Burung Hantu Berwajah Biru

    • The Owl - William James Webbe (1853-1878)

      Ita dan Ochi bertengkar di ruang belakang. Pasalnya, gambar kapal selam Ochi lebih mirip lumba-lumba daripada kapal.
      “Iiih, jelek banget! Masa warnanya kuning gonjreng gitu?? Hiiiii…. Itu lumba-lumba atau…pisang?! Ahahahaah…!” Ita terpingkal-pingkal, tak peduli pada Ochi yang manyun pura-pura sibuk mengecat badan kapal.
      “Biarin! Punya Kak Ita apa lagi! Itu sih mobil, bukan kapal selam! Kalo kelelep orangnya bisa basah semua!”
      “Eh, tapi, kapal selam aku tuh ada rodanya! Nanti kalau sampai dasar laut dia bisa disetir kayak mobil! Kapal selam kamu apa? Kayak pisang! Ahahahaha!”
      “Kak Ita nyebelin!” Ochi menyambar palet, melihat cat coklat yang masih banyak, lalu mencelupkan kuas. “Nih! Kalo mobil jangan di laut, di tanah aja!”

      Sret…sret…!

      Dicoretnya gambar Ita dengan cat coklat.
      “Ochiiiii…!” pekik Ita kesal.

      Krieet…. 

      Pintu ruang belakang terbuka. Ada Ibu melongok dari celah pintu.
      “Masya Allah, kenapa berantakan begini…,” ujarnya setengah mengernyit, ia melangkah masuk sambil berdecak. Entah kagum, entah heran.
      “Ibuuu… Ochi nyebelin, gambar Ita dirusak,” Ita langsung mengadu, suaranya dibuat amat memelas.
      Ibu tak peduli, malah melongok rak kuas dan cat. Lalu beralih pada lantai yang dipenuhi tabung-tabung berserakan. Dua palet dipenuhi cat bermacam warna. Kuas-kuas malang melintang di atasnya.
      “Kalian pakai cat akrilik Bapak?”
      “Ini kan buat lomba, Bu. Memang harus di kanvas, masa pakai cat air?” Ochi mengelak.
      “Lho, lomba melukis kan dikumpul minggu depan? Yang buat besok kan PR matematika?” selidik Ibu.
      Ochi cuma nyengir. Ita pura-pura sibuk memandangi lukisan-lukisan Bapak yang tergantung memenuhi dinding.
      “Ochi udah ngerjain PR kok, tinggal nomor satu, tiga, sama lima!”
      “Itu sih kamu baru ngerjain dua!” Ita menyambar.
      “Ya sudah, cepat beresin catnya, kuasnya cuci… lantai juga, tuh, belepotan. Habis itu belajar matematika, ya.”
      “Iyaaa…,” jawab Ochi malas-malasan. Ia menggeser duduknya, bersandar di dinding dekat lukisan.
      “Cepat, ya, beres-beresnya. Nanti jam empat ada tamu mau datang,” pungkas Ibu sambil keluar menutup pintu.

      ***

      “Pokoknya aku nggak mau beres-beres, lukisan aku rusak gara-gara kamu! Kamu aja beres-beres sendiri!” Ita merengut sambil melapisi goresan coklat di lautnya dengan warna biru dari tabung paling besar yang masih penuh.
      “Kan Kak Ita yang mulai,” ujar Ochi kesal. “Ayo, dong, Kak, beresin dulu. Nanti Bapak malu ruang lukisnya berantakan.”
      “Gak mau. Kamu aja sana, kan kamu ada PR.”
      “Nanti dimarahi Ibu!”
      “Kan salah kamu.”
      “Kak Ita nyebelin!” Ochi menarik kanvas Ita kuat-kuat.
      “Ochiii! Kamu ngeselin banget, sih! Nih, aku juga bisa…” Giliran Ita menyambar palet, kuasnya menggores sesuka hati di kapal pisang Ochi…
      “Kak Itaaa!”
      …di lengan dan pipi Ochi…
      “Aduuuuh! Nyebelin!” Ochi menghindar kalang kabut.
       …dan di lukisan burung hantu Bapak.
      Lalu, mereka diam.
      “Ini kan…”
      “…lukisan yang mau dijual hari ini.”

      ***

      Ita dan Ochi saling tatap, lantas melirik takut-takut pada lukisan. Berharap tak bertemu pandang dengan mata bulat burung hantu. Tapi, mata si burung ternyata terpejam, kelihatan bagai sungguhan. Pandai sekali Bapak melukisnya.
      “Gimana dong, Kak?”
      “Burung hantunya putih, Chi,” keluh Ita sambil meringis. “Sekarang jadi biru.”
      Ochi terdiam, mengamat-amati burung hantu yang belepotan. “Kakak coret burungnya sampai ke muka, hampir aja kena mata, hidungnya juga ketutup semua….” Ia mendelik pada Ita. “Mana sekarang hampir jam tiga, satu jam lagi tamunya datang lho, Kak.”
      “Kamu bisanya nyalahin orang aja! Lagian itu tuh bukan hidung, tapi paruh!” ujar Ita jengkel. “Udah deh, sekarang kita bagi tugas. Aku yang beres-beres, biar Ibu nggak marah. Kamu yang cari Bapak, minta maaf, siapa tahu lukisannya masih bisa dibenerin,” katanya sambil beranjak, memunguti tabung cat yang bertebaran.
      “Kok jadi aku yang minta maaf?” Ochi bengong.
      “Ih, bawel! Terus kamu maunya gimana?”
      “Kakak dong yang minta maaf!”
      Ita berpikir sejenak. “Hmm, atau…kita benerin aja lukisannya!”
      “Dicat ulang?” tanya Ochi ragu-ragu.
      “Iya! Kita cat ulang pakai warna putih! Beres kan?”
      Ochi sedikit berdebar-debar. Usul Ita terdengar menyenangkan. Tapi, memangnya mereka bisa? Kalau tambah rusak bagaimana?
      “Ayo, cepat!” desak Ita sambil mengambil kuas bersih.
      Ochi buru-buru mengambil cat akrilik dari tabung kecil, menuang ke palet, lalu menyodorkan pada Ita.
      “Tapi, Kak, wajah si burung ada garis-garis coklat sama abu-abunya, lho….” Ochi masih ragu-ragu melihat tangan Ita bersiap mengoleskan cat putih.
      “Itu ditambah nanti aja! Yang penting warna birunya ditutup dulu!” bantah Ita.
      Ochi manyun sendiri. Ia memegangi palet sambil merengut, matanya diam-diam memperhatikan kuas yang gemetar di tangan Ita.
      “Bentar, bentar!” seru Ochi tiba-tiba.
      “Apaan lagi?”
      “Kayaknya Ochi pernah lihat lukisan ini, tapi di mana, ya….”
      “Maksudnya, ada dua?”
      “Nggak sih, kayaknya bukan….” Dahi Ochi berkerut-kerut, berpikir keras. “Oooh…iya!”
      Ochi menaruh palet lalu berlari ke meja di sudut ruangan, ada printer bertengger di atasnya, dan ada tumpukan kertas-kertas di sebelahnya. Cepat-cepat ia teliti helai demi helai kertas itu, sampai matanya menemukan sesuatu.
      “Nah! Ini dia!” Dibawanya kertas itu pada Ita. Gambar burung hantu yang persis sama! Rupanya Bapak melukis burung dari foto itu.
      Ita jadi semangat. Ada gambar untuk diconteknya. Dengan yakin digoreskannya cat putih di atas cat biru. Lalu, mereka berdua terpaku. Saling pandang.
      “Kok…gini, Chi?” Ita mendadak pucat.
      Mereka terkejut melihat wajah burung yang meleleh berwarna biru. Kuasnya malah meratakan cat itu ke bagian lain.
      “Kok masih basah, Kak?” Ochi mengernyit, menyentuh cat biru dengan telunjuk. Warnanya menempel di ujung jari.
      “Cat biru yang Kak Ita ambil tadi…cat minyak?” Ia tengadah, menatap Ita.
      Ita menggeleng bingung, melirik tabung besar berisi cat biru, lalu meraihnya ragu-ragu. Tertulis di sana: cerulean blue, oil paint.
      Hati mereka berdua mencelos sampai ke lutut. Kalau saja cat biru ini akrilik, yang cepat kering dan bisa ditimpa ulang dengan cat lain, tak akan runyam urusannya. Ita dan Ochi tahu, cat minyak yang dipakai Bapak biasanya tak akan kering sampai berhari-hari. Dan sekarang cat biru basah itu tambah belepotan dengan akrilik putih yang tak tercampur sempurna. Wajah si burung lebam-lebam mirip hantu pocong di sinetron.
      Mereka terdiam, beradu pandang dengan alis tertekuk dan dahi berkerut. Cuma ada detak jam kecil di atas meja yang berbunyi. Tik...tik...tik.... Satu detik, dua detik, sepuluh detik…

      Krieeett….

      Mereka berdua terlonjak, menatap pintu yang perlahan terbuka. Hanya sedikit. Lalu daun pintu kembali menutup lagi. Mungkin angin?

      Krieeettt.…

      Mereka menahan napas. Celah pintu terbuka lagi, tak ada wajah Ibu yang biasa tersembul di sana. Siapa yang membuka pintu? Ruang tengah tampak gelap terlihat dari sini. Di luar mungkin sedang mendung.
      Ita duduk tegang memegang kuas. Ochi di sebelahnya mengelus lengan yang terasa meremang. Ada sesuatu yang bergeser halus di kulit lengannya, seperti ujung-ujung bulu seekor kucing yang menyentuhnya samar-samar.
      Ochi menepisnya sambil menoleh takut-takut, di sebelahnya, tampak sebentuk wajah kecil mirip topeng batman yang hitam separuh.
      “Si Oben!” seru Ochi sambil menghela nafas lega. Phiuh. Kucing Bapak yang berbulu hitam putih itu menggesek-gesekkan kepala ke lengan Ochi. Perutnya yang putih tampak menggembung, berarti dia sudah makan. Paling-paling ke sini mau tidur. Ochi membiarkannya meringkuk di atas keset.
      Lain halnya dengan Ita. Matanya membelalak, tangannya terulur, lalu menjinjing Oben dari tengkuknya
      “Meooong…” protes Oben.
      “Pegangin, Chi!” Ita menjejalkan Oben ke pangkuan Ochi, sementara ia mengambil palet, lalu menidurkan lukisan burung hantu di lantai.
      “Angkat tangannya, Chi!”
      Ochi mengangkat tangan kirinya yang tak mendekap Oben.
      “Tangan Oben, bukan tangan kamuuu!”
      “Oh. Mau diapain, Kak?” Dijulurkannya tangan Oben yang mulai meronta.
      Lalu, Ita mulai memoleskan cat biru pada telapak tangan Oben.
      “Kak Itaaa!” teriak Ochi sambil mengelak, membawa Oben menjauh. “Oben mau diapain?!”

      ***

      Bapak berdiri di pintu, tangan di pinggang, mata menatap pada ruangan yang sudah rapi dan wangi, senyumnya terkembang. Di ruang tengah sana, jam dinding berdentang lima kali.
      “Kok, masih pada di sini?” tanyanya sambil mendekati Ochi dan Ita yang duduk bersandar di dinding. Si Oben mendengkur pelan di pangkuan Ochi.
      Ochi tengadah pelan, mencari bibit kemarahan di wajah Bapak. Sepertinya aman.
      “Pak, kalau lukisannya nggak jadi dijual, gimana?” tanya Ochi takut-takut.
      “Lho, kenapa harus nggak jadi? Kan pembelinya sudah bayar,” Bapak berjongkok di sebelah Ochi, ikut mengelus Oben yang tertidur.
      Tangan Ochi terasa berkeringat, ia tambah cemas. Diliriknya Ita yang pura-pura menggambar di lantai dengan ujung jari. Ochi menyikutnya. Ita menghela napas, lalu pasang muka merengut sambil bergumam. Matanya tetap menunduk ke lantai.
      “Lukisannya…rusak…”
      Bapak menoleh pada Ita.
      “Itu…mm…Oben tadi—”
      “—bukan Oben!” tukas Ochi cepat. “Lukisannya kecoret waktu Ochi sama Kak Ita bertengkar! Ochi minta maaf!” Sekejap kemudian ia menunduk, membelai Oben. Ita mematung di sebelahnya.
      Bapak masih terdiam, ia bangkit dan berjalan ke arah lukisan yang kini bersandar dekat meja printer. Tak diduga, Bapak tertawa kecil.
       “Betul, bukan Oben?” tanyanya menyelidik.
      Ochi menggeleng kuat-kuat, ia menatap Oben yang tangannya biru sebelah. Lalu merasa malu sekali. Pipinya terasa panas.
      “Ita, bukan Oben yang merusak lukisan?” tanya Bapak lagi, dijawab dengan
      gelengan pelan dari Ita.
      “Syukurlah kalau begitu.” Bapak terdengar lega. “Kalau Oben yang merusak, susah mengajarinya untuk memperbaiki lukisan,” lanjutnya sedikit menahan tawa.
      Ochi agak lega melihat Bapak tak marah. “Tapi…tamunya gimana, Pak?” tanyanya masih cemas.
      “Ya, nggak gimana-gimana. Tamunya sudah pulang,” jawab bapak sambil menilik-nilik wajah si burung.
      “Nggak jadi beli?”
      “Jadi, lukisannya sudah dikirim dari kemarin, kok.”
      “Lho, bukan yang ini?”
      Bapak tertawa lagi, diambilnya sehelai kertas foto dari samping printer, “Bukan, yang dijual hari ini lukisan burung hantu yang lain,” katanya sambil menunjukkan si burung dalam foto yang berbeda, mata bulatnya melotot menatap mereka.
      Oh, ternyata.... Pfiuhh.... Ita dan Ochi menghembuskan nafas lega.
      “Yah… tapi, coba tadi kalian nggak buru-buru ngecat ulang pakai akrilik. Menghapus cat minyak masih basah itu kan mudah, tinggal dilap saja pakai kain lembab,” ujar Bapak santai sambil berlalu menuju pintu.
      Ita dan Ochi berpandangan, lalu meringis.
      Yaah, kenapa nggak kepikir dari tadi!
    • Posted by siska
    • 8 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Refa Ans

    • Refa Ans (kadang Refa Annisa), lahir di Pemalang pada 12 Mei 1999. Sekarang ia masih berstatus pelajar di SMA N 1 Pekalongan. Tidak ada yang tahu jelas bagaimana awal penyuka anime dan cerita ber-genre sci-fi itu bisa menulis sebuah kisah, karena tiba-tiba saja ketika ada pelajaran mengarang cerpen di kelas 4 SD ia bisa menuliskannya dengan cukup baik dibanding teman-teman yang lain. Selain di antara teman-temannya, ia juga bisa ditemui di akun Twitter: @refaans. Karyanya yang lain bisa dilihat di refaans.blogspot.com.

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :
      Wanita Bergaun Hitam - #FiksiBunga
      Deja vu dalam Hujan
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Muhammad Awaluddin

    • Awal Akar adalah seorang cerpenis kelahiran Kebumen, 12 Februari 1989, silam. Alumni Kampus Fiksi (regular; angkatan ke-11) yang diadakan oleh Penerbit Diva Press ini sering menjuarai lomba kepenulisan yang digelar oleh penerbit mayor atau pun indie. Penulis bernama asli Muhammad Awaludin, berdomisili di Desa Girirejo Barat Rt.05, Rw.10 Kelurahan Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. 54212. Penulis dapat dihubungi via nomor handphone: 089671913137, email: awal.akar@gmail.com atau facebook: http://www.facebook.com/awal.asky.

      Karyanya yang telah terpajang di blog ini antara lain :

    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

RINDU

    • Source from Internet

      Aku tulis sebuah surat padamu
      Aku bawa dalam badai semalam
      Aku sambangi rumah-rumah pengasuhan
      Pintu jati hiaju, rapat beku.

      Aku ketuk daun jendela seberang jalan
      Aku tanyakan lentera pembaringan
      Dan.... saat kusinggahi pelataran dedaunan willow,
      Ku temukan kau, telanjangi tumpukkan kertas bergambar kerinduan.

      Jogja, 23 Maret 2011/2013

      Dhanica Rhaina
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

SITI NURBAYA

    • “Dan pada sujud-sujud yang terkulai…
      Oleh aroma basah sajadah
      Dari butiran embun mata.”
      Duh… Nurbaya,
      Tangismu tengah mengintai malam
      Sedang   di pembaringanmu,
      Hasrat tradisi melumat bayangan.
      Tirai sutra yang kau kemul di klambu dada,
      Mengisyaratkan lelehan bara di sana.

      Ooh… Nurbaya,
      Gadis yang dipasung darma dan kasta!
      Kala bapa titahkan pingitan
      Padaragamu yang meronta,
      Tak gentar jiwamu merangga soleh cinta.

      “Kutukkan di mahkotakan pada tulan gpunggungmu...,
      Hingga sesenggukkan udara,  menyumbat tulang rusukmu.”

      Wahai… Nurbaya,
      Gadis yang dipasung kegelisahan….
      Bibirmu mencerca wajah di balik kaca,
      Sedang hatimu menikah dengan parabala.

      Duhai… Nurbaya,
      Gadis yang dikutuk pasung zaman!
      Kini kautanggalkan sutra dada
      Pada bibir lacut yang mencumbu karma.
      Kaubiarkan ia menjilati mahkota di tulang sumsummu,
      Hingga jeritan kalbu menderit,
      Memekakkan telinga para punggawa pembawa bala.

      Ooohhh…. Nurbaya,
      Gadis yang dipasung karma bapa!
      Kelacutanmu meracuni ulu hati kaum hawa.
      Dengan gincu merekah basah di atas sajadah,
      Kaukafani jiwamu
      Dengan seroja yang bangkit oleh kenangan.

      Duh…Nurbaya,
      Gadis yang dipasung kepurbaan!
      Jiwamu kini manunggal,
      Sedang tubuhmu diam dalam kesenang jiwa-jiwa yang lepas
      Menyatu pada dinding waktu
      Hingga musim tak kuasa merenggut keteguhanmu.

      “ Sebab, sepanjang tilas kaki yang kausisakan telah merenggukmu pada kepedihan, dan mengajarkan kehidupan!”

      September 2013/Maret 2014

      Dhanica Rhaina
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

PADA GERIMIS

    • Source from Internet (click image)

      Gerimis jatuh pada tanah basah,
      Seperti peluh bapak yang membajak sawah
      Ataukah, air mata ibu kala ia siarkan dalam doa-doa?
      Gerimis jatuh pada tanah basah,
      Membiarkan anak-anak yang berkecimpung menawarkan dahaga
      Seperti kumbang yang menghisap sari bunga.
      Dan, gerimis jatuh pada tanah basah
      Di sana….
      Di antara ibu dan bapak yang tengah berkeluh mencari upah.


      #Buatibubapaktercinta
      Sleman, 22 juli 2013

      Dhanica Rhaina
    • Posted by Refa Annisa
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Fatamorgana

    • Perihal senyum;
      kata lelawa, "Air mata terlampau ranum."

      Risalah tawa;
      konon kata-kata bual semata.

      Tentang fajar dan secarik senja;
      serupa padang-gersang beranak sabana.

      Apalagi cinta;
      almanak lama. Fatamorgana.

      Kau berkata tentang beberapa menjadi satu,
      kendati milikmu tetap milikmu.

      Kau berjanji satu demi bersama.
      Niscaya embun menjelma cakrawala


      Karya: Awal
      Kutoarjo, 1 Maret 2015
    • Posted by Jj
    • 2 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Semua Sudah Berubah.

    • Teganya dia memenjarakanku di sini. Di sebuah tempat gelap bersama dengan benda-benda berdebu yang tak berguna. Aku ditinggalkan dan dilupakan.  Seperti sebuah kertas yang sudah sobek.
      Sudah lama sekali aku terpenjara di dalam sini. Sampai-sampai aku tidak tahu sudah berapa lama tinggal di sini.
      ***
      Gadis berkepang dua itu memasukkan batu terakhir di genggamannya ke dalam salah satu lubang di tubuhku. Ia lantas melompat-lompat sembari berteriak kegirangan. “Yes! Aku menang lagi! Lihat! Batu yang kukumpulkan lebih banyak!” Telunjuk gadis itu menunjuk lubang yang isi batunya paling banyak. “Weee!” Gadis yang berumur tujuh tahun itu menjulurkan lidahnya.
      Seorang anak laki-laki yang menjadi lawan bicaranya memutar bola mata. Ia lantas mendaratkan sebuah pukulan ke tubuhku.
      “Aduh! Sakit! Hei, bisakah kau bersikap sopan sedikit? Dan, lihat! Batunya berhamburan semua!”
      Anak laki-laki yang biasa dipanggil Andre itu mengabaikan teriakanku. Pandangan matanya hanya terfokus pada gadis kecil yang sekarang sudah berhenti melompat-lompat.
      “Ayo, beli es krim!” tangan kecil milik gadis yang biasa dipanggil Arindra itu menarik tangan temannya itu.
      “Beli aja sendiri!” Anak kecil berbaju putih itu menarik tangannya dari genggaman Arindra. Sontak saja genggaman itu terlepas. Tenaga laki-laki, kan jauh lebih kuat dibanding perempuan.
      Gadis kecil itu memasang wajah kesal. Ia mengembungkan kedua pipinya. “Andre! Kamu harus nepatin janji! Yang kalah harus beliin es krim buat yang menang!” teriak Arindra.
      Kepalanya menggeleng, “Nggak mau! Kamu curang!” Andre tidak mau kalah, suaranya lebih keras dari lawan bicaranya.
      Ah, Aku sudah tidak heran. Mereka sudah biasa beradu mulut seperti ini. Hampir setiap hari. Tapi tenang saja, adu mulut mereka tidak akan bertahan lama. Sebentar lagi, salah satu dari mereka akan mengalah.
      “Andre, ayooo!” Arindra masih berusaha membujuk Andre untuk membelikan es krim untuknya. “Kemarin kan, kamu menang. Aku udah beliin es krim. Sekarang, gantian dong!” dengan sekuat tenaga, Arindra menarik Andre agar anak laki-laki itu berdiri.
      Anak laki-laki itu sama sekali tak bergeming. Ia masih duduk bersila di sebelah kananku. Sepertinya ia tak berniat untuk bangkit dan menuruti permintaan Arindra.
      “Andre!” Arindra berteriak. “Nanti aku laporin mama kamu, loh!”
      Mendengar kata-kata ancaman dari Arindra, Anak laki-laki itu akhirnya bangkit. Ia berjalan mengekori Arindra.
      ***

      Source from Internet
      “Sudah jam sebelas, Bunga. Sebentar lagi  Arindra dan Andre akan datang,” bisik jam beker ungu yang tepat berada di sampingku. Iya, jam beker berbisik padaku. Bunga. Arindra yang memberi nama ini. Tentu saja karena di tubuhku terlukis motif bunga yang ia gambar sendiri.
      Di sinilah aku sekarang. Di ujung meja belajar berwarna merah jambu. Bersama buku-buku sekolah milik Arindra, aku tinggal di sini.
      “Hei, apa itu?” Aku melihat sebuah kotak berwarna putih di sebelah jam beker. Ada banyak huruf di kotak itu. Ah, sayang aku tidak bisa membaca.
      Aku mendengar suara dua orang anak sedang tertawa. Itu pasti Arindra dan Andre. Sebentar lagi, mereka akan membawaku ke halaman belakang rumah Andre. Kemudian mereka akan meletakkan batu-batu ke dalam enam belas lubang yang ada di tubuhku. Mereka kemudian akan menghitung jumlah batu yang ada di kedua lubang paling besar. Dan yang jumlah batunya paling sedikit, akan membelikan es krim untuk pengumpul batu yang lebih banyak. Ah, aku sudah hafal sekali.
      Mereka sekarang sudah berada di bibir pintu. “Ayo kita main!” teriak gadis berkepang dua itu.
      “Ayo!” Anak laki-laki yang berdiri di sampingnya menyahuti.
      Sudah tidak sabar rasanya menantikan mereka memainkanku. Tidak sabar juga untuk mendengar mereka beradu mulut. Satu lagi! Tidak sabar untuk melihat salah satu dari mereka melompat-lompat karena mendapat es krim gratis.
      Kaki kecil yang berbalut celana merah itu melangkah mendekat. Pasti dia akan mengambilku. Hei, sepertinya Arindra sangat senang hari ini. Terlihat ada binar-binar kecil dalam matanya. Ada apa ya? Ah, sebentar lagi aku juga akan mengetahuinya.
      Tangan mungil Arindra mengambil tubuhku. EH? Tidak! Dia tidak mengambilku. Dia mengambil kotak putih itu. Mata coklat gadis itu bahkan sama sekali tidak melirikku.
      “Hei! Kau salah mengambil, Ar! Yang harusnya kau ambil itu aku, bukan kotak putih itu! Arindra!” Arindra mengacuhkan teriakkanku.
      “Asyik! Aku main duluan ya, Ar?” Andre merebut kotak putih itu dari tangan Arindra.
      “Andre! Andre! Itu punyaku!” teriak Arindra sembari berlari mengejar anak laki-laki berkaos hitam.
      Apa aku tidak bermimpi? Mereka bermain tanpa sebuah congklak. Ah, paling sebentar lagi mereka akan kembali dan bermain bersamaku lagi. Atau besok, mereka akan bermain denganku. Lihat saja.
      ***
      Ada sebuah cahaya masuk ke dalam ruangan ini. Aku mencari asal cahayanya. Dari pintu! Pintunya terbuka!
      Klik.
      Lampu dinyalakan. Aku melihat sesosok gadis berkepang dua. Arindra. Iya, dia Arindra. Ia sudah jauh lebih tinggi dari terakhir aku melihatnya.
      Gadis bermata lentik itu berjalan mendekat. HEI! Dia mengambilku! Dia akan memainkanku!
      ***
      Sudah hampir seminggu Arindra dan Andre tidak pernah bermain bersamaku lagi. Yang kutahu, mereka lebih suka bermain dengan dia. Sebuah benda kotak berwarna putih yang bisa mengeluarkan suara dan gambar. Benda itu dimainkan dengan cara ditekan layarnya. Benda yang disebut ponsel itu menggantikan peranku.
      Bahkan, sekarang Andre juga memiliki benda yang sama. Ponsel. Sebuah nama benda yang sudah mengambil alih tempat tinggalku. Kau mau tahu sekarang aku ada di mana? Di kolong tempat tidur! Arindra yang menendangku masuk ke kolong tempat tidur. Aku yakin, ia tidak sengaja melakukannya. Karena pada saat itu, matanya terfokus pada si kotak putih itu.
      Aku tak menyangka, isi dari sebuah kotak putih itu membawa sebuah kehidupan baru bagiku. Aku kehilangan semuanya. Kehilangan Arindra, Andre, tempat tinggal dan... sebuah  kebahagiaan.
      Seandainya aku bisa bergerak, aku akan membanting benda yang bernama ponsel itu. Tidak, tidak! Aku tidak hanya akan membanting. Akan kurusakkan benda itu. Akan aku pindahkan dia ke bawah tempat tidur. Agar dia bisa merasakkan apa yang aku rasakkan.
      ***
      “Sepertinya, kamu sudah tidak dibutuhkan lagi. Aku dan Andre sudah besar. Semua sudah berubah. Maaf ya, Bunga.” Arindra membuka tutup tempat sampah dan memasukkan tubuhku ke dalamnya.

      “Arindra! Arindra! Keluarkan aku dari sini! Arindra!” Teriakku sekencang-kencangnya.
    • Posted by Unknown
    • 2 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -