AKU INI APA




    • Aku ini apa
      Makhluk kecil dungu
      Lebih dungu dari kerbau

      Aku ini apa
      Bersama kumpulan wewangian mekar
      Namun aku di dasar, anyir

      Aku ini apa
      Tak mampu berjalan
      pun terbang
      Sengatan, lengkingan, ejekan
      Kerap menyergap

      Aku ini apa
      Sepi dan sunyi-pun enggan berkawan

      Biarlah
      Diri melepuh lebur lenyap
      Terbawa angin kalap
      Agar aku tahu
      Aku ini apa


      ---
      Panjang Wetan, 18 Maret 2015
    • Posted by Zilian Zahra
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

POLLING CERPEN BLOG #KF11

    • Tak terasa sudah memasuki minggu keenam sejak blog ini dibuat. Sudah enam minggu (lebih) pula sejak kami dipertemukan dalam sebuah acara yang membimbing dan memotivasi kami untuk terus menulis dan belajar lebih banyak, #KampusFiksi angkatan 11 di Yogyakarta.

      Alangkah banyak yang masih harus kami tingkatkan, memperbanyak membaca, berlatih teknik menulis, mempertajam kejelian menemukan ide, mengolah adegan dalam cerita, dan sebagainya. Namun, walau dengan semua kekurangan tersebut, kami mencoba menuangkan buah pikir dalam cerpen-cerpen yang tersaji di sini. Di minggu keenam ini, telah terkumpul sembilan cerpen yang tentu masih jauuuh dari sempurna--jauh sekali, mungkin. Namun, semoga berkenan untuk sekadar membaca atau memberikan masukan. :) 

      Sebagai apresiasi--dan mungkin juga sarana kami introspeksi--kami menyediakan Polling Cerpen di blog ini. Kami mempersilahkan pengunjung blog yang telah membaca untuk memilih satu atau lebih cerpen yang disukai di sini. Polling akan dimulai sejak hari ini, Selasa, 17 Maret 2015 sampai dengan Minggu, 22 Maret 2015, dan akan diadakan secara periodik per lima minggu. Adapun untuk melakukan polling, cukup meluncur ke widget polling yang terdapat di kolom kanan blog ini, kemudian meng-klik pada cerpen yang dimaksud. Boleh memilih satu atau lebih, boleh juga memberi komentar langsung pada cerpennya.

      Berikut ini sembilan cerpen yang bisa dipilih untuk periode pertama:

      1. Hanya Sekadar
      2. Temephos di Dua Kota
      3. ...dan itulah mengapa burung hantu tak tidur di malam hari.
      4. Burung Hantu Berwajah Biru
      5. Semua Sudah Berubah
      6. untuk Sebuah Rindu
      7. Mendaki Kenangan
      8. Gara-gara Raya
      9. Antara Dinding Tebal Berbesi dan Orakel

      Kami ucapkan terima kasih untuk semua pengunjung yang berpartisipasi dalam polling maupun memberi masukan. :)



      Salam hangat dari kami,

      Peserta #KF11
    • Posted by siska
    • 0 Comments
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Hanya Sekadar...

    • HANYA SEKADAR...

       Ditulis untuk arisan cerpen putaran ke-4. 
      Tema: Bubuk Abate

      “Tumbuhlah dengan baik anak-anakku,” ujarnya pelan. Ia tersenyum menatap penuh kasih pada genangan air di dalam wadah berbentuk silikon panjang di hadapannya.
      Tubuhnya yang semakin hari semakin melemah membuatnya khawatir. Apakah ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh dewasa?
      ***
      “Jadi kita harus ekstra hati-hati. Jangan sampai penyebaran virus ini semakin merajalela. Siapapun yang terkena dilarang, sekali lagi dilarang untuk berkeliaran!” Salah satu dari kerumunan itu berbicara dengan nada lantang. Ia berada di tengah-tengah kerumunan seakan dialah pemimpin mereka. Memang, jika dilihat dari reaksi yang lain, ia memang paling dihormati di sana.
      Kerumunan itu berdenging. Berbicara satu sama lain membahas apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini pada lingkungan hidup mereka.
      “Kabar buruk! Kabar buruk!” Sesosok berbelang putih hitam melayang melewati rintangan demi rintangan, memasuki ruang gelap di bawah kotak berbentuk persegi panjang.
      Teriakannya menggema seiring kemunculan di tempat itu dan menambah kekeruhan dalam situasi pagi itu.
      “Ada apa?”
      “Kabar buruk! Akan ada penyemprotan besok,” jawab pengacau pagi itu sambil terengah. Ia berusaha mengatur napas setelah sekuat tenaga mencapai tempat ini.
      “Ada apa tiba-tiba seperti ini?”
      “Jupri dan beberapa anak manusia di sekitar sini terkena virus itu. Para manusia itu mau melakukan pembasmian secara serempak.”
      Kerumunan itu semakin bising. Beberapa terdengar cemas, termasuk ia. Perlahan ia bergerak mundur meninggalkan kerumunan.
      Siapa yang terjangkit dan mengigit manusia-manusia itu?”  Obrolan itu masih berlanjut samar ketika ia beranjak pergi.
      Tiga jantungnya saat ini sudah berdebar sangat kencang. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Gerakan itu tidak boleh terjadi atau anak-anaknya akan berada dalam bahaya. Masih butuh tiga hari lagi untuk mereka bisa terbang bebas. Ayah mereka telah pergi. Apakah kini ia harus kehilangan mereka juga? Ia tidak bisa membiarkan mereka tewas begitu saja.
      ***
      Semua bermula dari saat itu. Satu kejadian yang merubah segalanya. Memporakporandakan kehidupan mereka. Semua karena satu hal. Tak ada yang bisa lolos dari peristiwa itu. Ia sangat membenci mengapa ia harus terlahir seperti ini. Ia membenci nasib yang membawanya. Kalau saja saat itu nenek buyutnya tidak mengigit manusia yang terjangkit virus itu, mungkin saat ini mereka semua, generasi ini tidak akan terancam.
      ***
      “Apa yang kita harus lakukan?”
      “Kita harus mencegah ini terjadi!”    
      “Benar! Anak-anakku sedang tumbuh. Satu hari lagi mereka akan jadi dewasa.”
      Kerumunan terus menyuarakan kekhawatiran mereka sore itu. Mereka tidak lagi bergantian menyuarakannya melainkan bertimpa dengan suara lain. Situasi tersebut sangat kacau. Membuat siapapun yang mendengar akan sakit kepala.
      “BERHENTI!!!” seru sang ketua. Ia sudah tak tahan lagi.
      Sekejap keheningan terjadi. Hanya suara dengingan sayap yang terdengar, namun itu hanya sejenak. Detik berikutnya keributan kembali terjadi.
      “Semua ini terjadi karena satu yang tidak menaati aturan kita. Mengapa kita semua yang harus kena dampaknya?!” seruan tidak bisa menerima ketidakadilan yang terjadi semakin keras.
      Tidak ada satupun yang bisa menerima nasib ini, namun tidak ada yang mengambil tindakan. Mereka hanyalah bisa bersuara keras ketika masalah terjadi. Hanya bisa protes tanpa tindakan nyata.
      “Bagaimana kalau kita adakan demonstrasi?”
      “Benar! Kita harus menyuarakan ketidakadilan ini.”
      “Seperti yang dilakukan manusia-manusia itu di dalam benda berbentuk kotak tipis itu?”
      Mendengar rencana-rencana yang tidak masuk akal itu tiba-tiba suara terkekeh serak terdengar.
      “Siapa di sana?” seru salah satu dari kerumunan itu.
      Suara langkah kaki cepat bersinggungan dengan serat-serat kayu terdengar pelan. “Kalian itu aneh. Memangnya manusia-manusia itu akan bisa dengar suara kalian?”
      Sesosok berkaki enam muncul dari dalam sisi yang lebih gelap.
      “Benar juga. Kita kan juga tidak bisa menulis, bagaimana bisa membuat coretan-coretan merah seperti manusia itu buat di atas kain putih panjang.”
      “Pak Laba-laba, kalau begitu anda punya saran apa?”
      Sosok itu terdiam lama.
      “Tidak ada,” jawab sosok tua itu. Gumaman penuh emosi sontak terdengar ketika jawaban itu diucapkan. “Terima nasib saja lah, toh kita ini cuma makhluk kecil yang nggak berarti dibanding makhluk-makhluk besar itu.”
      Ya, memang dibandingkan mereka yang seakan berkuasa atas dunia, kelompok kecil di bawah kolong benda besar ini hanyalah seonggok nyawa yang tak berarti. Sebutir debu yang mengancam kekuasaan mereka jika dibiarkan menumpuk begitu saja.
      Kerumunan itu larut dalam suara diam. Apakah mereka sungguh tidak berdaya menghadapi semua ini?
      ***
      “Kelompok pengintai sudah mulai berjatuhan!” Pasukan satu terbang cepat menghindari asap, melewati sisi-sisi yang tak terjamah oleh cahaya.
      “Pasukan gardu depan juga sudah terkena racun.”
      “Bagaimana dengan anak-anak?!”
      “Kelompok kelahiran sedang berusaha mengungsikan mereka!”
      Hari itu semua terasa sangat kacau dan memilukan. Jerit tangis terbaur dengan suara mesin yang terus menyemprotkan kabut putih yang mematikan. Semua berusaha menyelamatkan yang terkasih untuk mereka.
      Mereka tahu siklus hidup mereka tidak lama, namun apakah mereka sungguh tak pantas hidup? Mereka juga adalah korban dari virus itu. Bukan keinginan mereka terlahir seperti ini.

      ***
      Tidak... tidak... Jangan di sana! Ia terbang cepat ketika melihat sosok raksasa untuk mereka membawa bungkusan yang sangat mereka kenali sebagai pembunuh masa depan.
      “Aedes, kita sudah tidak bisa menyelamatkan yang lain lagi. Kamu jangan ke sana. Manusia itu akan membunuhmu juga!” Salah satu dari kelompok kelahiran menahannya untuk kembali ke tempat itu.
      “Aku harus kembali. Anak-anakku belum satupun terselamatkan.” Ia memberontak dari cengkraman saudaranya.
      “Kamu tidak boleh kembali ke sana. Ini perintah ketua. Situasi sudah gawat. Kita tidak bisa mengorbankan lebih banyak lagi yang jatuh.”
      “Mudah bagimu untuk bilang seperti itu! Bukan anak-anakmu yang masih di sana! Lepaskan aku! Kalau kamu tidak ingin membantu, biarkan aku sendiri! Aku yang akan menyelamatkan anak-anakku sendiri!” Dengan itu ia mendorong keras saudaranya.
      “AEDES!”
      Aedes terbang dengan manuver yang lihai untuk segera sampai di tempat itu, sebelum manusia itu membunuh anak-anaknya. Ia mencoba segala cara untuk menghentikan makhluk raksasa itu menaburkan butiran mematikan itu. Ia mencoba mengigit untuk menghentikannya, namun apa daya, virus ini melemahkan kemampuan proboscisnya untuk memberikan dampak pada kulit manusia itu.
      Pak Laba-laba memang benar. Mereka hanya sekadar makhluk kecil. Mereka tak akan bisa memberikan perlawanan yang berarti menghadapi raksasa penguasa dunia ini.
      “Apa sih ini nyamuk? Ngeselin banget.”
      Tamparan keras menghantamnya, mengakhiri siklus hidupnya. Ia melayang perlahan menuju tempat kematiannya.
      Setetes air mata yang sesungguhnya tak pernah ada, mengalir menuruni ratusan mata yang dimilikinya. Tuhan sungguh tidak adil, untuk apa ia menciptakan ratusan mata untuknya? Apakah hanya untuk menatap serpihan bubuk jahanam itu menghentikan hidup anak-anaknya.

      Dunia sungguh tidak adil! Hidup sungguh tidak adil untuk makhluk kecil seperti mereka.

      let's dream and make it real
      Tangerang, 15 Maret 2015

    • Posted by 梅
    • 7 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Temephos di Dua Kota

    • Temephos di Dua Kota

      Oleh Awal Akar

      Di Jakarta; ratusan balita, anak kecil, pemuda-pemudi, orang tua dan lansia, meringkuk lemas dalam kemah pengungsian. Gigil. Beberapa kritis. Beberapa telah lelap dalam kantung jenazah yang tertumpuk di rahim ambulance yang kini meraungkan sirinenya menuju pemakaman.
      Di Bekasi; beberapa puluh manusia menggigil kedinginan dengan suhu tubuh mencapai empat puluh derajat celcius, di atas ranjang apaknya. Beberapa puluh lainnya muntah darah, beberapa puluh lagi mengeluh sakit perut yang teramat.
      Seluruh rumah sakit penuh. Antrian ranjang bahkan telah mengular hingga ke pelataran rumah sakit di setiap sudut Jakarta dan Bekasi. Beberapa pasien yang kehadirannya terlambat, bahkan harus merelakan dirinya tergelepar di lantai rumah sakit, beralaskan tikar atau karpet seadanya.
      Belum ada kepastian yang bisa diberikan oleh siapa pun di negeri ini mengenai bencana itu. Para korban sudah pasrah dengan segala kenyataan yang akan terjadi; entah kesehatan yang sudi menjenguk, atau kematian yang akan datang membesuk. Di langit, matahari masih mengintip dari balik arakan kumulonimbus[1] yang belum henti meniriskan air mata.
      ***
      “Diperkirakan, intensitas hujan yang turun di sejumlah kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya masih akan sangat padat untuk bulan Januari hingga April 2015....” jelas berita yang tersiar dari sebuah tabung televisi yang bertengger di salah satu sudut warteg di kawasan ruko yang berjejer di sekujur jalan Taman Pluit Permai Barat, Jakarta Utara. Arakan awan gelap menggelayut berat di telangkai langit, di luar warteg.
      ***
      Di sekitaran Monas; seorang gadis kecil bergandengan tangan dengan orang tuanya. Mereka terhenti saat seorang wanita paruh baya berseragam cokelat kehijauan menjelaskan kegunaan bubuk abate; untuk membasmi jentik nyamuk aedes aegypti, yang ditakutkan akan terus meningkat dalam waktu dekat ini, karena intensitas hujan belum akan mengalami penyusutan. Angin berkesiau ungu, melenguhi telangkai rumput di sekitaran Monas. Langit masih disarati manekin awan gelap.
      “Ini apa, Pah?” tanya gadis kecil bermata sabit, berambut hitam panjang yang diikat kucir kuda itu seraya mengacungkan sebungkus abate.
      “Itu racun untuk membunuh jentik-jentik nyamuk, sayang,” sahut papahnya seraya menggendong gadis itu, lalu menciuminya.
      “Buang?” tanya gadis kecil berkulit putih yang lembar bibirnya masih semerah ceri itu di dalam dekapan papahnya. Usai melihat anggukan dari sang papah, si gadis kecil segera melemparkan sebungkus abate yang ada di genggamannya. Abate tergeletak di atas rumput hijau. Mereka sekeluarga lindap ke dalam kijang innova, lalu melesat menuju rumahnya.
      ***
      Di Bekasi; seorang pemuda sedang mengangguk-anggukkan kepala sembari menyandarkan punggungnya ke dinding, di sela dentum musik rock n roll yang begitu memengingkan cuping telinga, saat daun pintu kontrakannya diketuk oleh seorang pegawai dinas kesehatan setempat.
      Entah berapa puluh kali lelaki tua berpakaian bebas itu mengetuk pintu kontrakan sang pemuja rock n roll dengan sabarnya, namun tak kunjung terbuka. Hingga di ufuk kesabarannya, lelaki tua dengan telangkai wajah yang disemburati kerut-kisut itu pun sontak menggedor punggung pintu berwarna biru itu keras-keras. Hampir mendobrak.
      Tergeragap, pemuda berambut hitam kusam itu pun segera membukakan pintu kontrakannya dengan malas—setelah ia kecilkan volume suara musik dari speaker active berwarna perak, yang gagah berdiri di samping kanan dan kiri TV-nya.
      Beberapa saat lelaki tua itu menjelaskan sesuatu, diikuti dengan anggukan kepala pemuda berkulit gelap. Lelaki tua itu pun menyudahi penjelasannya sambil memberi dua bungkus abate kepada pemuda bermata jengkol yang berdiri di balik liang pintu kontrakan yang menganga. Lalu hinggap di pintu lain, di samping kontrakan pemuda yang telah menutup lagi liang pintunya. Bungkus abate diletakkan di atas lemari. Lalu cadasnya lecutan gitar Jimmy Hendrix mulai menggema lagi. Di langit, awan gelap kian menggumpal padat. Senja telah tiba, namun tak secuil pun ia menyuratkan warna jingga.
      ***
      “Pemerintah DKI Jakarta dan Kabupaten Bekasi sepakat untuk cepat-cepat mensosialisasikan cara pencegahan menyebarnya jentik nyamuk demam berdarah sembari membagikan gratis sejumlah bubuk abate kepada semua warganya. Diharap warga yang sudah mendapatkan bubuk abate tersebut segera melakukan anjuran-anjuran dari pihak dinas kesehatan setempat yang....” jelas berita yang menggema dari sebuah TV LCD yang menjenak di punggung dinding, di salah satu jengkal Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Utara. Orang-orang masih sibuk berlalu-lalang di sekitaran gerbong commuter line, lainnya sedang khusyuk menjejalkan pandang ke arah layar ponsel pintarnya; ada yang terduduk, ada yang dengan berdiri. Angin mendesau biru keunguan di sela lembutnya tirai hujan yang tak henti menitik. Gerimis riwis-riwis.
      ***
      “Hujannya tak berhenti juga ya, Pah? Kalau banjir, berbagai macam penyakit akan menyebar dengan mudahnya, bisa bahaya,” ujar seorang istri dengan memandangi kelamnya langit dari balik bingkai kaca bening di sebuah rumah mewah, di kawasan Pondok Indah, Jakarta.
      “Tenang saja, Mah. Daerah ini tak akan banjir,” jawab suaminya santai dari atas ranjang empuk nan harum sembari membolak-balikkan lembar majalah otomotif yang ada di genggamannya.
      “Bukan begitu, Pah. Maksud Mamah itu siklus penyebarannya. Nyamuk, kebersihan makanan, juga perihal lainnya.”
      “Kita kan sudah menggunakan obat anti nyamuk kelas wahid, Mah. Sudahlah, tenang saja.”
      “Iya, Pah.” Sang istri bergegas meregangkan lembaran tirai berwarna emas di dekatnya. Di luar, air kian berani menghunjamkan diri ke telangkai bumi.
      ***
      Seekor nyamuk hinggap di salah satu pasien yang saat ini sedang tertidur di atas ranjang, di salah satu puskesmas di Jakarta. Raut wajah pasien pria itu di kerumuni bintik-bintik merah, setelah tiga hari lalu pasien itu mengeluh pusing, lalu menggigil dengan suhu tubuh yang mencapai angka empat puluh derajat celcius. Belum kenyang menghisap darah, nyamuk berbintik putih itu segera mengepakkan sayapnya, meninggalkan pasien yang masih terlelap di pagi hari. Seorang suster masuk dengan membawa sebilah papan tipis berlampirkan lembaran kertas, lengkap dengan pulpennya.
      ***
      “Nyamuk!” seru seorang gadis kecil yang sedang asyik menyusun balokan lego membentuk sebuah istana seraya menepukkan tangan kanan ke lengan kirinya. Nyamuk selamat dari bebatan maut sang gadis kecil, ia mengawang tinggi, lalu lindap di juntaian tirai keemasan di salah satu rudut ruang keluarga, di hadapan jendela.
      “Clara, ayo kita mandi,” panggil mamahnya dengan melambai dari samping tangga menuju lantai dua. Sontak gadis kecil itu bangkit dan berlari ke arah mamahnya yang sudah membawa handuk, baju ganti dan bebek-bebekan karet berwarna kuning yang akan berbunyi jika dipencet.
      “Aku digigit nyamuk, Mah. Tapi nyamuknya lari,” ungkap gadis bermata sabit, berambut hitam panjang dengan lembar bibir serupa ceri itu seraya menunjukkan luka gigitan nyamuk yang tidak begitu kentara di telangkai kulit lengannya yang putih, kecuali setitik noktah merah.
      Sontak sang mamah teringat percakapannya semalam dengan sang suami, lalu beralih pada pesan dari mendiang ayahnya yang telah tiada, “Dulu, Indonesia pernah mengalami darurat demam berdarah. Penyakit itu meminta tumbal nyawa begitu banyak. Tak memilih keluarga miskin atau keluarga kaya, semua sama rata; mengalami kehilangan anggota keluarganya. Maka, saat musim penghujan tiba, biasakan dirimu untuk selalu waspada akan keadaan lingkungan sekitar. Gunakan abate semaksimal mungkin. Bersihkan area peristirahatan keluargamu dari genangan air, terlebih air yang jernih. Karena dari tempat itu, akan muncul malaikat-malaikat maut yang menjelma buas karena sikap acuh pemilik rumah. Ingatlah, Nak, sedia payung sebelum hujan itu sama pentingnya dengan memesan sehat sebelum sakit. Menaburkan serbuk abate ke bak mandi, membersihkan penampungan air, mengubur barang-barang bekas, dan kegiatan-kegiatan lain yang kau anggap sepele itu memang tidak lantas menjamin kesehatanmu berlangsung lebih lama, tapi sebelum demam berdarah melahirkan sesal yang tiada tara, lebih bijak jika kau melakukannya.” Di luar, di sudut belakang rumah mewah yang terselip di kawasan perumahan Pondok Indah itu, di dalam sekotak beton tempat pembuangan sampah, kaleng-kaleng bekas sudah terendam air hujan. Dari sana, seribu koloni aedes aegypti sedang menyiapkan diri untuk berpesta dalam waktu lama.
      ***
      Dua orang pemuda berseragam putih kusam dengan secarik nama pabrik yang tersablon di lembar dada, berjalan menuju kontrakannya masing-masing, sepulang mereka dari bekerja shif tiga. Satu di antara mereka, sedari malam sudah mengeluh kedinginan, nyeri sekujur badan, serta ngilu yang teramat di sekitar kelopak mata yang butir bolanya telah disemburati akar-akar merah saga. Matahari alpa. Telangkai langit masih kelabu dengan butir-butir air yang kian lesat menderu.
      “Aku tak kuat,” pekik pria berkulit gelap, berambut hitam kusam yang sangat mencintai musik rock n roll, seraya tubuhnya tumbang ke tanah yang terlalu basah untuk dijadikan ranjangnya.
      Sontak pria yang berjalan di sampingnya segera membantu pria itu bangkit. Lalu perlahan, mereka berdua menuju kontrakan pria berkulit gelap yang suhu tubuhnya kian panas itu.
      “Segera ganti baju, lalu istirahatlah,” suruh pemuda berkulit kuning gading yang sudah menuntaskan tugasnya; mengantar pria berkulit gelap ke kontrakannya.
      Seper berapa detik dari nyala lampu di dalam kamar itu, nyamuk-nyamuk meyeruak dari gantungan baju apak yang tergantung—menumpuk di belakang pintu dan punggung-punggung dinding, ada pula yang beterbangan di tumpukan selimut berbulu yang tergulung begitu saja di sudut kamar yang serupa peternakan nyamuk. Teramat banyak!
      Pria berkulit kuning gading yang sirat matanya sebentuk bulir padi yang belum berpisah dengan kulitnya itu hanya menggeleng seraya menghisap puntung rokok marlboronya.
      “Pantas saja kau sakit, kontrakanmu saja seperti peternakan nyamuk. Kau pasti tak menaburkan abate yang pernah dibagikan oleh dinas kesehatan ke dalam bak airmu ‘kan?” cerca pria bermata bulir padi itu lalu mengangakan daun pintu berwarna biru, di sampingnya.
      “Hmmmm....” sahut pria berkulit gelap yang telah merobohkan tubuhnya ke telangkai kasur busa bermerk inoac.
      ***
      Di penghujung bulan Januari, hujan kian beringas menjatuhi bumi. Tak pernah sehari pun dalam bulan muda di tahun 2015 itu selamat dari guyuran hujan. Setiap hari basah, setiap hari lembap. Matahari seolah memakan gaji buta dari kealpaannya di atas tanah pertiwi.
      Sekujur Jakarta rata dengan genangan banjir di sana-sini. Bekasi tak berbeda, hanya beberapa tempat yang selamat dari genangan air yang keruh, yang setiap kedatangannya selalu mencecerkan sampah di mana-mana.
      Pertengahan bulan Februari, demam berdarah naik daun lagi. Title pembunuh nomor satu kembali menyemat di pundaknya—demam berdarah.
      “Di camp pengungsian banjir di Pluit Utara, korban jiwa kian menggunung....”
      “Para pengungsi di Grogol sangat mengharapkan pasokan air bersih dan obat-obatan seperti oralit....”
      “Di seluruh Bekasi, korban banjir di camp pengungsian kian bertambah seiring....”
      “Pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo makin kewalahan melayani membludaknya pasien....”
      “Pihak Rumah Sakit Bhayangkara Polri yang dibuka untuk umum pun kini mengalami....”
      Setiap stasiun televisi menyiarkan dahsyatnya fenomena banjir; tentang penyakit demam berdarah yang merenggut nyawa ratusan warga, tentang kepedihan manusia di camp pengungsian, juga tentang ba-bi-bu yang begitu ba-bi-bu-ba-bi-bu lainnya.
      “Akhir yang menyedihkan tak pernah lepas dari awal yang menyepelekan, bukan?” ungkap Gubernur DKI Jakarta dengan menunjukkan empat buah karung berisi bubuk abate yang ditemukan oleh pihak dinas kebersihan di sekitaran Tugu Monumen Nasional. “Kita—pihak pemerintah daerah—sudah berupaya mensosialisasikan kegunaan bubuk-bubuk itu dengan ‘penyuluhan tatap muka’ dan membagikannya dengan gratis. Tapi apa mau dikata, mereka malah membuangnya begitu saja. Dan terbukti, DBD mulai menunjukkan lagi, tajinnya.”
      ***
      Di Jakarta; ratusan balita, anak kecil, pemuda-pemudi, orang tua dan lansia, meringkuk lemas dalam kemah pengungsian. Gigil. Beberapa kritis. Beberapa telah lelap dalam kantung jenazah yang tertumpuk di rahim ambulance yang kini meraungkan sirinenya menuju pemakaman.
      Di Bekasi; beberapa puluh manusia menggigil kedinginan dengan suhu tubuh mencapai empat puluh derajat celcius, di atas ranjang apaknya. Beberapa puluh lainnya muntah darah, beberapa puluh lagi mengeluh sakit perut yang teramat.
      Seluruh rumah sakit penuh. Antrian ranjang bahkan telah mengular hingga ke pelataran rumah sakit di setiap sudut Jakarta dan Bekasi. Beberapa pasien yang kehadirannya terlambat, bahkan harus merelakan dirinya tergelepar di lantai rumah sakit, beralaskan tikar atau karpet seadanya.
       Belum ada kepastian yang bisa diberikan oleh siapa pun di negeri ini mengenai bencana itu. Para korban sudah pasrah dengan segala kenyataan yang akan terjadi; entah kesehatan yang sudi menjenguk, atau kematian yang akan datang membesuk. Di langit, matahari masih mengintip dari balik arakan kumulonimbus[2] yang belum henti meniriskan air mata.
      “Keadaan kian tak terkendali. Kemana pemerintah saat ini? Saat jumlah korban jiwa kian menggunung, saat air mata kian menyamudera. Di Jakarta dan Bekasi, korban jiwa makin....” bacar seorang wartawati yang menyiarkan langsung dari salah satu tenda pengungsian di daerah Muara Baru, Jakarta Utara.
      Umpama hujan yang terus mengguyur sekujur tanah, maka dengan sendirinya batin menghujat langit yang terus murung. Ya, serupa itu. Dari merebaknya kasus kematian warga di ibu kota karena demam berdarah, maka pemerintah adalah sasaran utama pertanyaan dilayangkan, tanpa pernah menilik ke belakang; apa yang sudah dilakukan, dan apa yang telah diremehkan, bukan?
      “Ya, manusia memang seperti itu. Selalu mencari pihak yang dipersalahkan saat sesuatu yang buruk menimpanya. Dan sialnya, kini aku yang dipersalahkan,” batin seorang pria dengan terduduk di lantai, memegang erat kepala, di depan pintu UGD di Rumah Sakit Pertamina, bersebelahan dengan barisan pasien demam berdarah lain yang meringkuk gigil di atas lantai di sepanjang lorong yang berujung pada sebuah tangga menuju lantai satu, beralaskan karpet hijau dari donatur, seusai pria itu dihujat oleh istrinya yang kini tak henti menangis; karena putri semata wayang mereka telah tiada, terjangkit penyakit demam berdarah. Raut wajah gadis kecil berambut hitam panjang yang diikat kucir kuda dengan mata sabit dan senyum indah yang merekah dari lembar bibir semerah butir ceri itu pun sontak menyeruak, meremas sekujur hati pria yang sedang tertumbuk sesal tiada tara. Di luar, langit berkeredap gelap. Sriti-sriti bertaburan di angkasa berebut jengkal udara dengan lelawa yang berkejaran dengan kawanannya.
      Di Bekasi; seorang pria berkulit gelap dengan rambut hitam kusam sedang terbaring lemas, dengan selang infus yang menelusup di salah satu pergelangan tangannya. Pria itu belum sadarkan diri setelah dua hari ini dipindahkan ke dalam ruang yang di kening pintunya tertempel tulisan ‘UGD’.
      “Ini pelajaran bagi kita; bahwa tak ada suatu apa pun yang remeh jika menyangkut nyawa kita,” ungkap seorang pria paruh baya yang mengintip dari lembar kaca di sisi pintu ruangan yang tertutup rapat itu, kepada seorang pemuda berkulit kuning gading, yang beberapa hari ini menunggui pria yang terlelap di atas ranjang itu. Di sebuah lorong rumah sakit yang kini lantainya pun disesaki oleh pasien yang sakitnya serupa dengan sahabatnya.
      ***
      “Permisi Bapak-Ibu, saya dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, datang menemui Bapak-Ibu untuk melakukan penyuluhan singkat tentang penggunaan benda ini,” jelas seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam cokelat kehijauan di hadapan sepasang suami-istri dan seorang anak gadisnya, di sekitaran Monas, seraya mengacungkan sebungkus bubuk abate.  “Ini adalah bubuk abate. Berguna untuk membunuh jentik-jentik nyamuk dan berbagai macam insekta yang hidup di dalam air, yang mungkin larvanya telah berkembang di bak mandi, atau penampungan air lainnya di sekitar Anda. Diperkirakan, hujan masih akan terus mengguyur. Jadi kami mohon, lakukan pengecekan berkala ke penampungan air atau tempat-tempat yang dicurigai menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Yang kami takutkan, demam berdarah akan marak terjadi sepanjang musim penghujan ini. Jadi kami himbau kepada Bapak-Ibu untuk waspada dengan keadaan yang akan terjadi. Ini hanya contoh, kalau Bapak-Ibu merasa kurang, silakan Bapak-Ibu membeli lagi dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan Bapak-Ibu, di apotek-apotek terdekat. Satu gram bubuk abate ini bisa untuk menetralisir sepuluh liter air. Bubuk ini akan larut dengan cepat di air, dan air yang sudah ditaburi bubuk abate ini pun tak akan membahayakan jiwa jika air yang sudah ditaburi bubuk ini digunakan untuk kegiatan Anda sehari-hari. Cukup sekian penjelasan dari saya, semoga Anda sekeluarga selalu sehat, permisi.” Kumulonimbus berarak lambat di telangkai langit yang padat dengan taburan warna abu-abu.
      Kutoarjo, 10 Maret 2015



      [1] Salah satu jenis awan gelap yang membawa hujan.
      [2] Salah satu jenis awan gelap yang membawa hujan.
    • Posted by 梅
    • 6 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -