Raya untuk menjemputnya di tengah hujan deras.Panji terpaksa berdiri di bawah payung pink pemberian Raya saat ulang tahunnya, sambil menunggu Raya keluar dari kelas.“KAK PANJI!” Raya melambai ceria di depan kelasnya. Panji cuma nyengir kikuk, memandang ragu pada teman-teman ABG Raya yang berbisik dan tersenyum penuh arti kepadanya. Raya berlari ke arahnya, berdiri di bawah payung bersama Panji.“Cieeeee…” Serempak teman-teman Raya meledek, Raya cuma tersenyum dan menarik Panji untuk berjalan menjauh, ke tempat mobil Panji di parkir.“Kamu ini, Kak Panji lagi kuliah tadi.” Panji mengacak rambut Raya, gemas. Ia menutup pintu mobil lebih kencang dari seharusnya.“Aduh, maaf, Kak. Raya nggak bawa payung. Kalau hujan-hujanan, Raya bisa sakit. Kalau Raya sakit, Kak Raga nanti sedih.”Raga. Lagi-lagi nama itu yang disebut Raya.Sudah dua tahun berlalu tapi Raga selalu membuat Panji tidak pernah bisa menolak permintaan Raya. Bayangan Raga selalu hadir, mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga Raya harus Panji laksanakan bertahun-tahun lagi.Panji memacu mobilnya, tidak cukup kencang karena Bogor cenderung lebih macet saat hari hujan. Di sebelahnya, Raya mulai bercerita tentang teman-temannya di sekolah. Seperti biasa, tanpa peduli Panji mendengarkan atau tidak.Panji cuma menjawab sekenanya karena pikirannya ada di tempat lain, di Rumah Sakit Dharmais, dua tahun lalu.Saat itu di luar juga hujan deras, mewakili perasaannya yang sama kelabunya dengan keadaan langit. Ia genggam tangan sahabat sedari kecilnya itu erat-erat, tangan yang dulu kokoh membantunya memenangkan lomba tarik tambang, kini hanya tulang berbalut kulit. Sosok Raga yang dulu tangguh, telah dikalahkan penyakit yang menggerogotinya.Dalam sakit dan nafasnya yang tersengal, cuma satu yang ia minta.Bukan untuk kesembuhan yang ia tahu takkan ia dapatkan.Raga cuma minta Panji menjaga Raya, adik semata wayangnya yang masih SMP.“Raya manja dan ceroboh. Dia butuh kakak untuk ngebimbing dan ngelindungin. Tapi gue nggak akan ada buat dia saat Raya butuh.” Setetes air mata mengalir ke pipi tirus Raga, membuat Panji tak kuasa menahan air matanya sendiri.Atas nama persahabatan Panji menyanggupi, berusaha menjaga Raya seperti adiknya sendiri. Menuruti permintaan-permintaan Raya sebisanya, meski kadang mengorbankan kepentingannya sendiri.“Kak Panji, kita udah sampai.” Raya menyadarkan Panji yang hampir terlewat mengantarnya ke rumah. Syukurlah hujan sudah berhenti. Ia jadi tidak perlu memayungi Raya dengan payung pink sampai ke pintu masuk.“Besok jemput jam setengah 7 ya, Raya mau ke GOR pagi-pagi, latihan voli.” Raya tersenyum sambil membenarkan posisi tasnya.Besok hari Minggu, tak ada jadwal kuliah dan tadinya Panji hanya akan bermalas-malasan sepanjang pagi. Tapi lagi-lagi Raya menggagalkan rencananya.Panji tidak menggeleng seperti yang otaknya perintahkan, ia justru mengangguk, membuat senyum Raya tambah lebar.“Daahh,” kata Raya ceria. Panji cuma bisa mengutuki kebodohannya dalam hati.***Bagaimana menjelaskan pada Raya bahwa Panji punya kehidupan sendiri? Panji tidak bisa mengantarnya terus ke sana ke mari saat ia harus kuliah, atau sedang pergi bersama teman-temannya. Ia bosan mendapat tatapan aneh dari teman-temannya karena sering pulang duluan dengan alasan yang sama: menjemput adik sahabatnya.Gara-gara Raya sakit, ia membatalkan rencana touring dan lebih memilih mengantarnya ke dokter.Gara-gara Raya camping di Bandung dan minta dikunjungi, Panji jadi bolos praktikum lapangan dan mendapat ceramah panjang dari dosen konservasinya.Dunianya terpusat pada Raya, Panji seolah tak punya ruang bernafas lega. Ia juga khawatir karena akhir-akhir ini Raya menaruh perhatian lebih padanya, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Berkali Panji tanyakan apakah ada seseorang yang Raya sukai, tapi sambil tertawa Raya menjawab kalau Panjilah yang selama ini ia taksir.Glek.“Aku benar-benar bisa gila.”Panji sudah punya Vira, mahasiswi Hukum yang sudah jadi incarannya sejak semester I. Bagaimana menjelaskannya pada Raya tanpa membuatnya sakit hati?***Say, jemput ke rumah yaTidak lama berselang.Kak, jmpt di tempat lesPanji menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyesali karena belum berbicara pada Raya tentang Vira, dan sekarang ia harus menjemput keduanya secara bersamaan. Panji ingin pura-pura sakit saja dan tiduran di kamar. Alih-alih dia malah tancap gas ke rumah Vira, menjemput gadis itu terlebih dahulu.Panji melihat Raya tersenyum saat memasuki area parkir tempat les, tapi lambaian tangan Raya menjadi lemah dan senyumnya memudar saat ia melihat Vira yang duduk di kursi depan.“Hai,” kata Vira ramah, “Raya, ya? Panji udah cerita banyak tentang kamu.”“Oya?” kata Raya pelan, duduk di kursi belakang. Ia buru-buru memasang headsetnya dan tidak berbicara sedikitpun selama perjalanan pulang. Sungguh di luar karakter aslinya.***“Aku suka Kak Panji,” kata suara itu, isak kecil terdengar, dan membuat Panji mendongak dari lamunannya. Kalimat itu sudah pernah Panji duga akan Raya sampaikan, tapi mendengarnya langsung tetap saja mengagetkan.“Raya-”“Raya yang bodoh, berharap Kak Panji bisa menganggap Raya lebih dari adik.”“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa Panji ucapkan. Bibirnya kelu, membayangkan Raga di kuburnya mungkin akan sangat kecewa karena Panji jadi penyebab air mata Raya.Hari itu hari terakhir Panji mengantarkan Raya pulang ke rumah. Dua hari setelah Raya bertemu Vira, dan menyadari bahwa cintanya tak berbalas.***Ada kelegaan saat Raya tak lagi memintanya ini itu. Tapi juga ada kerinduan mendengar suara Raya, mengacak rambutnya yang lurus dan berponi, meledek Raya hingga cemberut dan akhirnya tersenyum kembali saat dibelikan pasta.Panji akui, ada rasa hangat saat bersama Raya yang tidak bisa ia dapatkan saat bersama Vira.Setiap hari hujan, ia ingat permintaan Raya untuk menjemputnya dengan payung pink.Saat makan pasta, ia bayangkan Raya di depannya, menyantap lasagna dengan lahap dan masih dapat menghabiskan sepiring spagetti.Raya istimewa. Panji baru menyadari saat Raya tak lagi mengganggunya.Enam bulan berlalu, tanpa ada sedikitpun kabar tentang Raya. Pernah sekali ibu Raya meneleponnya, mengabarkan bahwa mereka akan pindah ke Jakarta. Penuh haru, wanita separuh baya itu berterima kasih karena Panji telah menjaga Raya selepas Raga pergi.Setelah sambungan telepon singkat, tidak ada lagi kabar apapun selama berbulan-bulan.Hingga suatu hari surat itu datang.***Kak Panji,Raya cuma mau bilang terima kasih untuk perhatiannya selama ini.Maaf kalau Raya tidak akan pernah jadi orang yang Kakak cintai.Setahun lalu, Raya tahu kalau Raya mengidap penyakit yang sama dengan Kak Raga… Raya terlalu takut untuk cerita… Raya takut Kakak justru pergi di saat-saat Raya butuh Kakak.Selama ini Raya terlalu egois, Raya harusnya tahu kalau Kak Panji juga ingin bahagia.Mungkin sekarang waktunya Raya ketemu Kak RagaJGara-gara surat Raya, Panji bergegas memacu mobilnya kencang, tidak sempat mengganti jas pertunangan yang masih melekat di tubuhnya.Panji berlari menyusuri koridor rumah sakit. Langkahnya bergaung, mengingatkannya pada peristiwa tiga tahun lalu.Déjà vuTapi kali ini yang ia jenguk adalah Raya.Ia masuk ke ruangan yang familiar dengan yang dulu Raga tempati. Atmosfer yang sama, keheningan yang serupa. Hanya suara mesin yang memastikan bahwa jantung Raya masih bekerja.Ia genggam tangan yang kini lemah itu. Tangan yang selalu ia pegang erat saat menyeberang jalan, tangan yang ia janjikan akan selalu dijaga.Tangan yang terpaksa harus Panji lepaskan saat ia bertemu Vira.Panji merasa bersalah pada sosok di depannya, ia tak bisa menjaganya sepenuh hati. Tidak bisa menghapus air matanya, justru malah menambah luka.Sekuat apapun Panji berusaha, ia tetap tidak bisa menolak kata hatinya. Ia tidak akan pernah dapat membalas cinta Raya.Bukan hanya karena ia menyukai Vira, bukan pula karena perbedaan umur mereka.Tapi fakta bahwa Raya juga lelaki, sama seperti dirinya.****Bogor, 18 November 2013
Suci Wulansari lahir di kota kecil Purbalingga. Hobi membaca novel petualangan dan misteri. Suci sekarang kuliah di Univ. Pakuan Bogor, jurusan Biologi. - Posted by Suci Wulansari
- 5 Comments
- Tag : Cerpen Suci Wulansari
- Readmore . . .
- Add Comment
ANTARA DINDING TEBAL BERBESI DAN ORAKEL
- Karya : Zilian Zahra

Ilustrasi foto di ambil dari internet Akan sangat indah apabila aku dapat menikmati dunia, dan akan sangat bahagia jika aku mendapatkan kasih sayang, seperti teman-temanku di Molino.Semua hanyalah mimpi untuk anak sepertiku, yang tidak pernah melihat senyum matahari dan bulan. Hanya ada dinding tebal dan besi yang mengelilinginya.Puting beliung akan datang, ia akan memporak-porandakan kampung Dalangan. Orang tua bertopi hitam datang sebagai isyarat. Aku menerima isyarat itu persis saat aku menjulurkan lidah panjangku pada sela pintu yang dikelilingi besi.Orakel, orang tua itu ku sebut. Aku tidak melihatnya datang melalui pintu. Lubang kecil tempat pengurus rumah meletakkan makanan-pun tidak. Dia hadir ketika mata ini terlelap, dan pergi setelah ia mengangkat topinya. - Posted by Zilian Zahra
- 7 Comments
- Tag : Cerpen Zilian Zahra
- Readmore . . .
- Add Comment
Satu BH dan Lelaki Keseribu di Ranjangku
Yang paling berat bagi Niken ialah masa depannya yang tak akan bisa diisinya dengan persuami-istrian. Sebab siapa mau jadi suami atau istrinya secara total. Kemudian masyarakat umum yang tak punya kesediaan untuk mengakui eksistensinya. Tetapi, serba sedikit, perlahan-lahan Niken berhasil mengatasi hal itu. (BH, hal. 190)
Niken, dalam cerpennya Emha Ainun Nadjib (selanjutnya disebut Emha), tidak jelas posisinya: pelacur atau sekadar perempuan yang haus lelaki. Namun, pembaca akan segera mengerti bahwa posisi Niken mirip dengan wanita perindu lelaki, bukan pelacur. Sebab, melihat latar belakangnya, Niken merupakan mantan hakim. Ia sarjana yang cukup cerdas. Tetapi, ia berhenti dari pekerjaannya karena “agak” bertentangan dengan nurani. Kemudian, ia di rumah saja, meneruskan usaha dagang orangtuanya.Agak aneh jika Niken itu pelacur, sebab pekerjaan itu umumnya, maaf, biasa dilatarbelakangi masalah ekonomi. Tetapi, Niken adalah perempuan berada, sehingga kenakalannya tak lain karena kesepian.Ya, kesepian di tengah hiruk pikuk material yang menggerogotinya. Gaya hidupnya tak ubah model manusia metropolis: haus pada hiburan. Cap perempuan nakal menyebabkan Niken terus bergelut dalam lubang yang dalam, gelap.Sedangkan, masyarakat hanya bisa mencibir dan asyik melihatnya: “Memang sepantasnya begitu akibat yang harus ditanggung perempuan nakal!”Namun, Emha tidak ikut-ikutan mindstream yang tengah berlangsung. Dengan cekatan, Emha menghadirkan tokoh “aku” sebagai teman diskusi Niken. “Aku” adalah selayaknya teman yang memandang dari semua dimensi kekurangan dan kelebihannya manusia. meski tokoh ia juga menanggung kesimpulan dari teman dan masyarakat bahwa ia pacar Niken. Selanjutnya, mereka tentu saja merendahkannya.Tokoh “aku” dicap layaknya gigolo yang menerima upah. Tetapi, yang dicari Niken tidak hanya berkutat masalah “ranjang”. Niken tidak bergaul sekadar demi seks. Tokoh “aku” bukan pacar Niken, meski Niken pernah mengungkapkan perasaannya. Tokoh “aku” berterus terang tentang perihal keadaaannya. Ia mengajak Niken bercinta sesuai tempatnya: “Kau mencinta itu dan bersedia menerima apa yang mampu kuberikan, sementara aku pun mencintai penderitaanmu.”Hal yang sulit dilakukan, tetapi selayaknya dilakukan jika cinta itu memang tulus diberikan kepada orang yang dicintai. Tokoh “aku” sendiri menerima Niken juga dalam batas yang ia mampu. Tokoh “aku” bisa mengawininya dengan pikiran-pikiran yang menguatkannya. Tetapi, untuk berjalan, nonton, atau kemana-mana bersamanya, terus terang memang masih ada cukup keberatan dalam perasan di benak “aku”. Hal yang lumrah, dan terjadi pada siapa pun.Inilah kejujuran seorang Emha; kejujuran memandang realitas pada diri manusia. Siapa yang siap lahir-batin menerima orang-orang yang dicap nakal oleh masyarakat? Saya kira jarang sekali.Tetapi, titik tekan yang hendak disampaikan Emha bukan masalah kawin itu sendiri, melainkan teman yang saling mengisi, teman yang mau diajak bertukar pikiran, menumpahkan unek-unek sebagai manusia yang hidup di tengah alam yang bergejolak. Sebab, orang akan menjauhi manusia nakal secara total, baik lahir dan batinnya, tanpa melihat sisi jiwanya yang kerap menangis.Ternyata benar, pelacur tak selamanya menikmati kepelacurannya. Bahkan, sang pelacur itu menjerit sedih dalam keremangan dunianya. Terlihat terhibur dengan berbagai macam laki-laki, namun apa arti hiburan bagi sang pelacur?“Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-dia dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin....” (BH, hal. 4)Kehidupan pelacur tak pernah untung, yang untung hanyalah germonya. “Germo bosku, lelaki yang paling beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya-raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahya yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau. Sungguh tragis! Bagaikan sapi perah yang tak pernah menikmati kelezatan susunya, “susu berbalas rumput teki!”.Lantas jika ditanya, kenapa memilih jalan kelam? Apakah melacur itu pilihan atau pelampiasan, balas dendam keadaan? Soal yang pelik. Di tulisannya ini, Emha menuliskan “Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiri dan lelaki yang mencampakkanku ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini, maka lelaki kedua hanya saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus....” Bahkan, yang mengenaskan: “…. Di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.”Membaca kumpulan cerpen “BH”-nya Emha bagaikan diajak menelusuri dunia yang tak asing bagi kita, tetapi seakan tersisih dan cepat-cepat kita menutup mata dengan jari yang terbuka: mau tapi malu. Emha mengajak pembaca memahami dimensi lain dengan sudut lain. dunia yang selalu dicap neraka, tetapi kita jarang mendengar teriakan manusianya.Bagi saya, buku ini, unik seunik penulisnya. Inilah “jalan sunyi” Emha dalam membaca realitas kehidupan yang dikemas dalam cerita pendek.***Judul : BHPenulis : Emha Ainun NadjibTebal : x + 246 halaman; 14 cm x 21 cmISBN : 979-709-168-6- Posted by Unknown
- 6 Comments
- Tag : Fiksi Kaha Anwar REVIEW BUKU
- Readmore . . .
- Add Comment
