Kaca yang Berdebu

    • Kaca yang Berdebu
      Oleh : Anis Stiyani
      “Dia memuntahkan darah pada kemejaku, pagi tadi.”
      Sewajarnya, dalam keadaan seperti ini aku akan melihat banyak guratan ekspresi dalam wajahmu. Tapi, selama itu adalah kau, ekspresi adalah satu-satunya barang langka yang akan kutemukan, bagaikan mencari stomata daun dengan menggunakan mata telanjang, mustahil terlihat.
      “Aku bahkan tidak sadar, dia benar-benar begitu bodoh. Aku masih melihat senyum konyolnya tadi pagi,” setengah melantur, kau mengaduk kopi pertamamu hari ini. Kopi yang seharusnya disiapkan oleh dia-mu, seseorang yang selalu kau ceritakan padaku tanpa kenal lelah.
      “Kau tahu? Banyak hal yang sudah ditakdirkan terjadi, dan beginilah takdirku.”
      Benarkah? Kau tidak ingin menangis?
      Satu hal yang selalu kusuka darimu adalah, kau akan mengelus punggungku naik-turun, secara teratur, membuatku nyaman berada dalam dekapanmu. Kugeliatkan badan, menyusupkan tubuh lebih dalam pada dekapanmu, yang selalu terasa hangat. Oke, anggap aku genit. Tapi, siapa yang akan peduli?
      Kurasakan tangan-tangan panjangmu menangkup wajahku. “Kau mau susu? Aku yakin kau pasti mau, ayo!”

      ***
      “Syailendra... Syailendra... bangun,” suara lembut terdengar sayup-sayup di telingaku. Aku terlalu malas untuk bangun. Menggeliatkan tubuh, kutepuk-tepuk wajahmu. Bangun...
      “Andra... Syailendra, tidak mau melihatnya untuk terakhir kali?” kudengar bisik halus itu lagi, tapi kau masih betah dengan posisimu, tak terganggu sedikitpun.
      “Hei, bangun...” kali ini, wanita yang biasa kau panggil ibu itu, menepuk bahumu sedikit keras. Sementara aku berjalan anggun menuju kursi malas milikmu, tempat favorit kita  menghabiskan coklat panas saat malam-malam.
      Duduk tegak, dalam penglihatanku, kau seperti bocah umur dua tahun yang terjebak dalam tubuh laki-laki dewasa duapuluh tujuh setengah tahun. Kau menggeliat di atas kasurmu. Berguling ke kanan, berguling ke kiri, lalu membuka mata.
      “Ibu, di sini? Ada apa?” kau bertanya dengan raut bingung, seolah-olah kau baru sadar kalau rasa air laut benar-benar asin.
      “Kita ke rumah Sasti sekarang, ya?” kau mengangguk tanpa memberikan komentar lebih, beranjak masuk kamar mandi.
      “Dia akan baik-baik saja, ‘kan, Mell? Sasti perlu melepaskan rasa sakitnya. Iya, ‘kan?”
      Ibumu mengelus puncak kepalaku sebelum beranjak pergi. Mungkin Ibu juga butuh menenangkan diri. Kehilangan menantu yang baru beberapa menit didapatnya, tepat di depan mata. Bahkan saat doa-doa untuk pernikahan kalian masih basah, menyatu bersama udara.
      Setelah hening mengisi penuh setiap sudut-sudut kamar ini, Kau keluar dari kamar mandi. Dengan rambut basah, kulit lembab dan... aku melewatkan satu bagian basah yang tak kau sadari keberadaannya, matamu. Mata basah, memerah.
      “Hei, kita lanjutkan acara tidur kita setelah ini, oke? Aku akan segera kembali,” kau berujar begitu santai sambil lalu. Menyambar kemeja hitam yang tepat berada di sebelah kemeja putih, bekas kau pakai saat akad nikah tadi pagi.
      Hitam dan putih yang begitu kontras. Persis seperti keadaan dirimu yang begitu ironis hari ini. Aku tahu, bahkan disetiap belaianmu pada puncak kepalaku hari ini, kau menyimpan seribu getir yang sedang coba tekan dalam-dalam. Sekarang, senja menjelang. Ini hari yang cukup berat untukmu, ‘kan?
      ***
      Aku sedang berguling di sofa, menikmati iklan-iklan yang berkelebat lewat—terlalu cepat untuk mata pemalasku—di Televisi. Tiba-tiba saja, kau datang, ikut bergabung bersamaku, dengan secangkir penuh minuman yang memperlihatkan asap yang meliuk dalam aliran laminer, seperti konsep fluida pada umumnya. Dari baunya yang harum dan menyengat, aku yakin itu kopi, atau setidaknya, begitu Ibu mengatakan jenis minuman itu setiap pagi saat memberikan kepada ayahmu.
      “Harusnya akan ada istri yang memanjakanmu saat malam tiba begini.” Ibumu yang sejak tadi berkutat dengan sinetron tiba-tiba saja menggersah sendu.
      “Sasti perlu tempat untuk pulang. Tempat dimana dia tidak perlu merasakan sakit lagi. Ibu tau itu, ‘kan?” ujarmu terlampau tenang.
      Seingatku, terakhir kali kita bertemu, lingkaran hitam di bawah matamu belum setebal ini. Rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di sekitaran wajahmu juga belum terlihat kacau. Seingatku, terakhir kali kita bertemu, kau berada dalam tampilan pengantin laki-laki paling bahagia sepanjang masa.
      “Berapa lama kau tidak tidur? Wajahmu kacau sekali...”
      Kau terlihat berpikir, mungkin saja kau sedang menghitung kapan terakhir kali kau pergi tidur? Atau mungkin kau sedang mengingat-ingat kapan terakhir kali kau pergi ke kamar mandi? Bau tubuhmu sudah serupa dengan kopi dan asap rokok. Dengan kemeja kusut dan lengan terlipat asal sampai batas siku, dirimu layak mendapatkan predikit laki-laki paling mengenaskan sepanjang masa yang bersanding dengan kisah tragis di hari pernikahannya.
      “Aku cepat lelah belakangan ini. Sebagian besar waktuku habis di atas tempat tidur. Jadi, aku perlu kopi. Pekerjaanku tidak akan selesai dengan sendirinya, Bu...”
      Aku meringis mendengar jawabanmu. Ibu bertanya apa, kau menjawab apa?
      “Sepertinya, kopi ini pun akan sia-sia,”
      “Tidurlah, jika itu membuatmu merasa lebih baik,” Ibu mengalah, merasa sia-sia jika harus berbicara dengan dirimu yang memperlihatkan sisi datar dan baik-baik saja.
      Apa benar, kau baik-baik saja?
      “Ayo tidur, Mell!”
      ***
      Kadang aku berpikir, bagaimana manusia bisa diciptakan dengan wajah datar tanpa ekspresi sepertimu? Kadang, aku bertanya, apakah Tuhan lupa menempatkan beberapa syaraf di daerah-daerah tertentu, yang dapat menarik sudut-sudut wajahmu, menghasilkan ekspresi. Lalu aku mulai sadar. Mungkin, harus ada satu dari seribu orang di dunia ini yang sejenis dengan dirimu, dengan begitu anomali akan selalu tampak mencolok dan menonjol untuk sekedar dilewatkan.
      “Dia terlalu bodoh, memilih waktu yang tidak tepat. Kau lihat, tuksedo yang sudah dia pesan enam bulan lalu jadi sampah seperti ini? dia benar-benar pengacau yang ulung!” Kau masih sibuk hilir-mudik di dalam kamar. Masih melirik ke arahku sesekali, lalu hilang di balik pintu kamar mandi.
      Yah, wanita tersayangmu memang selalu jadi pengacau yang ulung. Mengacaukan rencanamu, mengacaukan hatimu, lalu mengacaukan hidupmu sebagai penyempurnanya. Hari ini, tepat empat puluh hari setelah pernikahanmu berlangsung. Hari ini, tepat pula empat puluh hari istrimu yang baru saja kau ikat dengan hatimu, terikat oleh benang kematian.
       “Andra... kau dimana?” suara mendayu seorang wanita terdengar dari balik pintu kamarmu. Sementara suara gaduh dari balik kamar mandi menandakan kau sedang tidak baik-baik saja.
      “Ouch!!!” suara erangan tertahan serta bunyi pintu kamar mandi yang di banting kasar membuatku menggeliatkan badan malas. Ini sudah biasa terjadi.
      “Aku akan memakai baju dulu, Arana. Tunggu sebentar,” teriakmu di balik pintu lemari. Menekuri kuku jariku yang mulai memanjang terasa lebih menyenangkan daripada melihat kulit punggung pucatmu, yang bersaing ketat dengan warna pucat bulan malam ini.
      Sedikit menyanyi sepertinya dapat melepaskan penatku. Baru saja aku mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan suara, pintu kamarmu menjeblak paksa dan muncul sosok perempuan yang belakangan akrab terlihat beredar disekitarmu. Mungkin dia berpikir, dirinya adalah satelit yang akan selalu menjaga keseimbangan dengan berada di sekitarmu. Harusnya dia sadar, kau dan dia tak lebih dari ekor komet dengan matahari.
      “Hai, Melly... apa kabar?” ujarnya ramah, terdengar seperti dipaksakan. Kuabaikan dia dan lebih memilih memandangmu yang sedang menuju ke arah sofa tempatku duduk malas.
      “Kau tampaknya sedang sibuk, ya?”
      “Hanya sedang memilah barang-barang,” ujarmu cuek sambil menyapukan pandangan pada kotak karton berisi kenanganmu bersama Sasti.
      “Kemajuan yang bagus,” timpal wanita di hadapanmu, matanya ikut-ikutan menyapu seisi ruanganmu. Berhenti padaku sejenak, lantas fokus padamu lagi sepenuhnya.
      Biar kuberitahu, sepertinya dia menaruh hati padamu.
       “Dari sekian banyak keinginanku di dunia, ada satu yang tak akan pernah terwujud, seberapa keraspun aku mencoba mewujudkannya.” Kau memulai sesi berceritamu dengan wanita ini. Atau yang ibumu bilang padaku saat kau pergi ke kantor kemarin, ini terapi untuk kesembuhanmu.
      “Melly, kau tahu Aleksitimia? Aku sangat sedih,  Andra mengidapnya,” cerita ibumu beberapa hari yang lalu. Mata senjanya muram, basah, berurai air kepedihan. Ibumu pikir kau sakit? Kurasa kau hanya perlu jujur pada hatimu sendiri, bukan perkara sakit.
      “Mau kopi? Kebetulan aku belum minum kopi hari ini,” ujarmu lantas menggiring wanita yang masih tersenyum lebar padamu itu keluar kamar. Yah, kamar ini hanya milik kita berdua, dan akan selalu seperti itu.
      “Kau yakin tidak mau ikut ke dapur, Mell?” nada datar yang biasa kudengar itu menjajikan sejuta kenikmatan. Tentu saja aku mau ikut! Dengan malas-malasan aku mengikuti di belakangmu.
      ***
       “Aku tak perlu menentukan bagaimana aku harus memilih di antara dua pilihan. Pilihan hanya akan membuat kepala pusing.”
      Kau mengaduk-aduk cangkir kopimu sebentar. Satu... dua... tiga... sepuluh. Setiap harinya akan selalu sama, sepuluh kali. Dengan dua sendok kecil gula, setengah sendok krim, dan tiga sendok penuh bubuk kopi hitam. Perpaduan yang cukup mengerikan untuk ukuran sebuah cangkir kopi yang dapat habis dalam sekali tegukan. Tanganmu menyusuri pinggiran cangkir putih yang masih mengepulkan asap.
      “Kau tidak harus selalu memilih saat sudah tau apa yang ingin dilakukan. Termasuk membebaskan perasaanmu, atau berpura-pura tegar.”
      Gerakan tanganmu yang sibuk memutar-mutar pingggiran cangkir berhenti begitu saja, disusul deru napas yang keras, senada frustasi.
      “Kadang manusia hanya terlalu terbawa perasaan. Setiap yang bernapas pasti akan mati, begitu juga Sasti. Apa lantas aku harus meprotes kepada Tuhan agar tidak mengambil dia secepat itu?” napas pendek-pendekmu memberitahukanku satu hal, kau marah dan tidak terima. tapi kau masih setia mengelak.
      Kau meneguk kopimu lagi yang masih sangat panas. Dalam keadaan normal, seharusnya itu akan membuat lidahmu melepuh. Tapi kau tetap diam, seakan-akan kau meminum kopi pada suhu normal. “Dia sudah terlalu lama menderita.”
      “Pekerjaanmu jadi berantakan akhir-akhir ini, pun kehidupan sosialmu. Menurutmu, kenapa?” Perempuan yang duduk di depanmu ini seperti mengabaikan keluhanmu, dan balik bertanya dengan nada menantang.
      “Aku hanya kurang enak badan. Aku butuh tidur lebih banyak...”
      “Kau bilang pada ibumu kau menghabiskan banyak waktumu untuk tidur. Lalu, berapa banyak waktu lagi yang kau butuhkan untuk tidur?”
      “Mungkin selamanya,” ujarmu acuh. Bahumu mengendik, tapi aku tahu, tidak dengan hatimu. Jauh di dalam hatimu, pun kau ingin memberontak dari semua jalan yang dipilihkan takdir untukmu.
      Lama setelahnya terasa sunyi, senyap. Jam di dinding dapur terasa bergerak lambat, lebih lambat dari pada gerakan siput yang tak menemukan makanan selama seminggu. Kau dan wanita yang sedang menekuri isi cangkirnya itu terdiam, sementara gemuruh guntur di langit malam menjadi musik pengiring kalian.
      “Dia memuntahkan darahnya, tepat di depan mataku,” ujarmu tiba-tiba. Tatapanmu menerawang, melayang jauh dari tubuhmu. “Dia masih bisa tersenyum saat itu...” kulihat setitik air mata yang menggantung di pelupuk matamu, meluruh secara tegas. Lama-lama titik-titik itu menjadi banyak, membentuk badai yang meluluh lantahkan pertahananmu.
      “Lalu kenapa sekarang kau menangis?” pancing wanita yang masih setia memperhatikan semua perubahan ekspresimu.
      “Entahlah. Dia bilang, aku akan baik-baik saja...”
      “Kau tahu, hati manusia itu, ibarat kaca yang berdebu. Jika terlalu keras membersihkannya, ia akan retak dan akhirnya pecah. Pun, jika terlalu lembut membersihkannya, ia akan berakhir pada keruh dan noda.”
      “Jadi... apa maksudmu?” Kau mengerutkan kening, hingga dua alis tebalmu saling bertaut satu sama lain.
      “Berhentilah menggunakan logika, pakai hatimu sesekali, agar kau lebih manusiawi...”
      “Dan kau dapat menjamin aku akan lebih bahagia?”
      “Kebahagiaan itu letaknya di hati. Kau sendiri yang dapat menentukan, apakah kau ingin bahagia atau berpura-pura untuk bahagia,”
      Aku berjalan mendekat ke arahmu setelah menghabiskan minuman bagianku. Beranjak naik kepangkuanmu, yang kau sambut dengan hangat. Kupandang lekat mata legammu. Mata serupa malam, pekat, tak lagi memunculkan binar di sana.
      “Meongg....” Kutelusupkan kepala di sela-sela tubuh sebelum melingkarkan ekor cantikku yang baru saja dikeramasi tadi pagi di salon. Berharap, dengan adanya diriku benar-benar akan membuatmu baik-baik saja.
      Kau pasti baik-baik saja.
      END
    • Posted by Refa Annisa
    • 2 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

AMORETTE (Rahasia Cinta Kecil di Ujung Stasiun)


    •      Arisan Cerpen KF11
          Tema : Udumbara

      Sebuah kamar, Januari 2014

      Anehnya...
      aku mencintaimu seperti aku memang ditakdirkan untuk itu.

      Semuanya telah usai. Masa yang kupendam terlalu lama. Ragu yang kusembunyikan terlalu dalam, namun ternyata dangkal. Aku pernah melihat cukup lama pada satu titik kabur yang membingungkan. Dengan meneguhkan hati ––atau berpura-pura meneguhkan hati–– lagi-lagi aku bermuslihat dengan titik itu, makin jalang, dan akhirnya mendustai aturan yang mereka anggap nilai tertinggi di dunia ini. Anggap saja, aku sedang bermain-main dengan surga dan neraka.

      Duduk. Sedikit tersenyum. Atau mungkin lebih tepatnya meringis. Sudah satu jam aku menikmati wajahku sendiri yang terkurung dalam cermin. Putih. Hidung mancung. Bibir mungil, merah merona. Dagu runcing. Dan, lesung pipit. Benar-benar cantik, kan? Yah! Aku cantik! Kalian harus mengakui kalau aku adalah mahluk yang cantik!

      Berjalan ke sudut kamar lalu mengambil baju tak berlengan yang terpasang di manekin. Setelah itu, aku kembali menuju cermin besar di kamar dengan gaya bak seorang model yang sedang catwalk. Namun, aku sedikit kecewa saat menyadari kalau dadaku tak cukup besar untuk membuat air  liur laki-laki tumpah ruah. 

      ***
      Stasiun Tawang, Semarang, Maret 2015. 

      Aku tidak ingat kapan benar-benar memulainya, setahuku, tempat ini telah berhasil menyita waktu soreku setiap hari. Aku ulangi, setiap hari! 

      Namaku Lazzuardi, entahlah apa yang terlintas di benak orangtuaku hingga memberi nama yang berarti langit tersebut. Mungkin, mereka menginginkan anaknya ini menjadi seluas langit, secerah kumpulan awan putih yang menghiasinya, atau mungkin... hanya menjadi Lazzuardi berisikan awan hitam. Mendung. Percuma, seberapa pun keras memikirkannya, semua itu hanya menjadi praduga yang terus menguap hingga batas entah.

      “Seperti biasa, kau selalu datang jauh lebih dulu daripada aku. Dan, seperti biasa pula hari ini pun parfum yang kau pakai sangat menusuk hidung. Baunya wangi. Oh iya, kelihatannya Dochi sangat mengerti bagaimana cara membimbingmu, Retina,” sapaku, membuang keheningannya sore hari ini saat ia duduk termenung pada kursi panjang di bawah pohon besar, di ujung stasiun.

      Bola mata Retina secara acak dan abstrak mengarah padaku, walaupun tidak benar-benar tertumbuk pada kornea mata coklatku ini. Kemudian, aku duduk di samping gadis berbusana putih dengan rambut panjang sepinggangnya itu, lalu menggosokkan punggung tanganku ke bulu-bulu halus Dochi, anjing peliharan Retina yang saat ini ada di pangkuannya. 

      “Jangan terlalu memanjakan Dochi dengan membawakan ia makanan setiap hari. Nanti dia gendut loh, bagaimana kalau Dochi jadi malas bergerak? Terus siapa yang membimbingku jalan menuju stasiun ini kalau bukan dia? Kamu kan selalu terlambat, Zuar?” cecar Retina tanpa memberi jeda buatku menyekat omongannya. Gigi putih dan lesung pipi itu selalu menjadi favoritku ketika melihat wajahnya, selain mata.

      “Dia kelihatan lapar, Na,” ucapku sambil terus memberi Dochi makanan.

      Aku masih saja terus menyuapkan snack buat Dochi dan membiarkan ucapan gadis berbandana itu menguap begitu saja seiring dengan sudut bibir atasnya yang dibuat lebih maju dan tipis. Bahkan, kali ini aku berhasil berpura-pura untuk tidak segera mencubit pipinya yang sengaja ia gelembungkan ketika tidak setuju dengan perkataan atau perbuatanku, walaupun hanya bertahan tiga detik.

      “Berhentilah mencubit pipiku, Zuar! Andai saja aku bisa melihat tangan jahilmu itu, pasti akan kubalas perbuatannya,” tukas Retina, kemudian memalingkan wajah dariku. 

      Mataku melonggar dari tatapan yang sebelumnya seakan ingin menerkam dan memasukkan rona lucu di pipinya ke dalam mulutku. Retina, nama itu cukup singkat untuk seorang gadis yang aku yakin jika menceritakannya dalam sebuah buku pun tidak akan cukup. Seperti yang kalian duga, ia buta. Sama seperti pengeliatannya, sampai sekarang pun aku buta tentang gadis yang selalu duduk pada kursi besi berwarna perak dengan ukiran bunga-bunga kecil di setiap sudutnya itu. Aku dekat dengan Retina, sangat dekat! Tapi, aku belum menyentuh di tempat yang tepat. Dan entah sejak kapan... aku mulai mencintainya!

      Sandaran kursi yang cukup menampung tiga orang itu kali ini menjadi sasaran tangan dan kepalaku untuk bersandar, sekadar menyempitkan rasa lelah. Mataku beralih memandangi langit jingga yang tertutupi daun pohon. Sebagian sinar redup itu berhasil lolos dari celah dedaunan dan menyentuh sisi wajahku. Beberapakali terdengar bunyi laju kereta yang meninggalkan stasiun. 

       “Pohonnya semakin besar, ya?” gumamku berceloteh tak jelas, “jadi, hari ini kamu mau menceritakan apa lagi tentang lelaki yang selalu kamu tunggu itu, Retina? Aku penasaran dengan ending-nya, hehe,” tukasku sambil menaik-turunkan alis yang justru lebih pantas disebut ulat bulu. Hitam. Pekat.

      “Jangan tanya ending-nya! Aku benci jika memikirkan akhir, Zuar. Dan, jangan coba-coba kau tanya lagi tentang mawar yang selalu ada di sampingku! Sisi yang tidak boleh kamu duduki dari kursi ini,” tukasnya cepat.

      ***
      Stasiun Tawang, Semarang, Januari 2013. 

      Sengaja aku kembali melewati jalan ini hanya untuk melihat keadaan gadis itu lagi. Hah, aku menghela napas berat ketika melihatnya, ada sayatan kecil di hati yang tanpa sadar telah membesar dan kian membuatku sakit saat berpapasan dengannya.

      Kalian bisa memanggilku dengan sebutan Raka Rahardika. Saat ini mobil yang kupacu memasuki kawasan kota lama dan akhirnya melintasi sepanjang jalan Tawang. Gemuruh bunyi kereta yang meredam akibat batu kerikil di sepanjang rel masih saja tertangkap gendang telinga dari dalam mobil jazz silver kepunyaanku . Kini  hujan turun dengan gegap gempita, membasahi payung gadis itu lalu akhirnya ikut mengguyur rambut spike dan tubuh kurusku saat mulai turun dari mobil. Matahari kian surut, tetapi gadis itu masih berselimut dalam keheningan payung hitam, berdiri di ujung halaman stasiun dengan pandangan mata tak berwarna miliknya. 

      “Aku menyerah. Setelah sebulan sudah memperhatikanmu berkerudung duka, kini giliranku yang memastikan bahwa duniamu masih sebenderang neon, bukan lentera!” ujarku yang membuat ia terlihat mulai beralih dari dunia imajiner-nya.

      Bahu gadis berbandana itu kecil, sama sepertiku. Rasanya sangat pas jika ia mendekam dalam pelukan dadaku. Aku berdiri mematung di sampingnya, dengan tatapan yang bahkan ia tak akan pernah tahu kalau titik-titik airmata sudah mulai jatuh lalu membasahi pipi berlesung dan akhirnya bermuara di bibir tipisku, karena ia memang tak bisa melihat! Hujan masih sama. Rintik kecil namun cukup deras. Lalu lalang kendaraan semakin sepi, kerumunan manusia pun hampir tak terlihat lagi. 

      “Kau siapa? Jangan terlalu keras memegang bahuku! Rasanya sedikit sakit,” ujar gadis dengan ujung rambut hitam lurusnya yang sudah menyentuh pinggang itu. Aku mengendorkan genggaman, kepalanya tertunduk. Sepertinya lekat sekali ia fungsikan telinga untuk mendengar suara anehku ini. 

      “Ehem...,” aku menggosok leher serampangan. “Namaku Raka,” ucapku sekenanya, sambil menjulurkaan tangan kanan.

      Hening. Ia tak membalas ucapan perkenalan dariku. Sedari tadi angin nakal sekali menerbangkan ujung-ujung rambutnya. Aku tahu persis, ketika jarum jam sudah merapat ke angka empat sore, ia mulai memaku kakinya di ujung stasiun hingga pukul sembilam malam. Maklum, sudah satu bulan ini aku mengamatinya tanpa pernah berani untuk memulai percakapan. 

      “Hey, gadis payung, aku membawakan sesuatu untukmu, tunggu ya! Jangan ke mana-mana!”
      Tanpa menunggu balasannya, aku berlari menuju parkiran mobil lalu mengambil beberapa benda yang sudah kusimpan di bagasi, “semoga dia suka,” ucapku ketika sudah mendapatkan benda-benda tersebut di geanggaman. 

      Tak memakan banyak waktu untuk kembali berdiri di dekat gadis yang saat ini kembali merenung. Nampaknya ia bersikeras mengabaikanku!

      “Nih buat kamu,” tegurku saat berdiri di sampingnya, “Oh iya, kamu kan...,” perkataanku menggantung, karena menyadari hampir saja berkata tidak sopan pada gadis itu. 

      “Buta. Iya, kan? Aku tidak bisa melihat apa yang kamu bawa sekarang, bisa dijelaskan?” ujarnya sambil memiringkan kepala ke arahku. Poninya ikut bergerak pelan.

      Sengaja aku mengalihkan pandangan mengitari lahan stasiun untuk menghilangkan rasa kikuk. Beberapa orang berkerumun mengantri tiket, dan yang lainnya duduk tak beraturan di beberapa sudut. Sementara di ujung stasiun ini, hanya ada aku, gadis itu, kursi kecil, dan sebatang  pohon. Lahan ini sepertinya dibiarkan kosong begitu saja, jarang sekali orang berlalu-lalang. Tempatnya sedikit tertutup.

       Kini, mataku kembali tertancap padanya. Dengan sedikit kikuk, aku pun mulai memberitahu padanya tentang benda-benda yang kubawa. Lengan kiriku bergerak maju dan akhirnya mendaratkan sebuah kursi ke tanah tempat gadis itu berpijak.

      “Aku bawa kursi buat kamu, biar lebih nyaman saat menunggu seseorang yang entah bagaimana sudah berhasil membuatku benci padanya.” Kursi itu sekarang tepat berada di belakangnya. “Kamu duduk di sini ya! Besok aku bawakan kursi yang lebih besar. Tenang saja, aku sudah izin sama pihak stasiun kok, hehe.” Aku memegang bahunya dan terpaksa membimbing dia duduk untuk melenyapkan keragu-raguannya.

      Aneh, tubuh gadis itu sedikit gemetar saat mendapat sentuhan dariku. Mata kosongnya terlihat semakin dalam seakan memikirkan sesuatu. 

      “Nih, kamu pegang! Kalau yang satu ini sedang tidur, soalnya dia masih kecil sih. Kamu jaga ya biar dia bisa jadi mata keduamu, hehe.” Aku memegang lembut tangan gadis itu dan menyerahkan kado kedua yang sedang kupegang padanya. 

      “Ha? Ini apa? Kok berbulu gini? ” tanyanya sedikit kaget saat memegang pemberianku yang kini ada di pangkuannya.  

      “Itu anak anjing. Terserah kamu mau namainnya siapa, hahaha.” Aku tertawa keras saat melihat mulut gadis itu terbuka lebar, berbentuk bulat. 

      Aku membuka kantong plastik besar di hadapanku. “Nah, hadiah satunya lagi adalah pohon. Sepertinya payung yang selalu kamu pakai itu tidak cukup rindang sebagai tempat berteduh. Jadi, kalau pohonnya udah besar kan bisa jadi tempat berlindung. Sebentar, aku tanam dulu ya bibit pohon ini, kamu duduk aja sambil jagain anak anjingnya.” Dengan cekatan, aku beralih ke tanah kosong di belakang gadis itu, dan menanam bibit pohon yang telah kubawa. Rambut spike milikku benar-benar telah hancur akibat derasnya rintik hujan. 

      “Namaku Retina. Dan... bagaimana kalau anjing kecil ini kuberi nama Dochi?” ujar gadis itu angkat bicara ketika aku sedang sibuk menggali tanah. Ia pun dengan sukarela menggeser posisi payungnya hingga meneduhiku dari guyuran hujan.  

      Retina dan Dochi. Lucu juga.

      “Nama yang bagus. Udah tahu namaku, kan? Aku Raka Rahardika. Yap. Bibit pohonnya udah selesai aku tanam nih. Cepet besar ya pohon.” Aku mencium sepucuk daun pohon itu, lalu mataku beralih ke anjing kecil yang tengah terlelap di pangkuan Retina, “Kamu juga cepat besar ya, Dochi.”  Kami berdua pun mulai menebar tawa satu sama lain. Benar-benar Indah.

      ***
      Rs. Kariadi Semarang, Mei 2013  

      Gaun yang kukenakan berwarna putih. Bersih. Mengkilap. Bagian atasnya hanya berhasil menyentuh pucuk dada dan berlabuh di lipatan lengan, itu semua membuat leher jenjangku kedinginan karena tak berselimut serat-serat yang entah bagaimana selalu menghantarkan ornamen bunga mawar di permukaannya. Malam kembali membimbing gelap menuju pembaringanku. Yah, hanya ada aku. Gaun putih. Sebuah bandana. Dan, setangkai mawar!

      Sebenarnya, aku pun tidak mau tergolek di pembaringan ini dengan rupa absurd. Beberapa menit lagi! Ya! Aku yakin beberapa menit lagi alat persegi itu menunjukkan garis lurus dan mengeluarkan bunyi menakutkan. Apa dia masih dengan bodohnya menungguku di sana? Di ujung stasiun itu?

      ***
      Stasiun Tawang, Semarang, Maret 2013. 

      “Kamu sudah datang ya, Raka? Kenapa tidak duduk?” Retina menepuk pelan sisi kiri kursi bermotif bunga-bunga kecil yang sekarang ia duduki. Sementara Dochi masih sibuk dengan makanan di bawah kursi yang sengaja gadis itu bawa.   

      “Sudah dua bulan lebih kita kenal,” tuturku sembari duduk di sisi kirinya, lalu melanjutkan bicara, “tapi, kenapa kamu selalu tahu kalau aku sudah datang? Padahal aku kan tidak bersuara sama sekali dari tadi?” tanyaku heran, sambil menggaruk tengkuk leher.

      “Aku memang tidak bisa melihat, Ka. Tapi, indera penciumanku masih bisa merasakan bau mawar yang selalu kamu bawa itu. Oh iya, satu lagi, parfum kamu terlalu menyengat, makanya aku bisa tahu kamu sudah datang atau belum,” ucap Retina dengan memamerkan gigi gingsul miliknya.  

      “Parfumku kebanyakan, ya?” jawabku kecut, sambil mengendus-endus tubuhku sendiri. “Oh iya, hampir lupa, nih bunga mawar buat kamu hari ini.” Aku meletakkan mawar itu di pangkuan Retina.

      Entahlah, aku pun masih bingung kenapa setiap hari membawakan gadis itu setangkai mawar merah. Mungkin, karena memang aku yang mengagumi keindahan bunga, atau... mencari benda yang bisa melambangkan perasaanku?! 

      “Raka, stock mawar di kamarku sudah banyak berkat kamu. Bagaimana kalau kamu memberiku bunga yang lain saja?” pinta Retina, walaupun matanya tidak bisa melihat, tapi aku mampu menerka kalau sekarang rona binar muncul dari dalam sana. “Bunga yang... tidak biasa,” lanjutnya.

       “Emm... kamu tahu udumbara?” tanyaku ragu, kemudian dibalas gelengan kecil oleh Retina. Punggungku bersandar pada kursi lalu menghirup napas dalam. “Udumbara adalah bunga yang melambangkan kebenaran. Tidak tumbuh di tempat biasa, seolah-olah ia berasal dari dunia lain, mungkin surga. Datang membawa kedamain bagi umat manusia,” jelasku.

      “Tidak tumbuh di tempat yang biasa? Lalu, apakah mungkin aku bisa mendapatkan bunga itu darimu?” sela Retina.

      Entahlah, Retina. Bunganya sangat kecil, hampir tak kasat mata. Tidak seperti kebanyakan bunga lainnya, udumbara bisa tumbuh dan mekar di logam, cermin, bahkan hidup di tanaman lain. Itu bunga legendaris, dan menurut legenda pula kalau bunga udumbara hanya mekar satu kali dalam 3000 tahun. Banyak orang yang beranggapan kalau bunga ini hanya mitos. Tapi, ternyata udumbara memang ada walaupun sulit sekali mencarinya.” Aku mengakhiri cerita dan beralih pandang ke arah Retina. Namun, yang kudapat justru kesedihan di pelupuk mata gadis berbandana itu. 

      “Bunga yang melambangkan kebenaran ya?” Ia tertunduk lesu. “Raka, apa mungkin ia bisa tumbuh pada kulitku atau setidaknya tumbuh di sekitarku saat nanti kematian menjemput gadis buta ini? Walaupun aku tidak bisa melihat, tapi rasanya ingin sekali aku menyaksikan keindahan bunga itu,” ungkapnya makin sedih.

      “Kamu akan melihat bunga udumbara, Retina! Aku janji!” tanpa pikir panjang, kalimat ini terlanjur keluar dari bibirku. 

      Bunga yang 3000 tahun sekali baru mekar, harus berapa kali aku hidup lalu mati kemudian hidup lagi untuk bisa menemukan bunga ini? Pikirku kecut.

      ***
      Stasiun Tawang, Semarang, Juni 2015. 

      “Dan sampai sekarang, Raka belum bisa menepati janjinya untuk membuatku melihat bunga udumbara. Bahkan, laki-laki bodoh itu pun pergi entah ke mana,” lirih Retina, ia menangis sedu-sedan.

      Hebat. Aku berani memeluk erat tubuh Retina untuk pertama kalinya setelah mengenal gadis ini selama setahun. Kemudian, dahinya kukecup lembut. Dan entah sejak kapan, kini bibir kami sudah berpagut satu sama lain. Aku bisa merasakan ranum bibir merah dan tipis itu. Mata retina terpejam, dan aku pun akhirnya ikut memejamkan mata. Lambat laun, tangis gadis berbandana ini redam dalam ciuman hangat kami. Cukup lama kami memainkan lidah satu sama lain, sebelum akhirnya ia membuka mata, dan perlahan menjauhkan wajahnya dariku. Pipinya bersemu merah. Namun, kemudian berganti pucat. Tak berwarna.

      “Zuar. Emm... aku ingin bertanya sesuatu,” ucapnya kaku.

      “Kamu mau nanya apa, Na?” tanyaku heran. Sedikit gugup juga saat melihat raut serius di wajah Retina.

      “Menurut kamu, cinta itu ada berapa jenis, Zuar?” Ia tertunduk. Jarinya saling menekan satu sama lain.

      “Jenis? Sejak kapan cinta itu berjenis?” tanyaku sedikit bingung. Aku mengambil Dochi dan menaruhnya di pangkuanku.

      “Bukannya manusia itu suka mengkotak-kotakkan sesuatu? Termasuk cinta, kan?” Retina mendengakkan kepala.
       
      Hening. Hari sudah mulai gelap.

      “Coba aku balik dulu ya pertanyaannya. Menurut kamu, cinta itu ada berapa jenis?” tanyaku perlahan.

      “Banyak. Cinta secara universal memang satu jenis, yaitu rasa. Tapi, sedihnya, cinta itu mengikuti kelogisan dan kenormalan yang padahal manusia sendiri penciptanya, atau mungkin ada juga yang mengatasnamakan agama. Tidak semua manusia bisa beruntung mendapatkan bentuk cinta yang dianggap normal, seperti ; cinta beda agama, cinta beda usia, cinta pada saudara kandung, cinta terlarang sama orang tua, cinta dan ketertarikan seksualitas terhadapan hewan, benda mati, ada juga cinta sesama jenis, dan juga terlalu mencintai diri sendiri. Cinta itu banyak jenisnya, kan?. Bagaimana menurutmu?” Retina menarik napas panjang. Seperti ada gemuruh di dadanya. 

      “Aku tipe orang yang tidak suka mengkotak-kotakkan sesuatu. Kesemua itu pada dasarnya kan sama saja. Cinta beda agama, cinta beda usia, cinta sesama jenis, semua itu adalah cinta. Perasaan cinta yang mereka punya sama, kan? Sama-sama merasa terobsesi ingin memiliki. Kebanyakan orang berkata kalau ‘cinta tidak harus memiliki’ menurutku itu hanya alasan orang-orang yang gagal berjuang buat cintanya.” Aku bertopang dagu. Sedang berpikir kenapa Retina menanyakan hal ini padaku.

      “Atau mungkin... dia sadar kalau cintanya hanya menimbulkan sesuatu yang tidak baik jika keduanya bersatu. Sebab, di zaman sekarang itu aneh, cinta bukan lagi zat tertinggi yang menimbulkan kebahagiaan. Tapi, zat kebahagiaan tertinggi itu adalah pandangan orang lain. Bayangkan seberapa banyak cinta yang gagal atau pun berhasil karena pandangan orang lain?” kembali, mata gadis yang sudah satu tahun ini mengisi hatiku akhirnya menangis pilu. Ia menggigit bibir bawahnya. 

      “Kamu kenapa, Retina?” Aku bergeser mendekat ke arahnya.

      “Sini tangan kamu, Zuar.” Retina mengulurkan tangan kanannya untuk menunggu sambutan tanganku. Walaupun masih tidak paham kenapa gadis ini bersikap aneh seperti sekarang, namun, aku menyambut uluran tangan tersebut. 

      Tangan kanan kami menyatu. Jari-jari mungil Retina bergerak maju membimbing lenganku menyentuh..., dadanya! Aku tercekat. Hampir saja kedua bola mataku terlempar dari singgasana tempatnya. Gadis ini membimbingku untuk menyentuh... dadanya?! 

      “Re-re-tina,” aku meneguk liur yang terasa keluh.

      Ternyata rasa terkejutku tidak hanya sebatas ini. Ketika Retina mulai berbicara dengan nada yang kembali lirih.

      “Ini palsu, Zuar.” Ia menggerakkan tangan kirinya masuk ke dalam dua bongkahan dada lalu mengeluarkan gabus dari dalam sana. 

      Remuk sudah sendi di semua tubuhku saat Retina makin mempererat sentuhan lenganku di dadanya yang kini rata. Benar-benar rata! Apa cintaku akan menguap begitu saja ketika mengetahui fakta kalau Retina tidak memiliki dada yang selama ini ada di imajenasiku?!

      “Se-se-sejak kapan, Na? Kamu sakit apa hingga... bagian itumu harus diamputasi?” mataku memerah. Sedih.

      “Bukan sakit. Aku begini karena... aku adalah laki-laki, Zuar. ” 

       Aku berani bersumpah kalau fakta ini adalah kabar terburuk yang pernah kudengar seumur hidupku. Retina adalah laki-laki? Sekuat tenaga aku berusaha agar air yang mulai menggenang di pelupuk mata tak tumpah dan menunjukkan tanda kelemahan. Bahuku bergetar hebat. Gigi mulai bergemetak satu sama lain. Rahangku mengencang. 

      “Kamu bohong kan, Na?! Lalu siapa Raka yang selama ini kamu tunggu itu? Bukankah dia juga laki-laki?!” pitamku sedikit meningkat. 

      “Maaf, Zuar. Aku tidak pernah menyangka kalau kamu datang dan mulai mengubah skenario yang terlanjur kubuat. Aku adalah Raka,” tangisnya makin pecah. Bahu kecil itu berguncang hebat. Sementara Dochi mengigit-gigit kecil rok yang Retina pakai. 

      “Tidak! Jadi, selama ini aku mencintai seorang... laki-laki?” aku menyerah. Airmata meluncur dengan bebas, mengalirkan rasa perih yang tertampung amat menyiksa dan membuat ulu dada sakit. Rasa sakitnya terus menyiksa dada bagian kiriku. 

      “Retina meninggal dua tahun yang lalu. Ia menyembunyikan sakit yang dideritanya padaku hingga meninggal dalam rasa sepi kesendirian. Terbaring di pembaringan seorang diri, tak ada satu pun yang menemaninya. Ia meninggal bahkan sebelum aku sempat menunjukkan kalau bunga udumbara memang benar-benar ada. Tapi biarlah, mataku sudah bersamanya, dia akan menyaksikan keindahan udumbara di surga sana. Yah, aku memberikan indera pengelihatanku padanya beberapa hari sebelum ia menyatu dengan tanah. Hari itu, untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajahku,” Retina––maksudku, Raka–– berhenti sejenak, ia berusaha meredam tangisnya, “Tapi hatiku berkata lain, Zuar. Aku tidak rela akan kepergiannya dan kemudian diriku menjelma menjadi sosok Retina. Sekarang aku buta, dan karena kebutaan inilah aku menyadari dan bisa memahami kalau cinta itu bersemayam di hati dan jiwa, bukan fisik! Aku tidak peduli kalau kita adalah laki-laki. Karena aku mencintaimu, Zuar”

      Retina atau pun Raka, yang jelas sekarang sosok rapuh itu berjalan menjauh meninggalkanku. Ia tertatih bersama Dochi di sampingnya. Sementara aku? Hanya bisu! Kakiku membatu, rasanya ia terlalu kecil untuk menampung beban di hati. Apakah cintaku hanya seperti ini? Bukankah aku berkata kalau tidak suka mengkotak-kotakkan seusatu? Cinta adalah cinta! Bagaimanapun bentuknya. Tapi, kenapa ini sulit sekali saat menyadari kalau dia bukanlah wanita. Ternyata, aku hanyalah mencintai fisiknya saja, bukan sama sekali raganya. Cinta kasih yang kutanam, kupupuk, dan kupelihara sendiri, kini kandas hanya karena batas kenormalitasan. Siapa yang membuat garis kenormalitasan itu?!

      “Reti... emm, maksudku Raka. Tunggu!” pekikku padanya yang berhasil menghentikan langkah laki-laki itu. 

      “Sebelumnya, kau berkaata kalau udumbara itu bunga kecil yang hampir tak kasat mata, kan? Apa bunga itu berwarna putih?” tanyaku sedikit heran saat melihat pohon yang biasanya menjadi tempatku dan dia berteduh kini ditumbuhi sesuatu berwarna putih hampir disemua bagian batangnya. 

      “Bagaimana kau tahu, Zuar?” Raka berjalan pelan ke arahku.

      “Sekarang, bunga udumbara itu memenuhi semua batang pohon ini, Raka.”

      Laki-laki berbandana itu tersenyum. Aku melihat bagian dadanya yang kini rata, selebihnya ia masih seperti Retina yang kukenal!

      “Kau melihat bunga udumbara-nya kan, Retina? Bunga itu benar-benar ada.” Raka tersenyum dan airmata makin deras di pipinya.

      “Tunggu. Bukankah permintaan dari Retina yang asli adalah ia ingin melihat udumbara tumbuh di kulit atau hidup di sekitar jasadnya, benar?” tanyaku ngeri.

      “Kau benar!  Jasad gadis itu terkubur di bawah kursi tempat duduk kesayangan kita, Zuar.”

      -END-


      NB : Terimakasih buat Rofie Khaliffah dan TanGi yang udah jadi teman sharing.


      BIODATA

      Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky Douglas,  Twitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.

                 
    • Posted by Ricky Douglas
    • 10 Comments
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Cerpen Pilihan Kloter Kedua

Popular Post

Followers

Definition List

Powered by Blogger.

- Copyright © 2013 Kampus Fiksi 11 - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -